Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
40


Hak asuh Dimaz sudah didapatkan tapi aku belum juga mendengar suamiku menceraikan Amira. "Apakah aku yang harus mengalah dan mundur?" Batinku. Aku bingung,langkah apa yang harus aku ambil. Apa aku harus mengorbankan perasaanku dengan rela di madu demi kebahagian semua orang karena aku yakin jika kami berpisah orang tua kamu akan terluka . Atau aku harus mengajukan gugatan perceraian demi tidak merasa sakit hati yang artinya untuk kebahagianku sendiri.


Sore itu aku sedang belanja bulanan di supermarket dekat rumah,jaraknya hanya satu kilometer dari rumah. Dekat kan,atau jauh,aku pikir itu dekat,hehehe. Setelah semua kebutuhan terbeli dan terbayar aku menuju foodcourt di lantai paling atas, ya aku butuh sedikit bersantai di luar rumah apalagi kalau ditemani satu cup lemon tea, huuuuuhh nikmat. Pandanganku tiba-tiba terfokus pada seorang wanita yang sedang berjalan ke arahku, aku menutupi wajahku dengan majalah yang baru ku beli. Ia duduk tak jauh dari mejaku, cukup jelas untuk mendengar setiap obrolannya bersama dengan seorang laki-laki. Tampaknya ia datang bersama kekasihnya.


"Sayang kapan kamu bercerai dengan suami sirihmu itu?"


"Kamu yakin ingin aku menceraikannya? Terus dari mana kita dapat uang?"


"Aku sudah bekerja di cafe , aku rasa itu lebih dari cukup untuk kita hidup berdua."


"Aku tidak mau hidup susah."


"Aku berjanji tidak akan membuatmu hidup susah asalkan kamu setia sama aku."


"Oh ya dengan cara apa, berapa gajimu hingga berani berkata begitu, apa itu bisa menjamin semua yang aku inginkan akan terpenuhi?"


"Amira sampai kapan kamu akan berbuat jahat seperti ini,menyakiti hati sesamamu, kamu merendahkan dirimu sendiri. Berhentilah sebelum karma datang."


"Sudahlah ngga usah ceramah, aku akan tetap bersama Dzaky dan merebut cafe miliknya."


"Kamu tau cafe itu bukan milik Dzaky, tapi milik istrinya yang diwariskan oleh kak Reihan."


"Aku tidak peduli milik siapa, suatu hari nanti semua itu harus jadi milikku."


"Amira aku mohon berhenti."


"Tidak akan, ini keputusanku, kalau kamu mencintaiku dukung aku ."


"Astagfirulloh Amira."


Aku meletakan majalah di atas meja lalu berdiri sambil bertepuk tangan menghampiri Amira , rekaman di hpku juga belum aku matikan.


Prok prok prok prok prok," hebat sekali teh amira, aku fikir kamu wanita cantik yang berkelas tapi ternyata kamu hanya seorang sampah, hama, parasit dalam kehidupan orang lain. Untung saja saya tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan ternyata Allah menyayangi saya, tanpa harus saya lelah mencari bukti kalau kamu orang jahat, Allah sendiri mengirimmu mendekat padaku dengan pengakuanmu. Hebat bukan kuasaNya, kamu masih mau melawanNya? Manusia macam apa kamu? Dengar baik-baik ,Mas Dzaky maupun cafe yang kamu inginkan itu tidak akan pernah kamu dapatkan, semua itu adalah hakku secara sah dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil milikku. Benar kata kekasihmu itu, berubahlah jadi lebih baik sebelum karma menghampirimu. Dadah." Aku melambaikan tangan dengan gaya mengejek.


**********


Ada sesal dalam hatiku karena terus mendiamkan suamiku, aku mengiriminya pesan agar dia cepat pulang. "Mas cepat pulang,aku menunggumu."


*******


Aku mencoba menerima dan menganggap Dimaz seperti anakku sendiri, ya dia sudah tinggal bersama kami setelah hakim memutuskan kalau hak asuhnya jatuh ke tangan suamiku.


