Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
23


Rindu


Rindu cintamu


Rindu kasihmu


Rindu perhatianmu


Rindu senyum tawamu


Rindu kamu


Rinduku adalah takutku


Takut akan perpisahan


Takut akan kehilangan


Takut tanpa dirimu lagi


Sebagian relung hati ini hanya terisi oleh rindu. Rindu yang menyiksa jiwa ragaku. Rindu telah mengambil kecerianku. Rindu mengalihkan pikiran dan duniaku. Kadang aku hanya akan melamun memikirkanmu di sepanjang hari. Rindu ini semakin menggebu.


"Mas reihan aku rindu." Sudah hampir dua bulan kita break. Apa kabarmu di sana mas, kenapa belum juga mengabariku? Apakah semua yang ku takutkan benar-benar terjadi? Apa dua berhasil memisahkan kita dengan cara yang sangat hina? Aku ingin tau , tolong muncullah di hadapanku beritahu aku kalau itu hanya sebuah ketakutanku saja.


Ku tatap layar hpku yang terpampang wajah tampan tunanganku,reihan. "Mas, apa kamu rindu padaku? Apa kamu masih mencintaiku seperti kemarin ?"


Aku masih terus berharap kalau Allah akan mengizinkan kita manua bersama. "I love you mas reihan."


Aku berusaha mengusir rindu dengan sibuk di kampus walau kadang aku merasa terganggu dan risih karena ada beberapa cowok yang mendekatiku terlebih ada seorang dari masa lalu yang membuat aku takut dan benci. Namanya Rian,dia adalah anak bungsu dari tante Mira,wanita yang pernah menjadi istri ayahku. Rian dendam dengan ayah karena menganggap ayah telah membawa ibunya pergi sehingga dia harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Karena itu dia ingin balas dendam dengan terus menggangguku dan menghancurkanku. Dia adalah orang yang sama dengan orang yang hampir melecehkanku saat SMP dulu. Untung saja waktu itu mas reihan menolongku tepat waktu,kalau tidak aku pasti sudah hancur saat itu.


Aku kira Rian sudah melupakan dendamnya,tapi ternyata dia masih terus mengingatnya dan masih menggangguku bahkan berniat menghancurkanku untuk kedua kalinya.


Dunia memang begitu sempit sehingga dari sekian banyak universitas aku harus sama - sama berkuliah di universitas yang sma dengannya."Ya Allah lindungi aku dari orang-orang yang berniat jahat padaku."


Pagi ini aku berangkat ke kampus lebih awal, kampus juga masih sangat sepi. Aku bergegas menuju perpustakaan untuk meminjam buku ,hanya ada penjaga perpus dan seorang dosen muda bernama pak surya di sana. Setelah menemukan buku yang aku cari aku duduk untuk membaca sebuah novel yang menarik perhatianku kala sedang mencari buku tadi. Namun tiba-tiba ada seorang yang membekap mulut dan hidungku dengan sebuah kain ,aku tidak bisa melihat orang itu,aku merasa kepalaku mulai pusing dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.


Ketika aku sadar,aku tidak lagi di perpus melainkan di sebuah ruangan yang sangat pengap dan kotor,tangan dan kakiku terikat dengan tali. Aku berusaha untuk melepaskanya , tali di tanganku mulai longgar tapi tiba-tiba ada seorang yang mendekatiku.


"Hai cista,lama kita tidak bertemu,kamu semakin memesona ,tapi sayang itu semua tidak bisa menghilangkan dendamku pada ayahmu. "


"Apa maumu?"


"Aku ingin menghancurkanmu,dengan begitu ayahmu akan lebih hancur dan terluka."


"Hahahahahaha, andai kamu bukan anak handoyo aku pasti akan menjadikanmu istriku. Kau begitu cantik dan pemberani,mambuatku tertantang." Ucap rian sembari membelai wajahku.


Aku meludah,"jangan mimpi. Lepaskan aku b*****n."


"Hust,diamlah cista aku ingin mencicipi tubuhmu , diam dan nikmati saja, kau membuatku bergairah."


"Tidak, aku mohon lepaskan aku, lebih baik kau membunuhku daripada melakukan ini."


"Tidak cista, aku ingin melakukannya seperti ini dengan begitu kamu akan hancur."Ucapnya sambil terus mencumbuku dari wajah hingga sekarang leher. Aku berteriak meminta tolong,berharap akan ada yang menolongku.


"Tolong,tolong,tolong. Hikshikshiks. Mas reihan tolong aku. Mas reihan."


Bagaikan sedang menonton drama korea saja ketika apa yang aku harapkan terjadi di depanku. Mas reihan datang menolongku. Ya,Aku melihat mas reihan berjalan mendekat ke arahku dengan wajah yang memerah karena amarah yang telah membuncah,tangannya mengepal kuat menahan amarahnya.


"Mas reihan,aku tau mas akan datang menolongku. Mas tolong aku."


Rian menghentikan cumbuannya. "Jangan mendekat reihan,kau lupa istrimu sedang hamil. Jangan ikut campur lagi urusanku dengan cista, cista itu hanya mantan tunanganmu bukan."


"Apa maksudmu rian?" Tanyaku dengan air mata yang terus mengakir deras.


"Hahahaha ini yang aku tunggu-tunggu menghancurkanmu tanpa harus turun tangan langsung. Tunanganmu itu sudah menikah dengan sepupuku Rita. Hancurlah cista aku menunggu kehancuranmu." Ucap rian sebelum pergi meninggalkan aku dan mas reihan.


Mas reihan tetap bungkam, menghampiriku dengan bungkam, berarti benar dia sudah menikah dengan rita. Ketakutanku menjadi kenyataan, ya tuhan apalagi ini, sanggupkah aku melewati ini sekarang. Melepaskan orang yang sangat aku cintai demi seorang anak tak berdosa.


"Cista ."


"Jangan bicara mas,aku ingin kamu tetap diam."


"Baiklah mas anter kamu pulang. Tanyakan apapun nanti setelah kamu siap untuk bertanya, mas akan jawab semuanya."


Kepalaku pusing dan aku kembali pingsan,mas reihan menggendongku dan mengantar aku pulang.


Dear cistaku


Cista,sebenarnya dosenmu yang bernama surya adalah temanku dialah yang memberitahuku bahwa rian mengganggumu,dia menelponku dan akhirnya mengikuti kemana rian membawamu ,dia berusaha mengawasi sampai aku datang. Aku merasa tenang ketika tau dia mengajar di kampusmu ketika itu juga aku meminta tolong padanya untuk menjagamu.


Maafkan mas reihanmu karena tidak bisa menua bersamamu,mungkin kita memang bukan di takdirkan untuk itu.Di dunia ini kita memang tidak bisa bersama namun semoga di akhirat nanti kita bisa bersama.


Simpanlah cincin tunangan kita dengan baik,mas akan buktikan kalau anak itu bukanlah darah dagingku. Setelah anak itu lahir mas akan melakukan tes DNA, tunggulah sampai saat itu mas akan kembali padamu. Tapi jika Allah berkehendak,jika tidak maka tolong lupakan aku carilah laki-laki yang lebih baik dariku. Yang mampu menjagamu setiap waktu. Aku mencintaimu cista, sampai jumpa.


Aku sudah ada di kamarku ,aku kembali menangis ketika membaca note yang mas reihan tinggalkan di atas meja samping tempat tidurku. Aku merasa kali ini Allah tidak adil padaku. Aku mengurung diri di kamar hingga sebuah telp membuatku berteriak histeris.