Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
39


Sudah 3 bulan berlalu setelah hari pernikahanku, kami hidup dengan damai dan bahagia. Mas Dzaky sibuk mengurus caffe sedangkan aku mengurus kos-kosan dan rumah.


Pagi ini aku terbangun dengan perasaan takut dan khawatir, aku tidak tau kenapa rasa itu tiba-tiba hinggap.


Mas Dzaky belum pulang dari jakarta sejak kemarin pagi karena dia sedang membuka cabang caffe di dekat pantai ancol.


Kring kring kring Suara dering ponsel tanda ada sebuah panggilan, ternyata dari nomor yang tak ku kenal. Sudah berapa hari ini aku terus menerus di teror oleh nomor ini. Karena rasa penasaran yang semakin besar akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya.


"Akhirnya kamu angkat juga."


"Siapa kamu?"


"Amira,masih ingat?"


"Mau apa lagi teh?"


"Aku akan alihkan ke panggilan video."


Aku terperangah melihat suamiku tengah tidur dengan pulas sambil memeluk Amira.


"Kamu lihat cista, suamimu sudah kembali padaku. Jadi aku harap kamu cepat tinggalkan dia."


"Aku akan tetap mempertahankan rumah tanggaku, kamu dengar? "


"Apa kamu bodoh?"


"Kamu yang bodoh suamiku tidak mungkin berbuat hal buruk seperti itu kalau bukan kamu yang menjebaknya."


"Hahahaha kamu benar, tapi aku akan memanfaatkan keadaan ini untuk membuatnya kembali padaku."


"Saya tidak takut, karena Mas Dzaky itu milik Allah bukan milik saya. Allah hanya menitipkan dia sebagai suamiku . Apa kamu bisa mengambilnya dariku tanpa izin dari Allah?"


"Cista cista berhenti sok suci deh. Kita lihat saja besok."


Sambungan telp itu terputus begitu saja. Mungkin ini alasan kenapa aku khawatir dan takut.


Bagaimanapun mereka pernah bersama tidak menutup kemungkinan cinta itu kembali bersemi. Walau mas dzaky bilang tidak pernah mencintainya tapi hati orang tidak ada yang tau kecuali pemiliknya dan tuhan.


Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah kepada sang pemberi rasa , sang pemilik setiap insan. Ya aku hanya harus yakin kepada takdirNya. Kalau memang dia takdirku maka tidak seorangpun yang bisa mengambilnya dariku dan sebaliknya jika dia bukan takdirku maka allah akan mempermudah siapa saja untuk mengambilnya.


Malam hari sekitar jam 20.23 suamikupun pulang. Seperti biasa aku menyambutnya di depan pintu dengan senyum menawanku. Ku cium tangannya , diapun mencium keningku seperti biasanya.


"Mas sudah makan?"


"Sudah tadi di jalan, kemarilah , duduk."


"Apa, mas punya oleh-oleh untukku?"


"Ya sedikit tapi sebelum itu aku ingin minta maaf."


"Minta maaf?"


"Maaf, aku menyakitimu."


"Maksudnya?"


Diapun menunjukan sebuah video lewat laptopnya, di sana terlihat Amira sedang membuka baju suamiku yang tengah tak sadarkan diri. Adegan adegan panas terpampang jelas di sana, adegan yang seharusnya hanya bolrh di lakukan oleh orang yang sudah terikat tali pernikahan.


Amarahku begitu membuncah. Aku pergi ke kamarku dengan menangis, mas dzaky mengejarku dan terus meminta maaf.


"Sayang aku minta maaf, aku benar-benar mengira kalau itu kamu."


Aku hanya terus menangis, aku selalu ingat dengan nasehat paman di hari pernikahanku. Aku akan tetap di rumah tapi aku tidak tau sampai kapan marahku ini berakhir.


Dengan kejadiàn itu membuat hubungan kami


tidak baik-baik saja. Sudah hampir dua minggu aku mendiamkan suamiku walau segala kebutuhannya tetap ku siapkan.