Aku mengajak Dimaz menunggu Mas Dzaky pulang sambil menata meja makan karena sudah hampir maghrib. Kami selalu makan malam usai shalat maghrib.


Seperti biasa setelah makan aku mencuci piring, menggosok gigi,cuci muka, berwudhu lalu membaca al-quran sambil menunggu waktu isya tiba. Usai shalat isya aku duduk di ranjang ,mengirim sebuah pesan agar Mas Dzaky datang ke kamar. Tak lama pintu kamarpun terbuka, "sejujurnya aku sangat merindukanmu mas,tapi gengsi ah ,hehehe",batinku.


"Sayang apa kamu sudah memaafkanku?" Tanyanya saat sudah duduk di sampingku ,menatapku dengan penuh rindu."Sayang berhentilah marah, aku tersiksa jika terus didiamkan seperti ini."


"Mas,kenapa?"


"Apa?"


"Ahhh,kamu pasti sudah tau semuanya ya? Ternyata lebih cepat dari dugaanku,kamu memang best."


"Kamu salah mas, aku tidak berusaha mencari tau semuanya, Allah punya rencana tak terduga untukku hingga tanpa sengaja aku tau semuanya."


"Apapun itu, kamu tetap best, jadi kamu sudah memaafkanku kan?"


"Ya tapi jika kamu sudah menceraikan Amira."


"Ok,besok semua akan selesai."


"Kenapa kamu begitu yakin?"


"Karena aku sudah melaporkannya ke polisi , dia mencuri di cafe bahkan tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Bahkan di tempat lain juga, dia itu ternyata ahli mencuri yank."


"Termasuk mencuri kesempatan untuk mengangkang di hadapanmu."


"Astaga yank, aku tidak melakukan itu, video itu editan. Aku bisa menunjukan yang asli kalau kamu mau."


"Mana?"


Dia mengambil laptop. "Ini ada dua video yang ini aku dapatkan dari hotel dan yang ini aku dapat dari Amira yang dikirim juga ke kamu. Aku hanya mengikuti alur yang dia buat agar dia tidak menyakitimu."


Setelah menontonnya akupun luluh, aku meminta maaf karena sempat tak mempercayainya.


Keesokan harinya Mas Dzaky mengajakku ke rutan untuk menemui Amira, di sana, seperti janjinya Mas Dzaky menalak Amira. Merekapun bukan suami istri lagi.


Aku lega sekali karena ternyata Maz Dzaky benar-benar sudah berubah,hubungan kamipun kembali hangat serta romantis seperti sebelum terjadinya huru hara ini. Aku jadi ingin cepat hamil dan memberikan adik untuk Dimaz , aku mulai menyayangi anak itu bagaimanapun juga ia tidak bersalah dan dia berhak mendapat kasih sayang kami.


"Mama ta, bolehkah aku tidur di sini?" Tanyanya saat berlari masuk ke kamarku. Itu panggilan khusus untukku maksudnya adalah mama cista.


"Eh, apa-apaan, tidak boleh dimaz."


"Kenapa yah?"


"Kamu ingin adik bayi kan?"


"Ya aku ingin memiliki adik bayi."


"Kalau begitu tidurlah di kamarmu, agar adik bayinya cepat jadi."


"Ayah ngga bohong kan?"


"Ayah janji."


"Oke." Dia berlari lagi ke kamarnya.


"Sayang, aku merindukanmu." Ucapnya sebelum bibirnya melahap bibirku, aku tau dia pasti tersiksa karena puasanya jadi malam ini aku ingin memuaskannya. Itu kewajiban seorang istri bukan? Sebenarnya aku juga sangat merindukannya. Aku sangat menikmati malam yang indah ini, begitu bergairah membuatku mabuk kepayang, sentuhannya mengalirkan aliran listrik ke dalam tubuhku yang kian memanas . Aku masih saja gugup jika seperti ini padahal kami sudah berbulan-bulan hidup bersama menjadi suami istri dan sering melakukannya ,ya walaupun sempat berpuasa selama masalah kemarin.