
Elin dan Kristina pun duduk dalam diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aduh....dedy Pasti marah, karena pekerjaan nya terganggu, gara-gara gua bertengkar lagi." gumam Kristina dalam hati.
"Kira-kira siapa yang di hubungi dan akan datang kesini ya tidak mungkin kan kalau mommy yang datang, astaga gawat kalau sampai Abang yang datang, Elin kan sudah janji sama abang kalau Elin tidak akan nakal dan tidak akan bikin abang susah , gawat...gawat...gawat...gimana dong ini?" gumam Elin dalam hati.
beberapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang berjalan menghampiri ruangan tersebut, Seorang pria dan wanita paruh baya datang dengan gaya Angkuh.
"Permisi bu, kami orang tua Kristina, ada apa ya kqmu di panggil ke sekolah."
"Silahkan masuk Bapak ,ibu" ucap ramah sang guru BK tersebut.
Kedua orang tua Kristina pun masuk kedalam ruangan tersebut, dan mereka kaget melihat sang putri dengan baju basah dan rambut acak-Acakan.
"Sayang kau kenapa?" Ucap mamih kristian menghampiri putrinya.
Kristina pun mengadu kan perbuatan Elin kepada kedua orang tuanya dan kedua orang tua Kristina pun menatap tajam penuh amarah, kepada Elin, Elin yang di tatap hanya bisa tertunduk, ia tidak bisa melawan kedua orang tua tersebut.
Ayah Kristina pun menghampiri Elin dan menunjuk-nunjuk Elin.
"Kau berani nya berbuat seperti itu kepada putriku, kau tidak tahu siapa aku hah...aku akan mematahkan tangan mu dan menjebloskan mu kedalam penjara."
"Siapa yang berani mematahkan tangan adik ku dan menjebloskan nya kedalam penjara, sini hadapi dulu aku."
Ucap Albi yang baru saja tiba merasa geram dengan ancaman Seorang pria tua kepada Elin.
Semua yang berada di sana pun berbalik dan menatap kearah suara.
Albi berjalan menghampiri Elin.
"Pak Albi" ucap dedy menyapa Albi dan merasa heran jika atasannya itu datang kesana.
"Pak yosep, anda mau mematahkan tangan adikku dan mau memasukannya kedalam penjara?"
"Tidak pak, saya tidak berani tadi itu saya hanya menggertak saja pak!"
"Anda tahu siapa saya kan dan kehidupan anda dan keluarga anda ada di tangan saya."
Ucap Albi jumawa.
"Iya tentu saja pak Albi, ini hanya salah pahan saja biasa kenakalan remaja nanti juga mereka akan akur lagi."
yosep tersenyum tanggung di hadapan atasannya.
"Jadi bagai mana dengan adik saya bu guru?"
"Elin dan Kristina tetap saja akan di berikan sangsi, karena mereka sudah membuat onar dan kegaduhan di sekolah, tepat nya di kantin sekolah."
"Baik saya setuju dengan keputusan ibu, dan untuk kedepannya saya tidak mau ada yang menghina lagi adik saya dan berbuat macam-macam kepada nya."
"Iya tentu saja pak kami pihak sekolah berusaha mendidik dan menjaga semua murid di sekolah ini, dan kejadian tadi di luar pengetahuan kami."
"Ya sudah bu guru, pak yosep dan Nyonya yosep urusan kita sudah selesai, bisa saya pergi nan membawa adik saya untuk pulang, karena melihat kondisi nya saat ini saya rasa adik saya tidak bisa melanjutkan pelajaran hari ini."
"Iya tentu saja pak silahkan, dan untuk Elin dan Karin ibu Harapan kejadian ini tidak akan terulang kembali, dan untuk hukuman kalian selama tiga hari kedepan setelah jam pulang sekolah tiba kalian berdua harus membersihkan dulu kamar mandi sekolah."
"Ibu guru, itu tidak masuk nakal saya menyekolahkan anak saya untuk belajar bukan untuk jadi petugas kebersihan!"
Ucap pak Yosep lantang.
"Itu sangsi hukuman untuk mereka pak, saya Harap bapak bisa mengerti karena sekolah kami pun memiliki peraturan yang harus di jalani."
"Eh...I..iya heheh..."
Ucap Elin terbata , menjawab pernyataan dati abangnya itu, dan mau tidak mau mereka semua pun setuju, walaupun sebenarnya mereka kesal.
"Baik lah kalau begitu terimakasih atas waktunya bapak dan ibu yosep selaku wali dari kristina ,serta pak Albi wali dari Elin."
Mereka semua pun keluar dari ruangan BK tersebut, Elin dan kristina berjalan ke kelas mereka untuk mengambil tas mereka yang masih berada di bangku mereka.
"Pak Albi, permisi saya duluan."
"Iya silahkan pak yosep"
Kristina dan kedua orang tuanya pulang terlebih dahulu.
Albi dan Elin berjalan di koridor sekolah, para murid perempuan berkerumun mengintip di jendela kaca kelas mereka, mereka kagum dan terpesona oleh Albi.
Merekapun saling berbisik dan mengagumi Albi .
"Wow..aku baru tahu kalau Elin mempunyai Kakak yang sangat tampan..." beberapa teman sekelas Elin saling berbisik kagum.
Elin dan Albi pun segera menaiki mobil ,Albi duduk di depan kemudi dan Elin duduk di sampingnya.
Elin tertunduk karena takut jika Albi akan kembali memarahinya.
"Abang Elin minta maaf, sudah merepotkan abang lagi."
"Apa yang kau lakukan kepada putra yosep itu"
"Dia menghina Elin, jadi Elim siram memakai air es jeruk, kemudian dia menjambak rambut Elin dan Elin balas lagi."
"Cuma segitu saja?"
"Maksud Abang??" Elin tidak mengerti pertanyaan Albi
"Kau hanya menjambak dan menyiramnya saja, kenapa tidak kau tampar,kau tonjok, kau tendang, itu kan lebih seru."
"Hah... abang ... Elin pikir abang akan marah, ini abang malah suruh Elin seperti itu."
"Itu karena aku tidak mau ada yang menghina dan merendahkan keluarga kita."
"Kemampuan mu hanya segitu saja, mulai besok aku akan memasukan mu les!"
"Yes.... Abang mau memasukan Elin les bela diri hore... Elin suka itu bang."
"Bukan, mulai besok kau ikut les kepribadian, supaya menjadi wanita anggun dan tau tatak ramah."
"Is... abang, ga seru ah...Elin pikir abang dukung Elin."
"Mendukung itu ke hal yang positif, bukan hal yang negatif"
"pletak" Albi menjitak kepala elin.
''Abang sakit..." Elin mengelus keningnya yang terasa sakit."
🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA🍁
🍁🍁🍁