
Di Kota kecil bernama Banyumas aku di lahirkan dan di besarkan. Keluarga yang sedang-sedang saja,tidak kaya tidak pula miskin. Ayahku bernama Handoyo yang bekerja sebagai supir kontainer. Ibuku bernama Risma seorang pedagang atau biar keren seorang wirausaha kecil,hehehe.
Aku anak bungsu dari 3 bersaudari, kakak pertamaku bernama Clara yang telah menikah dengan seorang laki-laki bernama Yahya dan memiliki seorang putri kecil namanya Mega. Kakak keduaku bernama Citra yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Aku sendiri bernama Cista Putri Handoyo, aku kelas 1 sekolah dasar. Walaupun aku bungsu tapi orang tuaku tidak pernah memanjakanku,aku selalu dididik untuk mandiri dan disiplin. Itu sebabnya aku selalu meraih juara kelas,selain karena cerdas tentunya.
Kehidupan kami sama seperti keluarga pada umumnya, kadang bahagia kadang juga sedih. Tak jarang pula aku melihat perdebatan orang tuaku. Kurangnya komunikasi membuat mereka sering bertengkar,ayahku jarang dirumah karena tuntutan pekerjaanya terlebih ibuku juga sibuk dengan usahanya.
Seperti pagi ini aku melihat ibuku menangis di sampingku yang baru saja membuka mata. Ia tampak sedang bercerita pada kak Clara tentang ayah yang kembali menjalin hubungan dengan perempuan lain. Kesalahan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu saat aku masih bayi. Aku mengetahui itu dari sebuah buku harian yang tersimpan di lemari dibawah pakaian ibuku. (Aku memang anak kecil yang kepo,hehehe)
Perselingkuhan ,siapapun wanita di dunia ini pasti akan terluka jika suaminya memiliki wanita idaman lain,termasuk ibuku. Untuk kesekian kalinya ia harus terluka karena kenakalan ayah. Ia tampak sangat terpukul hingga ia nekat meminum segelas racun.
Tapi 30 menit setelahnya ibuku mengeluh tidak bisa melihat, mulutnya mulai membiru dan mengeluarkan busa dengan terus mendekapku dalam pelukan hangatnya. Aku berteriak memanggil kak Clara yang langsung menyuruhku pergi kerumah tetangga untuk meminta pertolongan. Akupun pergi ke rumah om sudir untuk memintanya mengendarai mobil ayah mengantar ibu ke rumah sakit.
Aku baru tau jika yang tadi ibu minum adalah racun setelah mendengar penjelasan dari dokter. Aku merasa bersalah dan bodoh atas apa yang terjadi pada ibuku. Aku menangis sambil terus berdoa memohon keselamatan untuk ibuku.
Selang dua jam setelah tiba di rumah sakit ayahpun datang. Itu berarti om herman berhasil menemukan keberadaan ayah yang pergi dari rumah saat bertengkar tadi malam. Ayah tampak sangat menyesal tapi sesalnyapun tiada arti di mata kami. Kalau sampai terjadi apa -apa dengan ibu, kami akan sangat membencinya. Kami akan sulit untuk memaafkan kesalahannya kali ini,ia melukai ibu itu berarti melukai kami anak-anaknya. Kak Clara yang paling tidak bisa menahan emosi hingga ia berbuat brutal memukuli ayah di depan ruang rawat ibu. Ayah tampak hanya diam menerima segala amukan kak Clara dan Om Herman.
Om Herman adalah adik kandung ayah satu-satunya. Ia di asuh oleh ayah dan ibuku sejak Smp,sejak kakek dan nenek meninggal dua hari setelah pernikahan orang tuaku. Ia sangat menyayangi ibuku melebihi rasa sayangnya pada ayah yang notabennya kakak kandungnya. Ya itu wajar karena ibuku adalah malaikat tak bersayap , ia penuh dengan kasi sayang dan cinta selain cantik tentunya hihihi.
Kami masih menunggu perkembangan ibu dengan cemas, kata dokter racunnya sudah menyebar dan kecil kemungkinan untuk ibu bisa selamat.