Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
18


Kami baru sampai di perbatasan tasik dan ciamis ketika mas reihan mengajak untuk mencari sarapan. Sebenarnya aku tidak suka makanan berat untuk sarapan tapi mas reihan memaksaku dengan alasan agar aku tidak pingsan di jalan ,hehehe. Padahal aku sudah terbiasa hanya sarapan sepotong sandwich dengan segelas susu atau sebutir telur rebus dengan sebotol yougurt selain itu kadang aku juga sarapan dengan roti gulung pisang dan segelas teh hijau dengan satu sendok teh gula sebagai sedikit penawar rasa pahit dari teh hijau.


"Sayang aku hanya ingin jus alpukat saja."Kataku agak memohon pada mas reihan.


"Tidak,kamu harus makan walau hanya setengah porsi."


"Tapi mas,ini masih terlalu pagi untuk makan mie ayam."


"Mas ngga mau tau kamu harus makan, mas takut kamu pingsan di jalan karena kelaparan. Apa kata ayah han,mama dan ayah har nanti."


"Baiklah tapi hanya setengah porsi."


Kemudian mas reihanpun memesan makanannya.


"pak mie ayamnya dua ya tapi yang satu mienya setengahnya saja,bisa kan?"


"Bisa mas,tolong tunggu sebentar ya!"


"Sayang tolong berhenti cemberut atau aku akan melahap bibir manyunmu itu di sini." Aku tidak ingin malu karena dicium di depan orang banyak jadi akupun mengukir senyum termanis yang ku punya tapi mas reihan tetap saja menciumku sehingga membuat orang-orang di sana tersenyum akan tingkah kami.


"Pengantin baru ya mas?"Tanya penjual mie itu saat mengantarkan pesanan kami.


"Calon pengantin baru pak,doain ya."


"Oh siap mas semoga lancar sampai hari H dan langgeng sampai maut memisahkan."


"Amin."


Satu jam kemudian kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju Banyumas. Jam 11.48 kamipun sampai di purwokerto, di rumah mas reihan. Rumahnya tak jauh dari Rita supermall salah satu perusahaan retail cukup besar di Banyumas. Sesampainya di rumah mamapun kaget dengan kehadiran kami, kami memang tidak memberi tahu siapapun bahwa kami akan pulang ke kampung.


"Cista kenapa tidak memberitahu mama kalau kalian akan pulang,terus kenapa kalian memakai motor?"


"Ini ulah mas reihan ma." Jangan heran kalau aku memanggil ibu mas reihan dengan sebutan mama. Karena kami memang sudah sangat akrab seperti anak dan ibu kandung. Aku sangat nyaman di dekat beliau seperti ada magnet di dalam diri kami yang saling tarik menarik dan ingin menempel ,hehe.


"Loh kok aku yank?"


"Siapa lagi kalau bukan mas reihan, kan mas yang ingin pakai motor agar bisa di peluk terus ,ngaku aja deh sama mama."


"hehehe."Mas reihanpun cengengesan.


"Reihan ,dasar anak nakal."Mama menjewer telinga mas reihan sampai merah.


"Mama sakit."


Hahaha ,kamipun tertawa bersama.


"Loh kak dzaky di rumah juga?"Tanyaku saat malihatnya turun dari tangga.


"Ya dong kan kakak ingin jadi orang ketiga dalam hubungan kalian,jadi kakak akan menguntit kemanapun kalian pergi. Lagian kenapa sih kamu mau sama orang udah tua kaya mas reihan?"


"Beraninya kamu mengataiku tua,aku akan potong uang jajanmu."


"Ngga takut weeeee,aku bisa cari duit sendiri."


"Dasar bocah,kemari biar ku jewer telingamu."


"Masa bodoh."


Aku dan mama hanya memandangi mereka sambil terus tertawa karena tingkah konyol dan kekanak-kanakan yang mereka lakukan.


Setelah itu mama menyuruhku untuk beristirahat di kamar mas reihan,bahkan beliau mengantarkan sekoper pakaian yang memang beliau beli dan siapkan untukku setelah aku dan mas reihan bertunangan. Sebelum beristirahat aku memutuskan untuk mandi karena badanku amat lengket, baru setelah itu aku berbaring di ranjang. Tadinya hanya akan berbaring saja tapi karena lelah jadi ketiduran deh,hehehe.


"Sayang bangun udah sore. Ayo kita malam mingguan."


Seperti biasa aku susah dibangunkan,jadi mas reihan selalu berbuat mesum untuk membangunkanku. Dia terus saja menciumiku hingga aku terbangun.


"Bangunlah yang lain sudah menunggu untuk pergi makan malam di luar."


"Siapa?"


"Semuanya."


"Jadi kita akan pergi rame-rame."


Mas reihan mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.


"Tunggu sebentar aku cuci muka dulu."


"Oke."


Akupun bergegas cuci muka dan memakai sunscreen tak lupa bedak bayi dan lip glos. Aku memang ngga pernah pakai makeup seperti cewek lainnya,bukan karena ngga bisa beli tapi karena aku memang ngga suka makeup.


"Ayo mas katanya udah di tunggu."


"haaah ya ya, ayo kita turun."


Kamipun makan malam di luar bersama mama,ayah har dan kak dzaky. Setelah makan mas reihan mengajakku ke rita supermall untuk bermalam mingguan.


"Kak reihan aku ikut,boleh atau tidak aku akan tetap ikut."


"Oke asal jangan mengganggu saja."


"Ya tenang saja aku cukup tau diri, aku akan nunggu jandanya saja,kelak saat kak reihan sudah tidak ada pasti cista mau sama aku, ya kan cis?"


"Ya ya terserah kalian saja."


Aku merasa sangat beruntung di cintai oleh dua laki-laki yang baik. Kak dzaky yang sangat menyebalkan saat di sekolah dulu ternyata menyimpan perasaanya padaku karena dia tau aku adalah cewek yang mas reihan tunggu-tunggu. Tapi ada waktu saat dia sudah tidak dapat memendam perasaanya padaku.


Flasback on


Waktu itu kak diva(orang yang selalu mengejar cintanya kak dzaky) mengunciku di gudang yang berisi ular berbisa saat acara kelulusannya kak dzaky.


"Kak dzaky liat cista ngga?"Tanya indah yang sedang panik mencariku karena sebentar lagi aku harus naik panggung untuk bernyanyi.


"Loh bukannya tadi di rung latihan."


"Ya tapi dia izin untuk ke toilet dan sampai sekarang belum kembali. Dia juga tidak ada di toilet,aku sudah mencarinya di semua toilet kak tapi ngga ada ,aku takut dia kenapa-napa ."


"Kita cari di tempat lain dulu,ayo!"


Merekapun mencariku,saat aku melihat mereka dari jendela akupun berusaha berteriak meminta tolong .


Allamdulillahnya mereka berhasil menolongku,walau aku sempat pingsan untuk beberapa saat.


"Cista bangun,aku mohon bangunlah,aku tidak ingin kehilanganmu. walaupun aku tidak bisa memilikimu tapi izinkan aku untuk terus melihatmu, cepat bangunlah,aku mencintaimu."


Indah tampak kaget mendengar pengakuan kak dzaky terhadapku begitupun denganku yang sebenarnya sudah sadar dari pingsan.


"Kak dzaky."


"Syukurlah akhirnya kamu sadar,kamu ngga di gigit ular kan?"


"Ngga kok kak ,aku hanya takut saja."


"Ya sudah, ayo kita ke aula lagi."


Kami bertigapun menuju aula dengan hening tanpa sepatah katapun. Aku masih tak habis fikir dengan perasaan kak dzaky terhadapku.