
Aku terbangun dari tidurku ketika aku mendengar suara yang sangat familiar.
Clara:" ayah jahat aku benci ayah".
ayah:" maafkan ayah, ayah khilaf nak , ayah tak menyangka kalau ibumu akan senekat ini".
clara:"itu karena kesabaran ibu sudah habis, ayah jahat"
.
ayah:"maafin ayah".tanpa disadari air mata menetes dari mata tegas ayah, untuk pertama kalinya aku melihat ayahku yang galak menangis.
dokter:"dengan keluarga ibu risma?"
ayah:" saya suaminya,bagaimana keadaan istri saya dok?"
dokter:"maaf pak,kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun rupanya Allah lebih menyayangi istri bapak."
ayah:"maksud dokter?"
dokter:"istri bapak meninggal dunia,kami dari pihak rumah sakit mengucapkan turut berbela sungkawa, yang sabar ya pak, kami permisi."
Aku mencoba mencerna semua kata yang diucapkan oleh dokter,ku perhatikan ayah dan kedua kakakku yang terus menangis hingga tanpa disadari akupun ikut menangis. Kehilangan seorang ibu,tidak pernah terlintas sedikitpun,dalam hatiku terus menyalahkan diriku sendiri yang begitu bodoh karena tidak tau apa yang ibuku minum di pagi itu.
Ibuuuuu.
Rumah sudah ramai oleh para pelayat, aku masih terus menangis,aku bingung bagaimana harus hidup tanpa ibu. Hanya menangis yang bisa kulakukan saat itu tanpa peduli lalu lalang orang yang mengurus pemakaman ibu, hingga malam berganti menjadi pagi lagi. Aku terbangun tanpa ibu di sampingku, aku menangis lagi terlebih aku harus melihat keadaan rumah yang nampak tak berpenghuni ini. Semua orang membisu, memusuhi ayah bahkan tidak ada seorangpun yang mengajak ayah berbicara, semua menyalahkan ayah karena tega berselingkuh dengan teman ibu untuk yang kesekian kalinya hingga ibu nekat meminum racun.
Sekarang apa yang harus cista lakukan bu? tanyaku dalam hati. Lamunanku terhenti saat aku mengingat perkataan ibu yang terakhir kalinya kalau aku harus jadi anak yang baik dan pintar. "aku harus memenuhi keinginan ibu,aku harus jadi anak yang baik dan pintar".
Sudah berbulan-bulan kedua kakakku mogok bicara hingga suatu pagi ayah meminta maaf untuk yang kesekian kalinya.
ayah:"maafkan ayah, tolong jangan benci ayah lagi!"
clara:" kami juga minta maaf yah,tidak seharusnya bersikap seperti ini ,maafkan kami ayah."
Sejak pagi itu keluarga kami kembali damai, Kak Clara memutuskan untuk tinggal bersama kami demi merawat kami yang sejatinya masih sangat membutuhkan ibu. Sedangkan Kak Yahya suami kak clara memutuskan untuk merantau di Bandung,ia bekerja menjadi satpam di sebuah hotel bintang lima. Satu atau dua bulan sekali ia pulang untuk melepas rindu pada anak dan istrinya.
Waktu begitu cepat berlalu kini aku sudah kelas lima,aku sudah makin besar dan bisa sedikit memahami alasan kenapa Kak Clara memutuskan untuk menyusul Kak Yahya di Bandung,selain karena mereka sudah membeli rumah di sana,juga karena Kak Clara ingin aku dan Kak Citra belajar mandiri.
Belum genap sebulan Kak Clara pergi ke Bandung,aku dan Kak Citra harus di bingungkan dengan kepergian ayah. sudah seminggu ayah pergi meninggalkan kami berdua,semakin bingung karena kabar yang kami dengar di luar rumah, katanya ayah pergi bersama tante mira selingkuhan ayah waktu itu, padahal tante Mira masih memiliki suami. Rasa benci yang dulu sudah mulai hilang kini justru semakin bertambah. Aku benci ayah,kata itu selalu keluar dari mulutku ketika aku di bully "ayahmu pembawa kabur istri orang" . Sakit sekali hati ini,sakit itulah yang membuatku semakin sebal dan benci pada ayahku sendiri.
Kebencian itu masih terus tertanam bahkan setelah bertahun-tahun terlewati.