
Pukul 04.48,aku tengah mengumpulkan seluruh kesadaranku dari tidur malam . Ku langkahkan kakiku menuju tempat wudhu di mushola kecil rumahku. Ku laksanakan 2 rakaat wajibku dengan khusuk. Usai itu aku kembali ke kamar,ku buka jendela .
Ku tatap jingga pagi nan indah, burung-burung mulai bernyanyi menyambut mentari. Sejuk udara membuaiku, ku tutup mata ini, meresapi hembusan angin desertai tetesan embun, begitu menyejukkan.
30 menit berlalu mentari semakin tinggi,cerah dan menghangat. Indahnya pagi ini seakan pertanda bahwa alam ikut menyambut hari bahagiaku.
Tanpa terasa aku sudah sampai di sebuah titik yang di sebut pernikahan. Sebuah ikatan suci antar dua manusia yang saling mencinta. Janji pada Tuhan yang harus senantiasa kita jaga dan tepati hingga Tuhan sendiri yang memisahkannya dengan cara terbaiknya. Entah itu dengan sebuah kematian ataupun sebuah perceraian.
Aku berharap pernikahanku dengan Mas Dzaky ini akan berakhir dengan kematian salah satu dari kami. Semoga kami akan selalu bisa untuk mencintai,menyayangi,menghormati,mempercayai serta saling setia.
Akad nikahpun tiba, paman menjemputku di dalam kamar.
"Sayang."
"Ya paman."
"Sudah siap,semua sudah menunggumu di depan."
"Baik paman."
"Cista, setelah ini hidupmu akan berubah, kadang cerah ,kadang mendung, kadang hujan disertai badai dan petir. Ingat satu hal, sebesar apapun masalah yang akan kalian hadapi nanti kamu tidak boleh melangkahkan kakimu keluar dari rumah. Belajarlah mendewasakan diri bersama tanpa harus membesarkan ego diri masing-masing."
"Paman,terima kasih untuk segala yang paman lakukan untukku. I love you."
"Paman juga sangat mencintaimu,rasanya berat melepasmu untuk menikah hari ini."
"Paman , jangan membuatku menangis nanti riasanku rusak."
"Oke,paman akan berhenti karena malas menunggu lama jika sampai riasanmu rusak. Ayo kita keluar, pasang senyum paling menawanmu itu agar semua orang terpesona,hehehe."
Ayah tengah duduk tersenyum menyambutku.
"Dzaky Adelio Hartato bin hartato."
"Saya."
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Cista Putri Handoyo dengan mas kawin berupa sebuah rumah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Cista Putri Handoyo binti Bpk Handoyo dengan mas kawin sebuah rumah di bayar tunai."
Penggalan kata akad itu terdengar merdu di telingaku merasuk ke dalam lubuk hatiku. Hari ini aku menjadi seorang istri.
Setelah acara akad selesai kami mengambil sesi foto keluarga lalu kami berganti pakaian untuk acara resepsi. Setelah siap , rupanya, banyak temanku sudah datang begitupun dengan teman Mas Dzaky.
Kami berjalan beriringan memasuki ruang yang telah di dekor dengan sangat indah,semua mata tertuju pada kami yang telah menjadi raja dan ratu sehari.
Satu persatu tamu mendatangi kami untuk mengucapkan selamat sebelum mereka pulang setelah menikmati jamuan yang kami sediakan.
Usai Adzan ashar acarapun selesai kami melepas semua atribut sebelum membersihkan muka dari makeup, karena aku sudah sangat risih dengan muka bermakeup ini,hehehe,maklum ngga pernah makeup tebal seperti ini jadi ngga betah.
"Dzaky,cista makan. Kalian belum makan sejak siang."
"Tunggu ma, sebentar lagi."
Usai makan kami langsung berangkat ke rumah papa har di purwokerto karena besok siang akan di adakan ngunduh mantu di rumah neneknya mas dzaky yang letaknya tak jauh dari rumah papa har.
"Kalian langsung mandi dan istirahat ya, besok masih akan menjadi hari yang panjang." Kata mamah.
"Siap bos ."Jawab mas dzaky.
"Sayang mandi bareng yuk biar cepat."
"Iiiihh apaan sih mas, ngga lucu. Aku dulu yang mandi,titik ngga pakai koma."
"Ngga mau mas."
"Why?"
"Aku malu."
Aku langsung berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
Kupakai baju mandiku yang berbentuk seperti kimono. Aku berniat keluar dari kamar mandi, belum sampai selangkah aku keluar , aku sudah di hadang oleh suamiku,"hihihi suamiku."
"Mas lepas, aku mau pakai baju,buruan mandi sana. keburu larut malam."
"Aku sudah mandi di kamar sebelah."
"Kalau begitu lepas aku mau pakai baju."
"Ngga usah pakai baju, kamu lupa ini malam pengantin kita."
Blushh, pipiku memerah, aku jelas tidak lupa kalau malam ini malam pengantin kami, aku hanya gugup dan bingung harus bagaimana, hehehe.
"Kenapa pipimu?"
"Mas aku malu."
"Hey,jangan malu. Sekarang kamu istriku."
"Ya aku tau, tapi."
"Aku tau , tidak usah bicara ikuti saja aku dan nikmati."
Belum juga aku menjawab mulutku sudah tertutup oleh bibirnya. Ciuman ini terasa lebih lembut dari biasanya mungkin karena aku sudah tidak memiliki beban alias takut akan dosa, jadi lebih menikmati.
"Sayang."
"Hmmm."
"Aku mencintaimu." Ucapnya saat jeda ciuaman kami.
Ciumannya semakin lama semakin menuntut , tubuh kamipun sudah memanas berselimut kabut gairah yang selama ini kami tahan. Tangan kamipun mulai melepas sentuhan-sentuhan yang menyengat bagai teraliri listrik. Baju mandi yang tadi menutupi tubuh kamipun sudah lepas dan berserakan di lantai. Akhirnya aku melepas kesucianku pada suamiku,malam yang panjang penuh gelora cinta kami lalui dengan kebahagian.
"Terima kasih istriku."
Aku tersenyum menanggapinya. "Sama -sama suamiku."
"Kamu begitu memuaskan, aku begitu menyesali dosa-dosaku yang dulu. Maaf aku sudah tidak perjaka."
"Apaan sih mas."
Hehehe ,"aku hanya merasa buruk tapi juga merasa beruntung karena mendapatkanmu sebagai istriku. Terima kasih menjadikanku yang pertama untukmu."
Ku cium bibirnya agar diam dan berhenti bicara. "Diamlah mas. Ayo kita tidur."
"Tapi aku mau lagi."
"Besok saja setelah berada dirumah kita."
"Ok,tidak masalah,tapi aku mau memelukmu seperti ini sepanjang malam."Dia menarik tubuhku mendekat ,berhimpitan dengan tubuhnya yang masih berkeringat karena adegan panas tadi. Kamipun tidur saling berpelukan sepanjang malam.
Sehari setelah ngunduh mantu kami kembali ke Bandung untuk menyiapkan resepsi selanjutnya. Dengan waktu yang sangat sedikit kami berhasil menyiapkannya dengan sempurna. Semua acara berjalan dengan lancar, ya kehidupan barupun kami lalui dengan damai.