Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
41


Apakah rumah tangga cista dan dzaky akan aman? Sampai mana mereka dapat bertahan?


Sudah satu tahun berjalan,banyak yang kami alami dari hal sepele hingga besar. Hingga kini semua itu bisa kami lewati dengan baik. Kami hanya manusia biasa yang tak luput dari salah,hingga mungkin tanpa sengaja kami memberi luka satu sama lain. Tapi bukankah cinta harus bisa menerima segala hal buruk yang ada dalam diri pasangannya tidak hanya menerima hal yang baik saja.


Kadang kita sebagai manusia dihadapkan pada situasi yang menyebalkan,mengesalkan bahkan menyakitkan. Dihina,difitnah,dibenci,dicurigai dan sebagainya, semua itu makanan sehari-hari manusia ,benar bukan?"


Dicurigai oleh pasangan juga makanan sehari-hari, banyak pasangan yang belum bisa memberi kepercayaan sepenuhnya satu sama lain. Saling menyalahkan dan memikirkan ego masing-masing. Hingga seringkali rasa lelah dan kecewa menghampiri,kalau sudah menumpuk akhirnya menyerah pada sebuah perpisahan.


Ya itulah manusia dengan keanekaragamannya,kita hanya bisa berserah diri kepadaNya,karena semua yang ada di bumi dan langit adalah milikNya yang bisa Dia ambil sewaktu-waktu.


*********


Derai hujan,gemuruh petir dan serbuan badai mendera malam nan mencekam. Cuaca malam yang begitu buruk semakin membuatku khawatir karena suamiku belum pulang hingga larut malam terlebih lagi ia tak ada kabar seharian ini.


Perang dingin di antara kami juga belum usai setelah dua minggu berlalu. Hanya karena aku bertukar kabar dengan beberapa temanku, dia cemburu pada mereka yang sempat mengharap memilikiku dulu. Aku sudah meminta maaf bahkan aku sudah menghapus semua nomor teman laki-laki di ponselku, tapi tetap saja tak membuat es yang membeku itu mencair.


Kadang aku merasa lelah terus menerus di curigai olehnya, aku kecewa karena dia belum bisa sepenuhnya mempercayaiku. Tak jarang pula aku berfikir untuk menyudahi rumah tangga ini tapi aku selalu ingat orang tua kami, karena mereka akan ikut terluka, mereka begitu mengharapkan keberhasilan rumah tangga kami. So, apa yang harus ku lakukan sekarang, aku lelah tapi aku juga tak ingin membuat mereka kecewa. Aku ingin bertahan walau tak tau sampai kapan, tapi untuk waktu dekat aku ingin tetap diam mengikuti apa maunya saja.


Kadang kalau sedang dalam keadaan seperti ini aku selalu teringat mas reihan. Aku membandingkan cara mereka mencintaiku terutama dalam hal saling percaya. Andai saja mas reihan masih ada . Ya Allah maafkan aku karena masih mengharapkan orang yang sudah tiada. Bukan aku tak mencintai suamiku tapi karena aku ingin suamiku mempercayaiku seperti yang mas reihan lakukan untukku.


Sesungguhnya aku bingung kenapa dia belum percaya sepenuhnya padaku padahal aku selalu menuruti apa maunya. Aku tidak bekerja di luar, aku juga jarang keluar rumah kecuali untuk berbelanja kebutuhan rumah, kemanapun aku pergi selalu bersamanya. Lalu apa sebabnya?


Apa dia hanya mencari kambing hitam? Aku tak tau dan untuk saat ini aku hanya ingin diam dan menunggunya saja.


"Mas,kamu sudah pulang?" Tanyaku saat aku merasa tubuhku di peluk oleh seseorang, aku tidak melihatnya tapi aku hafal dengan harum tubuhnya.


"Hmmm, tidurlah lagi masih dini hari."


"Apa kamu sudah memaafkanku?"


"Kita bicara besok saja. Jangan membantah dan cepatlah tidur."


"Baiklah."