
Pernikahan khidmat dengan resepsi sederhana bahkan bisa di bilang sangat sederhana karena hanya dihadiri oleh keluarga besar dan beberapa teman dekat saja. Walaupun begitu aku melihat aura bahagia dari wajah kedua pengantin itu,bahagia yang di paksakan lebih tepatnya karena aku tau kalau kak dzaky masih sangat mencintaiku. "Boleh dong geer,hehehe."
Sarah terlihat sangat cantik dengan kebaya pink softnya begitupun dengan kak dzaky yang tampak lebih tampan dari biasanya dengan jas warna creamnya yang di padukan dengan kemeja warna pink soft. "Imut deh,pink soft,hahahaha."
"Selamat ya kak semoga langgeng."Ucapku sembari berjabat tangan dengan ke dua pengantin di hadapanku, di belakangkupun tak ketinggalan pengawal pribadiku yaitu kekasih hatiku, mas reihanku hihihihi.
"Terima kasih cista, cepat selesaikan kuliahmu sepertinya kak reihan sudah tidak sabar untuk menikah."
"Baru mau mulai kak masa sudah di suruh selesai saja."
"Aku yakin kamu bisa lulus secepatnya dengan otak encermu itu."
"Kak dzaky berlebihan."
"Heeh bocah tengik berhenti bicara sebelum aku memukulmu." Sela mas reihan.
"Kak aku sedang membantumu,agar kamu bisa cepat menikah,bela dong."
"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku masih sanggup menunggu cista lulus kuliah, jadi berhenti mempengaruhi cista. Ayo cista kita duduk di sana sambil minum sebelum bocah **** ini tambah banyak bicara."
"Dasar kakak nyebelin."
Aku tersenyum lalu mengikuti langkah mas reihan menjauh dari pengantin baru itu.
"Mas reihan setelah ini antar aku pulang ke rumah ayahku ya!"
"Siap ,perintah anda akan saya laksanakan."
"Terimakasih mas reihanku."
"Sayang, maukah kamu berjanji padaku?"
"Tentu, apa itu?"
"Jika suatu hari hal buruk terjadi padaku jangan terpuruk,tetaplah seperti kamu sekarang ini dan bukalah hatimu untuk laki-laki lain."
"Mas reihan akan panjang umur,aku yakin kita masih akan tetap bersama dalam waktu yang lama."
"Ya mas juga berharap seperti itu,ini kan seandainya saja."
Dalam hati aku menjerit,aku menangis aku tidak pernah membayangkan jika mas reihan tidak ada lagi untuk selamanya. Aku belum, bahkan mungkin tidak akan pernah siap menghadapinya.
Sekarang aku sudah berada di halaman rumahku,mas reihan mengantarkanku pulang lalu iapun langsung kembali ke rumahnya karena masih banyak saudara yang berkumpul.Tapi ia berjanji akan segera menemuiku dan mengajakku ke beberapa pantai di daerah sini. Setelah motor mas reihan meninggalkan halaman rumahku akupun ingin masuk rumah tapi ketika aku mengucap salam tidak ada yang menjawab.Rumahpun tampak sepi, untung saja aku membawa kunci serepnya. Aku mencari keberadaan ayah di semua ruang tapi tidak ketemu mungkin ayah belum pulang dari kebun. Aku istirahat sejenak sebelum mandi.
"Cista kamu sudah datang?"Tanya ayah ketika aku keluar dari kamar mandi.
"haaa,ayah mengagetkanku."
"Jam berapa tiba?"
"Baru saja yah lau mandi ,lengket jadi risih."
"Reihan mana?"
"Mas reihan langsung pulang yah,ngga enak pergi terlalu lama kan masih banyak keluarga yang kumpul."
"Oh begitu,ayah ingin datang ke pernikahannya dzaky tapi mas hartato melarang."
"Ya yah kak dzaky hanya ingin ada keluarga saja, bahkan ngga ada resepsi."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah yah."
"Oh ya.Kapan mulai masuk kuliah?"
"Dua minggu lagi yah."
Ayah manggut manggut tanda mengerti."Lalu kapan kamu kembali ke bandung?"
"Mungkin 5 hari lagi, aku dan mas reihan akan mengunjungi beberapa pantai dulu sebelum kembali ke bandung."
Ayah berhenti bertanya karena ingin segera mandi. Aku menyiapkan nasi goreng udang rebon untuk makan malam tak lupa lalapan dan sambal bawangnya. Setelah shalat maghrib kamipun makan sembari berbincang banyak hal,hingga tanpa di sadari sudah jam 22.18, ayahpun pamit untuk tidur. Begitupun denganku,setelah membersihkan muka dan gosok gigi aku langsung tidur.
Di tengah obrolanku dengan ayah tadi aku berpesan jika ayah ingin menikah lagi maka harus mencari wanita yang mau di ajak susah jangan seperti tante mira kemarin yang hanya mengincar tanah yang ayah miliki,padahal kan itu hasil kerja keras ayah dan ibuku. Aku bahkan tidak pernah menyukainya,mukanya tampak sangat angkuh dan serakah, dari awal saja aku sudah bisa mengerti apa maksud dia mendekati ayahku. Tapi aku hanya bisa diam waktu itu tapi tidak untuk setelah ayah kembali lagi ke rumah ini. Pokoknya aku ingin ayah memiliki pendamping yang tulus dan mau di ajak susah.