Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
42


Adzan subuh berkumandang memecah kesunyian pagi itu memaksa mataku terbuka untuk menyambut hari baru. Ku langkahkan kakiku mengambil air wudhu setelah sebelumnya membangunkan mas dzaky. Setelah shalat subuh aku menuju dapur untuk memasak sarapan, sarapan siap dan telah tertata rapi di atas meja. Akupun kembali ke kamar untuk mandi serta tak lupa merapikan tempat tidur.


Piring di hadapan suamiku telah kosong karena isinya sudah berpindah ke lambungnya. Aku kembali mencoba memperbaiki hubungan kami yang sedang sedikit kering dan retak.


"Mas, apa kamu masih marah?"


"Hmmm."


"Kenapa, aku sudah berulang kali minta maaf."


"Aku kesal karena kamu membalas chat dari beberapa teman laki-laki terlebih lagi dulu mereka menyukaimu."


"Tapi kan kami hanya bertukar kabar mas, apa salah saling menanyakan kabar pada teman-teman kita?"


"Ya tetap saja membuatku kesal, sudahlah aku harus ke cafe, mau keliling, esok aku juga harus ke jakarta. Jangan macam-macam di rumah, awas saja kalau sampai lebih dari chat yang kemarin."


"Mas apa kamu tidak bisa mempercayaiku?"


"Aku percaya, aku hanya tidak percaya pada mereka."


"Itu sama saja kamu kurang mempercayaiku mas. Aku ingin kamu memberikan kepercayaan penuh untukku mas, berhenti mencurigaiku seperti yang sudah-sudah. Kamu tau kadang aku merasa lelah terus bertengkar karena hal sepele seperti ini."


"Mas,aku hanya ingin kamu berhenti menaruh curiga padaku dan memberiku kepercayaan penuh itu saja apa itu berat, apa aku tidak pantas mendapatkannya karena dulu aku menolakmu beberapa kali sebelum akhirnya kita menikah? Apa aku buruk?"


"Sudahlah aku butuh waktu untuk melupakan segala pujian yang di arahkan kepadamu oleh para lelaki itu. Aku pergi, assalamualaikum."


"Hikshikshikshiks kenapa jadi seperti ini mas, mana kamu yang dulu?"


"Mas reihan kamu lihat kan bahkan adikmu saja tidak mampu setulus dirimu, aku merindukanmu mas reihan, kenapa kamu tega pergi lebih dulu meninggalkanku di sini."Batinku dengan air mata yang terus mengalir membanjiri kedua pipiku.


Mungkin ini karma yang harus ku tanggung karena aku juga belum bisa sepenuh hati pada suamiku. Aku masih saja merindukan dia, dia yang tidak mungkin kembali lagi ke dunia ini. Entahlah aku selalu merasa kalau dia masih hidup di suatu tempat yang tidak ku tau. Atau mungkin itu hanya angan yang tak akan pernah terwujud. Semua itu hanya Allah yang tau.


Aku sudah berusaha semampuku untuk mencintai mas dzaky, aku bahkan tak pernah lupa untuk melayani segala kebutuhannya, aku selalu berusaha menjadi istri yang baik dan patuh tapi tetap saja ada hal -hal yang membuatnya marah dan mengacuhkanku seperti ini. Apa mungkin sebenarnya dia tidak mencintaiku melainkan hanya terobsesi untuk memilikiku.


Aaahhhh lama-lama kepalaku ini bisa pecah, aku bisa gila kalau seperti ini terus. Aku lelah, aku benar -benar lelah dan ingin berhenti. Tapi aku tidak bisa melupakan kebaikan yang ada padanya, benar bukan? Kita harus bisa menerima segala keburukan pasangan kita. Lagian aku paling anti dengan yang namanya perceraian, itu makanya aku selalu berusaha mengalah dam memperbaiki semuanya.


Sudahlah,lebih baik aku mulai packing pesanan hari ini. Sebulan setelah menikah aku mulai buka online shop, lumayan untuk menambah rupiah dan mengisi waktu luang. Aku memilih online shop karena aku tetap memilki banyak waktu di rumah, selain itu jasa pengirimannya juga hanya berjarak 200 meter dari rumah. Aku menjual aneka ragam kebutuhan mulai dari makanan,pakaian,peralatan rumah tangga,skincare,dll. Aku juga tidak mempekerjakan karyawan,hanya di bantu oleh pak yono dan bu nani jika mereka selesai mengerjakan urusan rumah kost. Selain itu Andra juga selalu membantuku setelah pulang kuliah karena ingin mendapat jatah makan saja. Aku beruntung karena dikelilingi orang yang baik seperti mereka.


Aku hanya berharap mas dzaky cepat memaafkanku dan hubungan kami kembali hangat seperti dulu di awal kami menikah,amin.