
Waktu itu selayak air yang terus mengalir menuju sungai hingga sampai lautan. Kehidupankupun kini sampai pada satu titik, yaitu wisuda. Tepat hari ini, aku wisuda didampingi oleh ayah dan pamanku serta satu orang yang selalu setia menemani suka dukaku mengobati luka mengeringkan lara,dialah dzaky. Walaupun dia tidak ikut mendampingiku di dalam aula karena undangannya hanya untuk dua orang,hihihi. Hubunganku dengannya semakin dekat,tapi aku tetap tidak mau pacaran, aku ingin langsung menikah.
Aku mau menikah jika dia sudah memiliki rumah sendiri serta tabungan yang cukup untuk biaya menikah agar tidak merepotkan orang tua. Itu syarat yang ku ajukan padanya beberapa bulan lalu saat untuk kesekian kalinya dia menyatakan cintanya padaku.
Kembali masalah wisuda yang telah lama ku tunggu ini, perjuangan selama 2 tahun 8 bulan akhirnya mendapatkan hasil yang begitu memuaskan dengan IPK 4,18. Segala puji bagi Allah SWT, karenaNya yang selalu memberiku yang terbàik dalam hal ini.
Sebenarnya aku ingin sekali seluruh keluargaku hadir di acara wisudaku ini tapi terbatasnya undangan membuat mereka tidak bisa hadir. Akhirnya mereka menunggu di rumah menyiapkan berbagai hidangan untuk syukuran nanti malam.
Aku keluar dari aula berniat untuk langsung pulang tapi ketika aku hendak masuk ke mobil Kak Dzaky datang .
"Ayah, paman bolehkah aku yang mengantar cista pulang nanti,aku ingin mengajaknya ke suatu tempat terlebih dulu." Ucapnya meminta izin pada ayah dan pamanku.
"Boleh,boleh tapi jangan lama-lama ya sebelum maghrib harus sudah ada di rumah."
"Ok ayah laksanakan."
"Baiklah, kami pulang dulu."
"Dah ayah,paman." Ucapku sembari melambaikan tangan.
"Dah sayang,hati-hati." Jawab paman, sedangkan ayah hanya memamerkan senyum menawannya, senyum yang ia wariskan padaku hingga membuat para pria tergila-gila padaku hahahaha.
Kak dzakipun lalu menggandeng tanganku menuju mobilnya.
"Ke mana kak?"
"Ke cafe sekalian ngecek karyawan di sana."
"Oke."
"Tapi ini bukan jalan ke cafe kak?"
"Setelah ini baru kita ke cafe."
Sampailah kami di sebuah rumah ,ku edarkan pandanganku ke sekeliling rumah itu.
"Rumah siapa kak?"
"Rumah kita."
"Benarkah?"
"Aku menyiapkan semua ini untuk kita, lihatlah semuanya, ini rumah impianmu bukan?"
"Ya,ini rumah impianku." Rumah dengan gaya klasik modern dengan banyak kaca yang membatasi area dalam dengan halaman yang banyak pohon tertanam di sekelilingnya serta sebuah kolam renang di bagian belakang. Di sana ada pohon kelor, mangga,jambu air ,delima dan berbagai macam bunga.
"Kamu suka?"
"Tentu."
"Kemarilah!" "Cista will you marie me?" Dia berjongkok sambil menyodorkan sebuah cincin yang sangat indah bila dipandang mata.
"Kak dzaky."
"Aku sudah punya semua syarat yang kamu minta,jadi aku tidak ingin ditolak lagi."
"Kakak ingin ditolak?"
"Tidak,tidak mau. Aku ingin kali ini kamu menerimaku."
"Yes i will."
"Serius?"
"Ya,kak aku mau."
Dia meraih tanganku,tapi dia sempat berdiam yang akhirnya menyadarkanku jika selama ini aku masih memakai cincin pertunanganku dengan mas reihan.
