
Pagi hari di Kediaman Hendrayana, terjadi kegaduhan pasalnya Bunda Rasya di temukan tidak dasar kan diri diatas tempat tidurnya.
Sang perawat memeriksa denyut nadi Bunda yang semakin melemah, di memutuskan untuk memberi tahu Tuan muda Albi.
Tok..tok..tok..., perawat itu mengetuk pintu kamar Albi.
Tidak lama kemudian Albi membuka pintu kamarnya, terlihat Albi yang baru saja selesai mandi sedang mengeringkan rambut nya yang masih basah, bahkan Albi masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya , Albi baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
"Maaf menggangu tuan muda, saya ingin menyampaikan kalau keadaan Bunda semakin lemah dan saat ini bunda tidak sadarkan diri." ucap perawat itu sambil tertunduk.
"Apa?" Albi pun segera berlari kekamar Bunda dan segera melihat kondisi Bunda.
"Tuan muda kita harus segera membawa Bunda ke Rumahsakit," ucap sang perawat "Saya sudah menghubungi ambulance supaya segera datang kemarin" lanjut nya.
"Iya ayo bersiap kita akan berangkat sekarang juga" ucap Albi dengan raut wajah khawatir.
"Tuan muda saya sudah menyiapkan keperluan bunda dan sebaiknya tuan muda bersiap," ucap perawat itu.
"Tidak perlu bersiap, saya seperti ini saja" ucap Albi penuh percaya diri.
"Tapi Tuan muda belum mengenakan pakaian, pa tuan muda mau pergi dengan hanya memakai handuk" Ucap sang perawat rasanya ingin sekali tertawa tetapi tidak berani.
Albi pun melihat penampilannya saat ini karena panik Albi tidak menyadari jika dia baru saja selesai mandi dan belum memakai pakaian.
Albi pun segera berlari masuk kedalam kamarnya dengan rasa Kalau yang teramat sangat, kemudian Albi segera menyambar baju, celana dan dalaman yang mudah dia raih, dan segera menggunakan nya.
Setelah beberapa menit Ambulan pun tiba Petugas segera memindahkan bunda Ke atas berangkat dan segera menarik kan bunda kedalam mobil, mobil ambulance pun segera melaju dengan cepat.
Sesampai nya di rumah sakit , bunda di masukan ke ruangan ICU ,perawat memasang Berbagai alat medis di tubuh Bunda.
Albi menunggu du luar ruangan tersebut dengan rasa khawatir yang sangat besar.
Setelah kurang lebih satu jam setengah, seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut, Albi segera menghampiri nya .
"Dokter bagaimana kondisi Bunda saya?" tanya Albi
Sang dokter menghela nafas panjang sambil tertunduk dia berucap " Maaf kan saya, saya sudah berusaha sebaik mungkin tetapi Tuhan berkehendak lain, Tuhan sudah mengambil nya kembali" Dokter itu pun memeluk pundak Albi.
"Bunda... jangan tinggalkan Albi, Bunda...jangan tinggalkan Albi Bunda...hik...hik...hik Bunda maaf kan Albi Bunda...." Albi pun menangis tersedu-sedu terasa pilu Bagi yang mendengarnya.
Trak...trak...trak... terdengar suara langkah kaki yang berbenturan dengan ubin , ternyata Ayah Albi baru saja sampai ke rumah sakit setelah dia mendapat kabar tentang kematian bunda dari sang perawat bunda.
Ayah berjalan menghampiri jasad Bunda, Ayah pun menangis di hadapan pan jasad Bunda, tetapi Tiba-tiba bug... sebuah pukulan mendarat di wajah sang Ayah.
"Jangan pura-pura bersedih, kau.pasti bahagia Kan melihat Bunda meninggal dunia?" ucap Albi penuh Amarah.
Ayah hanya menunduk terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Simpan saja air mata buayamu , kamu tidak butuh itu" lanjut Albi.
Petugas pun membawa Jasad Bunda untuk di mandi kan dan di pakaikan kain kapan.
Ayah segera memerintahkan kepala pelan untuk mempersiapkan segala nya untuk pemakaman Istrinya, dan memberi kabar kepada semua kerabat mereka.
Setelah jasad Bunda selesai di mandi kan dan di pasangan kan kapan, Ambulance kembali membawa nya ke rumah dulu sebelum di bawa ke pemakaman.
Di rumah pelayad sudah mulai berdatangan, sanak sodara teman bisnis dan juga tetangga berkumpul di kediaman Hendrayana, tidak terkecuali , kekasih Albi pun datang kerumah itu.
"Albi kamu yang sabar ya sayang, kamu tabah ya ,.kamu iklaskan kepergian Bunda supaya Bunda tenang di sana." ucap sang kekasih menenangkan Albi yang tidak hentinya mengeluarkan airmata.
Setelah seluruh kerabat tiba, jasad Bunda pun segera di bawa ke pemakaman, semua kerabat , teman dan tetangga mengantar ketempat peristirahatan bunda yang terakhir.
Setelah segala proses pemakaman selesai Merekapun kembali ke rumah masing-masing.
Rumah besar Hendrayana terasa sangat sepi, Albi mengurung diri di kamarnya, sedangkan sang aya kembali pulang kerumah istri mudanya.
🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA🍁
🍁🍁🍁