Elegiku"Cista"

Elegiku"Cista"
15


Mereka sibuk mempersiapkan segalanya untuk menyambut "tamu penting".


"Siapa sih sebenarnya tamu penting itu? Mereka benar-benar merahasiakannya dariku, mending aku pura-pura ngambek saja. Aku tidak akan keluar dari kamarku sampai ada yang memanggilku."


Hingga setelah shalat maghrib datanglah tamu penting itu,aku masih terdiam di kamarku walaupun sayup-sayup terdengar suara pria yang sangat familiar di gendang telingaku.


"Ah,biarkan saja nanti jika aku di butuhkan mereka pasti memanggilku."


tok tok tok


"Siapa?"Tanyaku ketika ada yang mengetuk pintu kamarku,namun tak ada yang menjawab sehingga aku putuskan untuk tetap membuka pintunya. Alangkah terkejutnya aku ketika mas reihan mendorongku masuk kembali ke dalam kamar sembari mengunci pintu kamarku. Ia menciumiku bertubi-tubi bahkan kini ia sampai menindih tubuhku.


"Mas reihan kenapa seperti ini?"


"Mas kangen."


"Ya tapi aku tidak bisa bernafas."


"Sayang,bolehkah mas melakukannya?"


"Melakukan apa?"Tanyaku ,matakupun terus menatapnya lekat mengunci pandangannya cukup lama. Aku tau maksud mas reihan tapi aku juga yakin dia tidak akan melakukannya,aku tau dia menginginkan aku tapi aku juga tau kalau dia akan selalu menjagaku hingga kami benar-benar telah halal. Seperti dugaanku dia kemudian menjauhi tubuhku.


"Maafin mas,habisnya kamu nggemesin."


"Ya mas tidak apa,aku tau mas sudah lama menahannya,terimakasih karena mas selalu menjagaku. I love you mas reihan."


"Mmmuuaahh."Mas reihan mencium bibirku sekilas. "Sekarang ayo kita gabung dengan yang lain sebelum mereka memaksa kita untuk menikah detik ini juga karena melihat kita begitu mesra."


Aku tersenyum manis, "ya kamu benar mas ayo cepat kita keluar."


"Hey anak ayah kenapa membuat kami bosan menunggu?"


"Ya ayah maaf ,mas reihannya nakal,hehehe." Mas reihanpun mencubit pinggangku. "aaawww tuh kan yah mas reihan nakal."


"Astaga sepertinya putraku ini tak sabar untuk menikah handoyo."


"Tidak ayah aku akan sabar menunggu cista menyelesaikan kuliahnya."


"Baiklah kami mempercayaimu." Kak clara menimpali perkataan mas reihan.


"Jadi begini han,aku dan keluargaku datang untuk mengikat putrimu cista,biarkan mereka bertunangan dulu lalu menikah setelah cista selesai sidang skripsi atau setelah wisuda. Putraku ini sangat takut ada yang mendahului untuk melamar putrimu mengingat banyak pria yang menginginkannya termasuk sebenarnya adik dari reihan yang kebetulan menjadi kakak kelas cista."


"Benarkah mas har?"


"Ya han aku tidak bohong karena mereka selalu terbuka padaku jadi aku tau dengan pasti."


"wah wah rupanya putri kecilku terkenal ya."


"Bukan hanya terkenal han tapi jadi rebutan para pria. Jadi gimana apakah kamu mengizinkan mereka untuk bertunangan dulu?"


"Kalau aku sih terserah anak-anak saja mas har bagiku bahagia mereka adalah bahagiaku."


"Bagaimana cista apa kamu mau bertunangan sama anak om ini,mas reihanmu?"


Pipiku langsung memerah karena malu, ku anggukkan kepalaku menjawab pertanyaan om hartato. seketika itu pula mas reihan memelukku di depan semua orang dan menambah rona merah di pipiku.


"Terimakasih sayang."


"Heeeeiii jaga sikapmu nak belum muhrim."


"Maaf ayah reihan sangat senang karena cista menyetujuinya."


"Tidak apa mas har asal mereka masih tau batasannya."


Hahahaha tawa mereka yang kompak kembali memenuhi gendang telingaku .


Hari itupun menjadi hari pertunangan kami. Kamipun saling berjanji untuk selalu bersama hingga kematian memisahkan kami,amin.


Hanya cinta sejati yang bisa bertahan tanpa mengenal waktu,dia membawa damai dan bahagia akan jiwa pemiliknya, dan hanya cinta sejatilah yang akan selalu menemukan jalan untuk kembali pada sang empunya.Walaupun akan banyak aral melintang yang menghadang cinta sejati akan selalu kembali karena ketulusan dan kesetiaan selau menjadi pengawalnya untuk menumpas segala hal yang merintanginya. Jikapun harus terpisah maka cinta sejati hanya akan terpisahkan oleh maut dan kembali untuk bertemu di dermaga sebuah keabadian kelak.