"Sayang sampai kapan kamu diam saja seperti ini." Tanyanya saat dia selesai mandi setelah pulang dari caffe.


"Mas, maaf aku belum bisa memaafkanmu. Kamu bilang kamu sudah berubah tapi kamu masih bisa meniduri wanita lain selain istrimu."


"Aku sudah menjelaskan semuanya, aku di jebak. Aku ngga sadar nglakuinnya yank."


"Aku ke kos-an , aku tidur dengan andra sementara waktu."


"Lakukan semaumu."


"Tidurlah. Aku mencintaimu."


"Jangan sentuh aku." Teriakku saat dia hendak mencium keningku.


Aku menangis dalam diam setelah sosoknya tak terlihat lagi. Aku butuh banyak waktu untuk memaafkannya, wanita mana yang rela suaminya meniduri wanita lain? Ku rasa tidak ada yang akan rela, begitupun denganku.


Beberapa hari kemudian.


Entah apa yang mendorongku untuk mengikuti suamiku pergi malam ini. Aku terus mengikutinya menggunakan motor salah satu anak kosku. Hingga ia berhenti di sebuah rumah sederhana, tampak seorang wanita yang tak lain Amira keluar dari rumah itu menggandeng seorang anak kecil yang sangat imut dan tampan.


Air mataku mengalir tanpa permisi ketika aku mendengar anak itu memanggil suamiku dengan sebutan ayah. "Ya Allah apalagi ini? Apa yang harus ku maafkan jika sudah begini?" Gumamku. Tanpa sadar aku berjalan menghampiri mereka.


Ku tatap lekat lekat anak itu, mirip sekali dengan wajah suamiku. Apa benar ini anaknya? Aku bertanya dalam hatiku.


"Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi ! Mas kenapa diam saja?"


"Sayang ayo kita bicara di rumah."


"Ok, aku tunggu di rumah."


Sesampainya di rumah aku duduk menunggu dia sampai, tubuhku gemetar, semua rasa bercampur jadi satu.


"Sayang,dengarkan aku."


"Ya aku akan mendengarkan, tolong jujur atau aku akan lebih kecewa dari ini."


"Dia Dimaz, anak kami. Usianya sudah 4 tahun. Amira menolak untuk aku nikahi 5 tahun lalu dengan alasan aku belum punya masa depan yang jelas. Jadi dia menikah dengan orang lain,tapi 6 bulan yang lalu mereka bercerai . Amira mulai mencariku sejak itu dia ingin menikah denganku demi anak kami dimaz."


"Lalu?"


"Aku menikahinya secara sirih waktu di jakarta, semua ini hanya demi dimaz, percayalah."


"Apa yang harus ku percaya?"


"Aku mencintaimu , aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Lalu aku harus mau di madu begitu maksudmu mas?"


"Sayang hanya sementara aku janji setelah hak asuh dimaz jatuh ke tanganku aku akan menceraikannya."


"Laki-laki macam apa kamu mas?"


"Sayang aku mohon maafkan aku, jangan tinggalin aku." ucapnya terus memohon kepadaku sambil berlutut di hadapanku.


"Mungkin cintamu padaku hanya obsesi mas, bukan cinta yang sebenarnya."


"Tidak sayang, aku benar-benar mencintaimu. Tolong maafkan aku."


"Kamu harus memilih mas, aku atau mereka."


"Sayang aku mohon jangan seperti ini."


"Tidak mas, kamu harus memilih."


"Baiklah aku akan menceraikan Amira."


"Ok aku tunngu, setelah hak asuh dimaz jatuh ke tanganmu segera ceraikan dia kalau tidak aku sendiri yang akan mengurus perceraian kita."


"Jangan sayang, aku mohon. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu."


"Mas aku mencintaimu, tapi aku juga tidak mau terluka seperti ini."


"Maafkàn aku, aku akan menyelesaikan ini secepatnya. Aku mencintaimu."


"Aku mulai meragukanmu mas. Maaf."