
Menganti adalah salah satu pantai di kebumen,Jawa Tengah. Pantai ini masih jarang di datangi wisatawan sehingga masih tampak sangat bersih,airnyapun sangat jernih kebiru-biruan dengan pasir putih yang membentang di sepanjang bibir pantai. Di salah satu sisi kita bisa menjumpai pasar ikan. Ikan-ikan yang sangat segar bergelepar di lantai siap untuk kita beli demi memuaskan hasrat perut. Kita bahkan bisa melihat ikan -ikan itu di tuang dari jala oleh para nelayan terbaik negeri ini.
" Haaahhh itu sangat mengasikkan, hehehe karena aku sangat menyukai ikan,jadi melihat itu membuat hati senang dan bernafsu untuk memakan ikan hihihi."
Aku akan mengunjungi pantai itu bersama mas reihan hari ini, setelah bersiap diri aku duduk di teras menunggu kedatangannya.
"Assalammualaikum,sayang."
"Waalaikumsalam,mas kok rame?"Tanyaku melihat ada 4 orang di dalam mobil.
"Ya yank mereka memaksa ikut,jadi terpaksa aku ajak. Ayo pamit dulu sama ayah!"
Kami memasuki rumah menuju ruang makan untuk berpamitan dengan ayah.
"Ayah,aku berangkat dulu ya." Pamitku pada ayah sambil menjabat tangannya yang mulai keriput,ku cium punggung tangannya lembut. Mas reihanpun melakukan hal yang sama.
"Selamat pagi cista." Sapa kak dzaky sesaat setelah aku duduk di samping kemudi.
"Pagi kak dzaky. Hai kak sarah, kak sarah sehat?"
"Sehat dong cis."
"Hai selamat pagi."Sapaku pada dua orang lainnya yang tidak aku kenal.
"Hai aku rizal." Ucap seorang yang bernama rizal.
"Ooh jadi ini yang namanya cista. Aku rita mantannya reihan." Ucap rita dengan nada tidak menyenangkan.
"Ya kak ,saya cista, tunangannya mas reihan."Ku ukir senyum sinis untuknya.
Sementara itu mas reihan fokus menyetir dan menjauhakan mobilnya dari halaman rumahku menyusuri jalan berbukit-bukit menuju pantai nan indah berair biru berpasirkan putih dengan gulungan ombak yang tinggi ialah pantai nan memesona Menganti.
Saat sampai di dekat sebuah supermarket aku meminta berhenti untuk membeli beberapa cemilan.
"Mas reihan mampir di sana ya sebentar,aku ingin membeli cemilan."
"Ngga beli di sana saja?"
"Di sana mahal mas."
"Ok ok sayangku memang pintar."
"Aku saja yang membelinya mas."
"Tidak boleh,mas harus ikut."
"Ya udah,ayuk."
"Cista nitip susu buat bumil dong ,yang siap minum ya!"
"Ok kak ,mau rasa apa?"
"Coklat atau vanilla."
"Baiklah kak sarah yang cantik,tunggu ya."
"Yank kok beli mie cup kan kita ngga bawa air panas."
"Tenang mas semua aman jika ada cista."
"Ok baiklah tuan putri."
"Sayang mas minta maaf ya."
"Untuk?"
"Karena mas belum cerita soal rita."
"Tidak masalah, ngga penting buat aku,hehehe."
"Intinya dia mantan mas, mas udah ngga punya rasa sedikitpun untuk dia,di hati mas sekarang cuma ada kamu."
"Ya mas aku percaya kok."
Mas reihan membayar cemilan itu menuju kasir,sementara aku menunggu di dekat pintu keluar dan kembali ke mobil bersama.
Kami melanjutkan perjalanan,setelah satu jam sampailah kami di pantai menganti.
"Sayang kamu kenapa?"Tanya mas reihan melihatku meringis.
"Mas aku melupakan sandal jepit, ini sangat geli,hehehe."
"Heeh cista,putusin reihan,aku mau balikan sama dia." Kata rita to the point.
"Maaf mba saya tidak bisa."
"Jika itu jawaban kamu maka saya akan menempuh jalan lain yang akan membuat kamu terluka."
"Silahkan saya tidak takut."Jawabku lalu menjauh dari rita menyusul mas reihan.
"Yank kok nyusul?"
"Aku takut di sana sendirian."
"Mas bawain kamu sesuatu, tttaaarraa." Mas reihan menyodorkan sepasang sandal jepit.
"Mas terbaik,hehe."
"Hanya itu?"
"Terimakasih sayang."
