
Dua minggu setelah pertunangan kami baru sempat bertemu lagi karena kesibukan mas reihan mengurus usaha kulinernya di berbagai tempat. Hari ini mas reihan menyisakan sedikit waktunya untukku.
kring kring,suara hpku berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.
"Sayang mas otw ngapel."
"Sekarang?"
"Tahun depan yank."
"hehehe."
Begitulah isi pesan di aplikasi whatsapp dalam benda pipih keluaran terbaru yang disebut ponsel pintar ,hadiah ulang tahun dari mas reihan saat usiaku 16 tahun,tepatnya 3 bulan yang lalu. Aku menunggu kedatangan mas reihan dengan riang gembira di ruang tv,ada rasa rindu yang ingin segera ku luapkan kepadanya.
"Assalammualaikum."
"wa'alaikumsallam,kok cepet mas?"
"Ya dong,mas sudah terlalu rindu."
"Halah,gombal." Kami berjalan berdampingan menuju ruang tv.
"Sayang yang lain ke mana,kok sepi?"
"Lagi pulang kampung soalnya adik bungsunya mas yahya menikah besok."
"Jadi kamu sendirian?"
"Ya lah,kenapa?"
"Mas temenin kalau gitu."
"Modus ya?"
"hehehe,tau aja."
"Bentar ya mas aku ke dapur dulu."
"Ngapain?"
"Mau tau aja."
"Jangan ke mana-mana di sini saja!"
"Sebentar mas,janji."
Ku langkahkan kakiku menuju dapur, ku buat mie instant untuk mengisi perutku yang dari pagi belum terisi dengan makanan berat.
"Sayang kamu lapar?"Tanya mas reihan sambil memelukku dari belakang.
"Mas reihan, kan kaget."
"Maaf yank(mencium pundakku),kenapa tidak bilang kalau lapar kan bisa delevery."
"Boros mas,mending banyakin nabung."
"Ihhh gemes deh,kamu memang calon istri idaman mas."
"Masa? Mas temenin makan ya,aku udah buatin untuk mas juga."
"Tapi punya mas jangan terlalu pedas ya yank!"
"Siap bos,ini punya mas reihan,ini sambelnya,ini daun bawang dan ini bawang gorengnya."
"Mie instan aja lengkap banget yank?"
"Harus dong mas,biar tambah enak,cobain deh."
"Ok. Jangan makan terlalu pedas yank nanti sakit perut."Katanya saat melihatku menuang banyak sambel ke dalam mangkokku.
"uppss,maaf mas lupa."
"Iiiihhh,(mencubit pipiku gemas)."
"Mas sakit,suka sekali nyubit-nyubit."
"Hahahaha gemas yank."
"Sayang mas ke masjid sebentar ya",teriaknya dari ruang tv saat aku sedang mencuci piring.
"Ya mas."
"Kamu shalat di rumah saja."
"Ya bos."
Mas reihan menghampiri dan mencium pipiku sebelum ia berangkat ke masjid di dekat rumah ini. Selesai mencuci piring akupun shalat maghrib di dalam kamar,sebelum akhirnya aku menuju ruang tv menunggu mas reihan lagi.
15 menit kemudian.
Mas reihan menutup mataku dengan telapak tangannya.
"Mas reihan jangan usil deh."
"Kok tau sih kalau ini mas?"
"Tau dong,aku itu hafal aroma tubuhmu mas."
"hehehe,(berguling kesofa tempatku duduk).'
"Pecicilan deh."
Tersenyum."Yank."
"hhmm."
Mendekatkan wajahnya dan mulai menghujaniku dengan ciuman lembutnya. Ciuman yang selalu membuatku rindu dan mabuk karena saking lembut serta penuh kasih sayangnya.
"Mas jangan tinggalin aku ya!"
"Tidak akan pernah kecuali salah satu dari kita meninggal "
"Janji?"
"Ya sayang mas janji. yank?"
"ya."
"Gimana kalau kita nyusul kak clara ke Banyumas sekalian liburan,mas juga kangen sama kampung."
"Kapan?"
"Besok pagi."
"Naik apa?"
"Motor,kan jadi bisa di peluk terus sama kamu."
"Ah mas mah modus terus."
"Tapi kamu suka kan?"
hehehe ku cium pipinya dan ku peluk tubuh kekarnya erat.
"Gimana ,mau ngga?"
"Mau dong mas,aku juga kangen sama ayah."
"Ok besok habis subuh kita berangkat."
"Ngga terlalu pagi mas?"
"Ngga dong ,kan biar ngga panas."
"Mas terbaik deh. Ya sudah sana pulang jadi besok bisa bangun pagi."
"Ngusir nih?"
"Bukan gitu yank."
"Tapi mas masih kangen." Kembali mengajakku menautkan bibir,kecupan-kecupan lembut dengan sedikit lumatan yang berlangsung lama mengakhiri pertemuan kami malam ini sebelum besok harus menempuh perjalanan jauh menuju kampung halaman kami di Banyumas.