Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
10


"Cista,apa kamu sudah pernah pacaran?" tanya pak reihan memecahkan keheningan.


"Belum mas mau sekolah dulu yang bener."


"Baguslah,karena hanya aku yang mampu menunggumu. Jadi bersiaplah ketika kamu sudah dewasa nanti aku akan datang melamarmu dan menjadikanmu istriku. " Katanya terus terang.


"Memang mas ngga punya pacar mau nungguin saya terus?"


"Pertanyaan yang bagus. " hehehe. "Sejak satu tahun lalu aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis yaitu kamu. Maka saya hanya akan menunggumu."


"Ah masa?"


"Benar." Tiba -tiba dia menghentikan mobilnya. "Cista ."


"Ya.:


"Aku serius, aku ngga bercanda. Aku mencintaimu, aku akan nunggu kamu berapa lamapun." Dia mendekatkan dirinya untuk mencium keningku, ciuman itu lalu turun ke pipi kemudian ke bibir. Ciuman yang begitu lembut itu berlangsung cukup lama.


Aku hanya terpaku,berusaha menahan diri agar tidak membalas ciuman itu, karena untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada pendidikanku.


Setelah ia melepas ciumannya aku menyembunyikan wajahku yang merah seperti habis lari maraton. Aku malu,bahkan jantungku terasa mau copot di buatnya.


"Mas reihan. Aku menghargai perasaanmu karena akupun sangat menyukaimu, tapi seperti yang ku katakan tadi bahwa aku ingin fokus pada pendidikanku dulu. Aku sangat beruntung jika mas reihan mau menungguku namun aku juga tidak akan menahan mas reihan jika ingin berhenti menunggu. Maafkan aku."


"Aku mengerti, aku hanya akan menunggumu. Jika aku sudah memutuskan seperti itu maka itu yang akan terjadi. Aku mencintaimu."


"Terima kasih mas."


Ia tersenyum begitu manis,membuat dada ini semakin panas dan terbakar.


"Baiklah,kita pulang dan beristirahatlah.Mas yakin kamu lelah dan shok atas kejadia semalam." Ucapnya sambil mulai mengemudi lagi.


"Sebelah mana rumahmu cista?"


"Dari patung cepot kita masuk, naik kemudian belok kanan turun sedikit , sampai deh."


"Yang mana?"


"Itu depan."


"Yang warna Cream?"


"Betul betul betul."


Ku coba membuka pintu mobilnya namun tanganku terhenti oleh tangan pak reihan.


"Tunggu."


"hm"


"Sebentar saja."


Ap... mulutku di bungkam dengan ciuman yang sangat lembut. Seperti biasa aku hanya diam tidak


menolak namun juga tidak membalasnya.


"I love you, sampai jumpa besok." Ucapnya sembari menjauh dari tubuhku. Lalu ia keluar membukakan pintu untukku.


"Cista mau turun tidak?" katanya mengagetkanku yang masih termenung tidak karuan menahan panas di wajah dan tubuhku.


"eh ya ya, aku lupa. Terima kasih mas reihan, mau mampir ngga?"


"Lain waktu aku akan berkunjung, berkunjung sesering mungkin."


"ya ya ya, terserah mas saja lah."


"Oke, aku pulang dulu. dah." Katanya sambil melambaikan tangan dan melajukan mobilnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsallam,"jawab kak clara , senyum- senyum gitu kak kesambet? tanyaku yang merasa heran dengan tingkah kak clara.


"Ngga kakak hanya sedang senang habis di goda sama mas yahya."


"Cie cie jatuh cinta lagi ya..."


"Hahaha, biasa lah de."


Kak clara berusaha menutupi apa yang telah dilihatnya sedari tadi di jendela rumahnya. Ya, ternyata kak Clara melihat semua kejadian barusan. Tapi kak clara berusaha menutupinya karena ia memang selalu menanyakannya setelah ia yakin. Selain sebagai kakak, kak clara juga sebagai ibu untukku, pokoknya dia yang terbaik sebagai kakak ataupun ibu.


Aku langsung membersihkan diriku sebelum akhirnya aku tertidur karena sangat lelah. Tapi lagi-lagi aku bertemu dengan putri yang aku liat di air terjun, walaupun sekarang hanya mimpi. Ya mimpi yang membingungkan,dan berhasil menggagalkan acara tidur pagiku.


"Apa maksud semua ini, kenapa dia terus menemuiku ? ah menyebalkan sekali, baru sja mau tidur."