
Siang itu aku berada di depan gerbang kampus untuk menunggu angkot.
Kring kring kring kring kring.
"Hallo assalammualaikum kak."
"Wa'alaikumsalam cista, kamu bawa kunci rumah kan?"
"Bawa kak ada apa?"
"Kakak harus pulang ke Banyumas karena ayah sakit, kamu tetap di sini bersama Mega,tetap fokus dengan ujianmu,oke."
"Ayah sakit apa kak?"
"Paman herman belum memberitahu perihal sakit ayah,katanya nunggu kakak sampai di sana saja ." Jawab clara berbohong agar cista tidak khawatir dan tetap fokus dengan ujiannya yang tersisa sehari lagi.
"Baiklah ,hati-hati di jalan, kabari lagi perkembangannya."
Telpnya terputus,akupun kembali menunggu angkot dan segera pulang.
" Hei cista."Sapa kak bayu
"Eh kak bayu kok di sini?"
"Kebetulan lewat terus liat kamu di sini jadi putar balik hehe."
"Kamu nungguin angkot?"
"Ya nih dari tadi penuh angkotnya."
"Ayo naik aku antar ."
"Ngga usah kak biar aku naik angkot saja,takut ngrepotin." Jawabku.
"Apa ini waktunya aku menerima orang lain? Tapi, apa aku bisa? Mungkin aku harus mencobanya." Aku mencoba bertanya pada diriku sendiri.
"Ngga ngrepotin kok,santai saja. Pakai ini!"
Aku pakai helm yang dia berikan,akhirnya aku menerima tumpangan darinya karena hari semakin terik pasti mega juga sudah pulang sekolah dan menungguku.
"Makasih ya kak, mau mampir?"
"Sama-sama, lain kali aku akan sering main ke sini, itupun kalau boleh."
"Hehe boleh kok main saja."
"Ok,aku pamit dulu ya. "
"ya ,sekali lagi makasih ya kak."
"See you."
POV HERMAN
Di sebuah rumah sakit.
"Mas han,alhamdulillah akhirnya mas sadar."
"Herman."
"Ya mas."
"Apa kamu ngabarin keponakan-keponakanmu?"
" Clara dalam perjalanan mas, kalau cista sedang ujian jadi belum tau tentang hal ini biarkan dia fokus dengan ujiannya, sedangkan citra tadi belum bisa di hubungi."
"Man, aku yakin tadi itu anaknya mira ,si rian."
"Ya mas benar ,bocah itu sudah di amankan,tenang saja."
"Kenapa anak itu menjadi penjahat ?"
"Mungkin karena dia kurang kasih sayang mas, terlebih mira tidak pernah mengurus anaknya dari dulu."
"Aku bersyukur anakku bisa bersikap dewasa saat aku sedang khilaf dulu. Aku jadi merasa bersalah pada anak itu secara tidak langsung aku membuat ibunya semakin jauh ,jadi wajar saja dia dendam padaku man."
"Mas juga korban si mira, jangan salahkan dirimu sendiri, yang penting sekarang mas sudah kembali pada kami,keluargamu."
"Ya man aku bersyukur, Allah cepat menyadarkanku."
"Mas, sebenarnya rian sering mengganggu cista?"
"Mereka kuliah di tempat yang sama. Tapi untungnya Cista kita tangguh mas,dia keponakanku yang sangat istimewa, aku bangga menjadi pamannya."
"Siapa dulu ayahnya."
"Aku yang mengajarinya bela diri mas."
"Baiklah,baiklah. aku mengalah,hahaha. Karena aku harus selalu mengalah pada bocah sepertimu."
"Mas, sebentar lagi aku punya anak ,jadi berhentilah menganggapku bocah."
"Baiklah bocah,aku mengerti."
" Mas, aku mencintaimu."
" Dasar bocah edan. "
flasback on
Malam itu,aku sedang keliling kampung untuk memenuhi kewajibanku menjalankan ronda bergilir. Aku mendengar orang berkelahi dari arah rumah mas handoyo ,kakakku. Dengan cemas aku mempercepat langkahku untuk membantunya.
"Mas,kamu baik-baik saja."Teriakku.
"Pergilah man,selamatkan dirimu."
"Tidak mas,aku adik yang berbakti jadi aku akan membantumu, lagian sebentar lagi warga pasti akan datang."
Saat mas han sedang tidak fokus karena obrolannya denganku tiba-tiba orang yang memakai penutup kepala itu menusukan sebilah pisau ke perut mas han, lalu ia berusaha kabur,untung saja warga berhasil menangkapnya dan langsung membawanya ke kantor polisi.
Sementara aku dan seorang warga membawa mas han ke rumah sakit, darah yang keluar sangat banyak ,akupun semakin khawatir.
"Lebih cepat lagu nyetirnya,aku tidak ingin kita terlambat menolong kakakku."
"Ya man ini sudah cepat, kau ingin kita mati di jalan karena kecelakaan?"
"Tutup mulutmu, cepat tapi hati-hati."
" Ok man." Jawab orang itu yang tak lain adalah tetangga sekaligus temanku,namanya anto.
"Tolong cari beberapa orang yang bergolongan darah AB, bawa ke rumah sakit X ,cepat." Perintahku pada bawahanku di kantor polisi.
"Kan di rumah sakit juga ada stok darah man."
" Aku tidak mau ambil resiko jika persediaan darah di sana habis, kita harus berjaga-jaga to**l."
"Ok bos, kau memang adik yang sangat berbakti, dan sangat menyayangi kakakmu."
"Harus,mas han juga sudah berkorban bantak untuk hidupku."
"Aku selalu haru pada kalian tapi kadang aku juga iri karena aku tidak bisa akur denfan saudara-saudaraku."
"Itu sih masalahmu,hehe."
"Dasar bocah teng**."
Flashback off
Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara, sejak ayah ibuku meninggal aku di asuh oleh kakakku handoyo dan istrinya kak risma. Merekalah yang membiayai hidup dan pendidikanku hingga aku lulus dari akademi kepolisian. Sekarang aku sudah menikah dan memiliki rumah sendiri yang jaraknya hanya 50 meter dari rumah mas han. Istriku sedang hamil 5 bulan sekarang.
Aku sangat menyayangi mas han walaupun sempat kecewa dengan perilakunya yang meninggalkan anak demi bisa bersama mira tapi syukur alhamdulillah Allah cepat menyadarkan kekhilafannya dengan menunjukkan jati diri mira yang sebenarnya.
Beberapa jam kemudian clarapun sampai,aku menjelaskan segalanya dengan detail.
"Paman aku tidak bisa diam sekarang, Rian benar-benar keterlaluan. Dia juga beberapa kali menculik cista dan hendak melecehkannya, dia juga yang menyebabkan mobil reihan kecelakaan. "
"Apa?"
"Maaf paman aku baru memberitahukannya sekarang karena cista melarangku, cista tidak ingin rian di penjara karena cista merasa kasihan padanya."
"Ya Allah ,anak itu ."
"Tapi sekarang aku ingin dia mendapatkan hukuman yang setimpal atas ulahnya selama ini."
"Baiklah,paman ke kantir dulu, jaga ayahmu, beritahu adik-adikmu di waktu yang tepat terutama cista."
"Baik paman, hati-hati."
Aku berjalan sambil mengepalkan kedua telapak tanganku menahan marah pada bocah ingusan yang bernama rian anak dari perempuan hina bernama mira.