
intermezo
Sebenarnya cerita ini aku tulis waktu sma untuk ujian praktek menulis, tapi bukunya hilang entah kemana saat kakakku pindah rumah. Aku menulis ulang dan sedikit mengubah alur ceritanya biar panjang.
Kurang PD aku,hehehe tapi aku harus belajar bukan? Aku hanya ingin terus belajar mengembangkan hoby menulisku,seperti kata seseorang beberapa tahun lalu. Guru bahasa indonesiaku D.R, aku kasih inisialnya saja ya,hehehe.
Masih banyak sekali kekurangan dalam novel ini,aku harap setiap yang mampir membaca novelku tidak lupa untuk memberi saran positif agar tulisanku lebih baik lagi ke depannya. Eits,tapi jangan lupa juga dong vote,jempol serta lovenya. Hehehe. Agar aku semakin semangat nulis dan belajar lebih baik lagi. Terima kasih.
**************
"Sayang aku berani bersumpah kalau itu foto lama." Kata Mas Dzaky ketika aku menanyakan sebuah foto yang dikirim seseorang kepadaku setelah acara lamaran selesai.
"Buktinya?"
"Lihat semua foto di sosial mediaku yank."
"Oke. Tapi kalau itu terbukti foto baru gimana?"
"Sayang percaya deh sama aku."
"Aku lihat dulu." Beberapa saat kemudian ."Mas,apa-apaan ini? Kenapa semua foto mantan kamu tersimpan rapi di IGmu?"
"Hehe,maaf yank, aku janji setelah ini dihapus semua, aku hanya akan menyisakan foto kita dan keluarga."
"Hishhh dasar, tapi kamu benar-benar udah ngga playboy kan mas?"
"Ya Allah sayang, aku sudah berubah suer. Sejak dekat sama kamu aku sudah maninggalkan semua kehidupan burukku."
"Benarkah? Mas yakin?"
"Yakin yank."
"Kalau suatu hari nanti kamu ketahuan berbohong bagaimana?"
"Kamu boleh menghukumku sesuka hatimu,tapi jangan pernah berfikir untuk lari dan menjauh dariku, jangan pernah meninggalkanku."
"Sejujurnya aku takut mas,aku takut kecewa dan terluka . Baru beberapa hari kita lamaran tapi sudah ada yang berusaha menghancurkan hubungan kita, bagaimana setelah kita menikah nanti, terlebih mantan-mantanmu yang banyak itu."
"Sayank,aku sudah memilihmu,bahkan dari dulu hatiku telah memilihmu,ya kan?"
"Ya sih."
"Maka jangan pernah takut aku akan berpaling karena kamulah pemilik hatiku."
"Ok, aku pegang kata-katamu mas."
"Aku dalam perjalanan ke Banyumas nih yank,kamu kapan?"
"Loh,kok sama?"
"Kamu sampai mana?"
"Tunggu aku shareloc ya."
"Oke." Diapun menerima pesanku dan mengetahui keberadaanku. "Sayang tunggu aku di sana, 10 menit aku akan sampai di sana."
"Oke."
10 menit berasa satu jam,hehehe. Mungkin karena aku terlalu merindukannya.
"Paman aku ngga mau bakso yang itu?"
"Lalu?"
"Paman semakin tua ya?"
"Aish,anak kurang ajar."
"Hehehe, lagian , paman tadi aku kan pesannya mie ayam bakso."
"Ohhh,mungkin memang paman sudah tua."
Hahaha. "Tolong di ganti ya mang,keponakanku yang cantik ini ingin mie ayam bakso rupanya."
"Aduuuuhh ma,sakit kenapa mama selalu njewer telingaku,aku bukan anak kecil lagi."Kata Mas Dzaky saat telinganya kena tarik oleh mama karena memeluk dan mencium pipku tiba-tiba ketika mereka baru saja sampai.
"Kalian belum muhrim dzak."Ucap papa har.
"Papa ngga pernah muda ya?"
Hahahahahaha,"sabarlah 10 hari lagi kan kalian sudah sah."
"Papa mah ngga pengertian." Jitakan di kepalapun akhirnya di dapat Mas Dzaky dari paman. "Auhhh paman sakit. Oke ,ok aku mengalah,hehe."
"Sayang,ayo kita pindah tempat duduk."
"Kenapa mas?"
"Biarkan para orang tua itu ngobrol,hehe."
"Bilang saja ingin berduaan." Sela pamanku.
"Paman pintar deh, jadi makin cinta deh, love love love paman." Jawab mas dzaky.
"Dasar bocah gendeng. Sudah pindah sana bawa calon istrimu sebelum aku melarang."
Hahahaha. Tawa kami serentak hingga memenuhi warung bakso itu.
Aku dan Mas Dzakypun pindah tempat duduk. "Sayang setelah hari ini kita tidak bisa bertemu lagi hingga hari akad."
"Ya mas aku sudah tau,kita akan di pingit."
"Aku pasti merindukanmu."
"Gombal. Kan mas masih bisa memandang foto-foto mantan."
"Sayang aku sudah hapus semuanya,jangan bahas lagi."
"Masa?"
"Untuk kamu apapun akan ku lakukan."
"Tapi aku tidak menyuruhmu menghapus semua foto itu."
"Ya juga ya.Tapi aku ingin menjaga hatimu, lagian itu memang masa lalu."
"Mas aku ngga keberatan dengan masu lalumu sama seperti kamu yang mau menerima masa laluku."
"Ya ya,sudahlah ,sekarang kita makan siang dulu."
"Ma pa, aku ingin berdua dengan cista hari ini saja ya,pleace."
"Gimana pa?"
"Ya sudahlah kasihan takut anak kita sakit karena merindu saat di pingit nanti."
"Terimakasih pa."
"Sayang aku ikut mobil kamu."
"Ayo atuh buru."
"Kalau begitu paman ikut mama papamu saja, paman tidak ingin menjadi baygon."
"Hushhush,sana-sana." Canda mas dzaky.
"Dasar kurang ajar."
"Pis, gurau je." Jawabku.
"Kalian memang upin ipin yang sangat kompak. Hati-hati dzak,mobil paman belum lunas."
"Tenang paman,semua aman kalau sama dzaky."
Hari yang indah, saat aku bersama dia semua terasa menyenangkan dan indah. Dia selalu bisa membuatku tertawa,saat aku kehilangan mas reihanpun dia selalu ada,pokoknya dia adalah pelipurku obatku. Mungkin inilah yang dinamakan takdir,seberapa keras aku berusaha untuk menolaknya justru membuatku semakin jatuh dan bergantung padanya,membutuhkannya.