
Hari demi hari,bulan ke bulan hingga tahun terus berganti. Hidup yang penuh dengan kemuraman, senyum yang dulu terukir indahpun kini lenyap hilang bersama sang waktu yang terus berganti. Banyak sekali hal yang terjadi dalam hidupku,bahkan Kak Citra harus merelakan impiannya untuk kuliah demi kelanjutan sekolahku karena Kak Clara tidak sanggup jika harus membiayai sekolah kami berdua sekaligus. Kak Citra sekarang bekerja menjadi pengasuh anak di sebuah keluarga yang sangat kaya di kota Bandung, tak jauh dari rumah Kak Clara.
Sekarang aku sudah kelas 9,sebentar lagi aku akan menghadapi UN,jadi hari minggupun aku harus belajar mempersiapkan semuanya. Saat itulah aku dikejutkan dengan ucapan salam di balik pintu, kubuka pintu perlahan tanpa ku sadari air mataku menetes tat kala ku lihat sosok yang aku rindukan sekaligus aku sebal itu.
cista:"ayah!!!"
ayah: ( langsung menerkam tubuhku untuk di peluk), "maafkan ayah nak,ayah bersalah padamu."
cista:"tidak,aku benci ayah. Ayah tidak tau apa yang harus aku alami karena perbuatan ayah, ayah jahat. Aku benci ayah. Lalu aku berlari ke kamar, ku kunci diriku di kamar seharian, ku dengar ayah yang terus meminta maaf padaku di depan pintu.
Aku tau ini salah tapi ego ini belum bisa memaafkan segalanya,rasanya masih terlalu sakit. Bahkan sampai sekarang aku masih sering menerima ejekan itu "ayahmu pembawa kabur istri orang". Walaupun tak sesering waktu aku masih di SD tapi tetap saja aku sakit mendengar itu, aku belum bisa memaafkan ayah.
Sore hari ku berniat mandi, aku langkahkan kakiku untuk membuka pintu yang ku kunci tadi.
cista:" ayah." Rupanya ayah masih duduk di depan pintu kamarku, begitu ia melihat aku keluar iapun krmbali meminta maaf. Aku bingung,tapi aku juga tak bisa berbohong kalau aku merindukannya. "Beri cista waktu,tolong jangan seperti ini. Cista butuh waktu untuk memaafkan ayah." Lalu akupun menuju kamar mandi, sedangkan ayah berlalu ke kamar menemui tante Mira yang sekarang talah resmi menjadi istrinya.
Aku menangis lagi, bagaimana aku harus tinggal bersama wanita yang telah melukai perasaan ibu, bahkan wanita itu telah membuatku kehilangan ibu. "Ya allah, cobaan apalagi ini."
Ku coba untuk melapangkan dada,ku maafkan segalanya secara perlahan. Walau mulut ini masih saja membisu,tapi ada sedikit rasa senang di hati ini. Aku senang karena mulai sekarang aku tidak tinggal sendirian di rumah.
Ku jalani hari dengan belajar dan membaca novel,atau menonton drama korea tak jarang aku juga mendengarkan lagu-lagu favoritku. Semua itu kulakukan untuk membuang kejenuhan, serta untuk menghilangkan rasa sakit hatiku secara perlahan. semoga aku bisa segera memaafkan ayah dan hidup damai. Karena tidak nyaman hidup bersama ayah di satu rumah tapi dengan kebencian, aku ingin berdamai dengan keadaan ini. "Ya Allah aku mohon kuatkan aku dan lapangkanlah hati ini untuk bisa memaafkan segalanya,buanglah rasa benci dari hati ini, amin".
Hari ini adalah hari kelulusanku, aku tidak terlalu berharap menjadi terbaik kali ini. Aku hanya ingin berdamai dengan ayah.
Pagi hari sebelum aku berangkat ke sokalah aku memberanikan diriku untuk memeluk ayah. "ayah maafkan cista, cistapun sudah memaafkan segala hal di masa lalu,mulai sekarang ayo hidup bahagia bersama seperti dulu. Cista sayang ayah,walaupun sebenarnya Cista belum bisa benar-benar melupakan rasa sakit itu tapi mari kita berdamai."
ayah:" Baiklah anak ayah, i love you." ucap ayah sambil mencium keningku. Ayah akan datang tepat waktu ke sekolah,jadi tunggu ayah ya."
sista:"siap bos."
Rupanya berdamai dengan hati membuatku lega, langkah kaki yang biasanya terasa beratpun kini menjadi sangat ringan. "Baiklah cista ayo kita lupakan semua rasa sakit itu ,kamu pasti bisa." Ucapku dalam hati sambil terus melangkah ke aula tempat diadakannya acara pengumuman sekaligus perpisahan di sekolahku.