"Bukan terimakasih yank,tapi..."Mas reihan menarik pinggangku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menciumku. ku dorong tubuhnya menjauh dari tubuhku bukan karena aku tidak suka di cium tapi karena aku malu di cium di tempat umum seperti ini.
"Mas malu di lihat banyak orang."
Mas reihan hanya tersenyum menimpali perkataanku.
Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai. Situasi seperti ini mengingatkanku akan sebuah lagu dari band lawas caffein.
*Berjalan di tepi pantai
tertiup angin berhembus
sejukkan hati,damaikan diri
melihat biru
Bersama tlah di lewati
bersama tlah di jalani
aku di sini kan bersamamu
tlah ikat janji
Hidupku kan damaikan hatimu
diriku kan slalu menjagamu
izinkanku slalu bersamamu
kasihku padamu
Tlahku berikan semua
tlahku rasakan bersama
sampai terhenti nafasku ini
hanyalah untukmu
"Mas ayo duduk di sana*!" Ku tunjuk kumpulan batu karang mengajaknya duduk di sana agar gemuruh ombak semakin terdengar jelas. Karena gemuruh ombak itu seperti alunan musik yang indah,begitu menentramkan terlebih anginnya juga bertiup lembut membelai kulit. Ku pejamkan mataku menikmati suasana ini,setelah puas aku kembali membuka mata ,terkejutlah aku ,aku tidak menemukan mas reihan di sampingku,ku edarkan pandanganku mencari sosoknya,ku turuni batu karang ini berjalan tergesa di atas pasir mencari sosok mas reihan. Aku melihat kak dzaky,aku menanyakan keberadaanya pada kak dzaky tapi kak dzakypun tidak tau mas reihan di mana,akhirnya aku ,kak dzaky dan sarah berpencar untuk mencari mas reihan.
Ku cari terus sosoknya hingga langkah ini terhenti menatap sepasang muda mudi sedang bersetubuh di balik sebongkah batu besar, tak jauh dari mereka tampak seorang laki-laki yang sedang merekam kejadian itu. Itu rizal ya tidak salah lagi rizallah yang sedang memegang hp merekam adegan porno itu. Ku langkahkan kembali kakiku mendekati mereka, aku semakin mengenali mereka. Hatiku terbakar, aku cemburu,aku marah melihat adegan itu dilakukan oleh rita dan tunanganku yang tak lain adalah mas reihan.
"Berhenti."Teriakku dari jarak 3 meter di belakang mereka. Mereka tampak kaget,rita buru-buru memakai pakaiannya,tanpa rasa malu ia bahkan tersenyum sinis padaku yang masih memendam rasa amarah yang bahkan menggebu-nggebu.
"Dasar ****** murahan."Teriakku lagi,aku semakin mendekat pada seorang tak berdaya yang tengah tertidur di atas pasir beralaskan sebuah pasmina. Ku punguti pakaian mas reihan lalu kupakaikan pada tubuhnya lagi.
"Apa yang kau lakukan ******?" Aku semakin geram.
"Hahahahaha, cista santai,aku hanya bersenang-senang dengan tubuh itu, kau tau itu sangat nikmat dan bikin nagih. Kau ingin mencobanya? Soalnya junior reihan tidak akan tidur selama 3 jam, masih banyak waktu jika kau ingin mencicipi tubuh tunanganmu itu."
Aku mendekati rita,ku tampar wajahnya lalu ku dorong tubuhnya hingga jatuh di atas pasir.
"Aku bukan ****** macam dirimu,dasar licik." Ku raih ponselku di dalam saku, ku telepon kak dzaky. Tampak ada kekhawatiran di wajah kak dzaky saat tiba di tempatku terduduk memangku kepala mas reihan. Kami membawanya pulang ,dalam perjalanan aku menjelaskan semua yang terjadi. Hingga rasa khawatir di wajah kak dzaky berubah menjadi rasa marah yang siap meledak kapanpun. Sampainya di rumahku,aku menyuruhnya membawa mas reihan pulang karena aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
Aku masuk ke dalam kamar,ku kurung diriku sendiri di dalamnya, hanya menangis yang bisa ku lakukan saat ini untuk mengurangi rasa marah dan cemburuku, walaupun aku tau mas reihan tidak bersalah tapi tetap saja aku cemburu aku marah. Aku juga takut kalau mas reihan akan meninggalkanku kerena rita hamil, aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Terlebih aku sendiri yang mengelap cairan ****** yang bercecer di perut mas reihan tadi. "Dasar cewek kurang ajar,******." Ku usap wajahku kasar,aku benar-benar terluka.