"Tidak perlu sayang, kamu harus memakai keduanya. Cincinku dan cincin kak reihan. Aku tidak akan bisa menghapus dia dari hatimu , aku hanya akan menemaninya dalam memperindah hidupmu." Katanya sambil memakaikan cincinnya di atas cincin itu.
"Terima kasih kak, i love you."
"I love you too."
Dia merentangkan tangannya seakan menyuruhku untuk segera memeluknya. Cukup lama kami saling memeluk suasana semakin romantis entah sejak kapan bibirnya mulai menempel di atas bibirku, awalnya aku hanya diam, tapi akhirnya aku terbawa suasana juga untuk membalas kecupannya. Ini adalah ciuman pertama kami,walaupun aku bukan yang pertama baginya begitupun sebaliknya. Ini sangat manis,lembut dan membuatku kepayang.
"Aku harus menghentikan ini sayang,aku takut hilang kendali mengingat aku sudah lama tobat dan menahannya begitu lama."
"Aku mengerti,terimakasih karena selalu menjagaku."
"Baiklah,ayo kita ke kamar."
"Ngapain?"
"Tenang,aku tidak akan macam-macam sebelum ada kata SAH di antara kita."
"Kita baru saja macam-macam."
"Itu bukan macam-macam sayang,itu hanya kecupan dengan sedikit lumatan saja."
"Hiissh." Kataku sambil memonyongkan bibirku karena sedikit geram.
"Ini semua milikmu?" Dia membuka pintu lemari yang berisi banyak pakaian dan yang lainnya,semua keperluan wanita ada di dalamnya.
"Benarkah,sebanyak ini? Aku jadi seperti cewek matre,hahahaha."
"Tidak sayang ini kan memang kewajiban seorang suami untuk menafkahi istri. Isi lemari ini akan menjadi milikmu setelah sah menjadi istriku."
"Terima kasih kak."
"Mulai sekarang kamu harus memanggilku mas, karena dulu aku selalu iri saat mendengarmu memanggil kak reihan dengan mas. Jadi aku ingin kamu memanggilku mas."
"Mas,sekarang bagaimana kalau kita ke cafe aku sudah sangat lapar."
"Ayo,apapun akan ku lakukan untukmu."
"Ya ya aku percaya itu."
Setelah mampir ke salah satu cafenya mas reihan yang sekarang semuanya di ambil alih mas dzaky kamipun pulang. Lagi-lagi aku mendapat kejutan karena rumah begitu ramai, "ada apa ini kok rame banget kata ayah hanya syukuran kenapa begitu banyak orang",tanyaku dalam hati.
"Surprise."
"Ada apa ini ayah?"Ayah diam saja,justru mas dzaky yang menjawab dan kembali bejongkok dihadapanku.
"Hari ini di hadapan semua orang aku ingin melamarmu secara resmi, cista maukah kamu menikah denganku,menjadi ibu dari anak-anakku, menemaniku mengarungi luasnya samudra ini dalam suka serta duka?"
"Mas,ya aku mau." Dia mencium punggung tanganku dengan lembut hingga aku merasakan betapa besar cinta dan kasih sayangnya untukku.
Rasa bahagia itupun menular keseluruh yang hadir di sana terutama orang tua kami.
"Mama bahagia sekali karena kamu akan tetap menjadi menantu mama, hehe."
"Mama berhenti lebay di kira orang kita maksa cista buat jadi menantu,biasa saja dong."
"Ihh papa biarin, terserah orang mau berfikir apa,mama tidak peduli."
"Ya ya terserah mama saja lah."
"Terima kasih ma,pa kalian sudah menyayangi cista seperti anak sendiri,semoga setelah kami menikah kasih sayang itu tidak akan berubah, hehehe."
"Tentu sayang,bahkan kami akan semakin menyayangimu." Papa har menimpali.
Malam lamaranpun berakhir dengan sebuah keputusan bahwa pernikahan akan diadakan di Banyumas dua minggu kemudian lalu di Bandung seminggu setelahnya.