
Pagi hari nya, Sonia terbangun lebih cepat dia bersiap.untuk segera pergi menyusul suaminya keluar negri.
"Tok...tok...tok..." Sonia mengetuk kamar Elin
Tidak ada Sautan dari dalam Sonia pun masuk kedalam kamar sang putri dan duduk di pinggir ranjang.
"Elin... Ayo cepat bangun, ini sudah siang mom mau pergi "
"Mommy jadi pergi ,Elin di tinggal di sini sendiri dong mom Elin takut mom kalau di sini tanpa mommy."
Elin memeluk pinggang sang mommy sambil berbaring.
"Ayo lah jangan manja , mommy pergi tidak akan lama, kamu kan tinggal disini tidak sendiri, kalau ada apa-apa minta tolong saja sama Mbok Siti,"
"Tapi Elin takut mom, bagai mana kalau anak tiri nya mom jahat sama Elin, dan membuat Elin tersiksa di rumah ini saat mom tidak ada!"
"Halah mom tau benar bagaimana Kamu Elin, yang pasti bukan kamu yang tersiksa justru Albi yang akan merepotkan menjaga kamu Hahah...."
"Is mom ko gitu sih, mom pikir aku itu tukang rusuh"
"Emang"
"Heheh... kan aku keturunan mom jadi ya jelas lah sikap ki mirip mom."
"Mom Elin semalam dengar mommy marah-Marah di kamar sebelah, ada apa sih mom."
"Oh itu Albi, kemarin malam mom jemput sedang dalam keadaan.mabuk di apartemen kekasih nya jadi mom marahin dia dan dia balik marah juga ke mom."
"Mom kenapa ikut campur itukan urusan dia, lagi.pula dia kan sudah besar dan lagian dia bukan anak nya mom juga kan."
"Albi bukan anak kandung mom, tapi Albi anak nya papi Agung, sekarang ini mom adalah istri papah nya Albi, jadi otomatis Albi jadi anak.mom juga kan."
"Dan sebagai ibu mom tidak akan membiarkan anak mom terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat seperti yang mom alami dulu."
"Iya mom Elin mengerti mom"
"Dengar kan Elin , Kau dan Albi saat ini sudah menjadi saudara kalian adalah adik kakak jadi mulai sekarang kalian harus saling menjaga dan melindungi,"
"Iya mom, mengerti."
"Elin jangan biarkan Albi terlalu dekat dengan kekasih nya itu, karena Mom bisa mencium niat busuk dari wanita yang bersama Karin itu."
"Kenapa Mom sangat perduli sih sama anak tiri mom itu?"
"Dasar bodoh , kalau Albi memiliki istri seorang wanita yang licik maka akan banyak merugikan keluarga kita, dan mom tidak akan membiarkan rencana wanita itu berhasil."
"Walau.pun mom bukan pewaris Hendrayana tetapi mom tidak akan membiarkan keluarga Hendrayana memiliki penerus dari wanita jahat seperti Karin."
"Ingat Elin kalau bukan karena jasa Agung Hendrayana dan istrinya mungkin saja kita akan hidup terus terlunta-lunta di jalanan."
"Sudah Ayo bangun Elin, cepat mandi , sarapan dan pergi lah Ke sekolah ,lima belas menit lagi mom berangkat."
"Iya Mom, hati-hati di jalan salam sama papi "
Elin pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan malas ke kamar mandi.
Sonia pun keluar dari kamar sang putri dan masuk ke kamar Albi.
"Hai...hai...hai....selamat pagi Putraku tercinta."
Sonia berjalan dan membuka gorden kamar Albi, matahari pagi pun menyinari kamar tersebut, Albi yang merasa tidurnya terusik berdetak sebal kemudian menutup wajah nya yang terkenal sinar matahari dengan selimut.
"Pergi saja aku tidak peduli"
"Dengar Albi, aku menitipkan Elin kepada mu, jaga dan awasi dia, dak kau harus menjadi kakak dan contoh yang baik untuknya."
"putri mu Kan sudah besar jadi aku tidak perlu menjaga nya dia kan bisa menjaga dirinya sendiri."
"Pokonya jika terjadi sesuatu kepada putriku kau yang harus bertanggung jawab."
"Iya cerewet berisik sudah sana pergi, Nanti ketinggalan pesawat."
"Albi kalian kan orang kaya memangnya tidak memiliki perawat pribadi?"
"Ada tapi bukan untuk di naiki wanita barbar seperti mu, kasian perawat ku kalau kau ada di dalam nya berisik/seperti kaleng rombeng."
Albi menyeret Sonia kearah pintu kemudian membuka pintu dan mendorong Sonia untuk keluar dari kamarnya.
Sonia pun pergi dan segera meninggalkan kediaman Hendrayana. untuk menyusul suaminya Agung Hendrayana.
sedangkan Albi segera Mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor Hendrayana.
Setelah dirasa siap Albi pun segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan untuk sarapan, katera sejak kedatangan ga Sonia kerumah itu Albi yang tidak biasa sarapan pagi jadi terbiasa karena selalu di paksa sang ibu tiri.
"Tuan muda silahkan sarapan nya sudah siap."
"Iya terimakasih Mbok"
"Mbok kemana anak wanita gila itu"
"Siapa Tuan muda?"
"Itu Anak nya Sonia."
"Oh Neng Elin , tadi sudah berangkat sekolah."
"Hmm.... orangnya bagai mana Mbok?"
"Menurut si Mbok Neng Elin itu, cantik sekali tuan muda.*
" Bukan begitu Mbok, kelakuan nya apa seperti ibu nya atau tidak?"
"Mbok kurang tahu, kan mbok baru kenal Neng Elin, tuan muda."
"Kalau menurut si mbok sih , Neng Elin masih muda jadi kalau ada yang membimbing nya dengan baik pasti dia bisa bersikap baik juga, yang nama anak itu tergantung lingkungan sekitar dan pendidikan dari orang tua."
"Hmm..., Jadi penasaran juga dengan setan kecil itu ?"
"Ya sudah Mbok Albi berangkat dulu."
"Ya tuan muda, Maaf tuan pesan nyonya kalau tuan sudah pulang kerja jangan mampir kemana-mana apa lagi ke temat wanita ular itu lagi,"
"Ha.... mbok kenapa mbok ikut-ikutan memanggil Karin dengan sebutan wanita ular mbok!"
"Ya maaf tuan muda saya hanya menyampaikan pesan dari nyonya seperti itu ."
Albi menghela napas kasar kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan dan pergi menuju parkiran dan segera melaju menuju kantor Hendrayana.
🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA🍁
🍁🍁🍁