
Waktu pelajaran pun sudah usai seluruh siswa dan siswi membubarkan diri.
Sesuai yang sudah di janjikan beberapa teman Elin sudah menunggu di halaman parkir sekolah, mereka menunggu kedatangan Albi.
Terlihat sebuah mobil mewah memasuki pelataran sekolah kemudian berhenti diparkiran. Albi pun membuka pintu mobil dan turun dari mobil tersebut, Elin dan teman-teman nya pun berjalan menghampiri.
"Siang Abang."
"Siang, Ayo Elin kita pulang."
"Abang, tunggu dulu sebentar Abang sini deh...ikut Elin."
Elin menggandeng sang kakak kehadapan teman-teman nya. dan memperkenalkan mereka satu persatu.
"Abang teman Elin mau berpoto sama abang boleh ya?"
Albi melotot kepada Elin , tetapi Elin pura-pura tidak melihatnya.
"Ayo-ayo Siapa dulu yang mau poto, ini Abang ku sudah siap."
"Abang tersenyum lah ,abang harus ramah sama teman-teman Elin."
Elin berbisik Ke telinga Albi.
Dengan hati kesal Albi pun tersenyum dan Ber poto satu persatu dengan keenam teman Elin.
"Ye sudah selesai, sana-sana kalian bubar..bubar.." ucap Elin kepada teman teman-teman nya.
Merekapun segera pergi setelah mengucapkan Terimakasih kepada Albi, mereka terlihat bahagia berjalan sambil melihat kamera ponsel masing-masing, sambil tertawa bangga.
"Elin ini uangnya, lumayan lin kalau setiap hari seperti ini."
Susan menyerahkan enam lembar uang seratus ribuan kepada Elin, Elin pun segera mengambil uabg tersebut dan memasukannya kedalam saku seragam sekolahnya, kemudian Elin pun segera mengajak Albi untuk pulang.
Di dalam perjalanan, Albi bertanya kepada Elin.
"Jelaskan uang apa yang tadi susan berikan kepada mu!"
"Itu uang....uang aku yang di pinjam Susan."
"Kau pikir aku bodoh hah... , cepat katakan uang apa itu sebenarnya?"
Albi.menjewer telinga Elin.
"Aw..aw...sakit Abang lepaskan, kalau abang sudah buat apa tanya Elin lagi."
Elin memegang tangan Albi yang menjewer telinganya dan berusaha melepaskan tangan Albi.
"Katakan nanti aku lepas."
Albi pun melepaskan jeweran nya, dan Elin mengelus-elus telinganya yang terasa sakit dan panas.
"Maaf Abang uang itu, uang bayaran poto bersama Abang, teman-teman Elin meminta poto dengan Abang, maksud Elin jika Elin memasang target bayaran kepada mereka maka mereka akan membatalkan keinginannya untuk ber poto dengan Abang, tetapi eh mereka malah setuju."
Elin tertunduk saat mengucapkan nya, takut jika sang kakak marah.
"Kau pikir aku ini cowok apaan? kau hanya memasang harga seratus ribu untuk ber poto dengan ku, seharusnya kau pasang harga Satu juta untuk satu poto, kau pikir aku ini tampang murahan."
"Hah..." Elin bengong tidak percaya dengan apa yang Albi ucapkan, Elin pikir Albi akan memarahinya, tetapi ternyata Albi lebih parah dari Elin.
"Kenapa bengong, jangan mangap nanti lalat masuk mulut mu."
"Kenapa Abang jadi mata duitan, begitu??"
"Kan uangnya bukan buat aku!"
"Iya juga ya bang, Kenapa Elin cuma minta seratus ribu harusnya Elin minta lebih, ya sudah Besok-besok Elin pasang tarif satu kali poto satu juta."
"Pletak" Albi menjitak jidat Elin.
"Aw... abang sakit "
"Jangan di ulangi lagi akun tidak akan memaaf kan mu kalau kau menjual poto ku lagi."
"Ya maaf Abang, tapi lumayan lo bang kan Elun dapat uang tambahan buat di tabung."
"Sudah aku bilang kalau butuh apapun minta saja kepadaku jangan sungkan."
"Terimakasih Abang ku sayang."
Elin memeluk Albi dari samping.
"Elin awas aku sedang menyetir, dan dengarkan satu lagi kau jangan sembarang peluk-peluk pria apa lagi kepada pria lain."
"Ya ga lah Abang Elin kan belum pernah peluk pria lain ini saja Elin baru peluk pria, lagi pula pria yang Elin peluk bukan pria sembarangan tetapi pria ini Abangnya Elin."
Ucap Elin sambil tersenyum manis kepada Albi.
"Dasar Adikku yang cantik dan manja"
Albi mencubit manja Hidung mancung Elin.
Setelah setengah jam merekapun sampai ke rumah Hendrayana.
🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA🍁
🍁🍁🍁