
Setelah selesai makan malam merekapun duduk bersantai di ruang keluarga, karin duduk di samping Albi ia dan Elin masih saja orang dingin.
Mereka berdua saling menunjukan rasa tidak suka satu sama lain.
"Sayang malam ini aku nginap di sini ya, boleh kan yank?"
Ucap manja Karina kepada sang kekasih.
Albi hendak menjawab pertanyaan karin saat ia akan membuka mulutnya tetapi Elin sudah terlebih dahulu berkata.
"Wah...wah... tante semakin terbukti saja wanita seperti apa diri mu!"
"Apa maksud mu Hah?"
"Tante wanita baik-baik tidak akan datang kerumah cowo malam-malam dan ingin menginap pula, hadeh...Abang benar-benar salah memilih pacar."
"Kau dasar bocah edan" Karin melempar bantal kursi kepada Elin.
"Astaga abang, kekasih mu ini galak, kasar, tidak sopan, Sudah tua pula."
"Sudah-sudah aku pusing mendengar dan melihat kalian bertengkar dari tadi, seperti tom & jeri saja."
"Dia yang mulai duluan." Karin menunjuk ke ara Eli.
"Elin kan hanya berkata apa adanya, tante saja yang emosian, Sabar tante kalau marah-marah terus nanti cepat tua."
"Elin sudah malam sana cepat pergi kekamar mu, dan segera beristirahat, besok jangan sampai bangun kesiangan."
"Iya Abang"
"Ya sudah sana, Abang mau antar dulu karina kerumahnya.".
" Iya abang hati hati, di jalan awas jangan sampai abang kena perangkap wewegombel ini."
Elin pun segera berlari menghindari amukan Karina kekasih Albi, benar saja karin melempar beberapa bantal ke arah Elin tetapi tidak ada satupun yang mengenai Elin.
"We...ga kena...ga kena..."
Elin menjulurkan lidahnya sambil bergoyang-goyang pinggul mengejek Karina.
"Sayang sudah lah kenapa meladeni anak Kecil."
"Apaan kamu dari tadi malah membela anak setan itu."
Albi menenangkan sang kekasih yang sedang emosi, dengan cara mengelus-elus pundak sang kekasih.
"Sayang aku tidak habis pikir kau tidak mengusir anak ****** itu dari rumah ini."
Albi menghela napas,kemudian berkata.
"Karin aku tidak suka pada Sonia , bukan berarti aku juga harus membenci putrinya, kau tahu walau pun Elin itu nakal tetapi kehadirannya memberi warna tersendiri di rumah ini, rumah yang sejak dulu selalu sepi karena kesibukan masing-masing sekarang Sudah terasa hangat, aku yang selalu tidak peduli dengan kehidupan orang lain dan hanya memikirkan kesenangan ku sendiri sekarang ini seperti mempunyai sebuah tanggung jawab,
Aku juga merasa kalau aku di butuh kan seseorang untuk aku lindungi, dan satu lagi tujuanku , aku ingin merubah sikap Elin agar kelak dia tidak mengikuti jejak ibunya yang nakal dan barbar, kau bisa lihat sendiri kan dia itu kasar dan aku ingin merubah nya menjadi seorang wanita yang lebih baik.
Elin itu masih kecil dan jika kita mendidiknya dengan benar aku yakin dia akan menjadi wanita yang baik, sebenarnya aku juga sangat kesal dengan sikapnya dia itu pembuat onar, tetapi dari sana aku bisa mengerti dan aku merasa jika ada seseorang yang membutuhkan aku dan harus aku lindungi walaupun statusnya hanya adik titi ku. "
"sayang tapi dia itu sudah dewasa bukan anak kecil, aku takut nantinya kau malah sayang lebih dari seorang kakak kepada adiknya.'
" Heheh....jadi kau cemburu sayang"
"Hm... menurut mu??"
"Sudah lah tidak perlu cemburu padanya, dia itu kan adik ku?"
"Tetap saja dia itu bukan adik kandung mu dan aku tidak suka jika kau terlalu dekat dengannya."
Albi hanya tersenyum menanggapi kecemburuan sang kekasih hatinya.
"Ayo sayang aku antar pulang sudah malam."
"Aku tidak mau pulang, aku mau tidur disini dengan mu malam ini.'
" Mana boleh, ayo aku antar pulang besok kita bisa bertemu lagi kan Sayang. "
"Hm... baik lah, awas saja kau jangan macam-macam dengan anak setan itu."
"Sayang, ayolah Elin itu masih kecil, nana mungkin aku macam-macam lagi pula kau tahu kan aku tidak pernah macam-macam."
"Masih kecil apanya sudah 18 tahun, sudah besar, masih muda ,cantik, tentu saja aku cemburu.'
Karin menggerutu sambil berjalan mendahului Albi keluar dari rumah tersebut, dan Albi pun segera menyusul kemudian mengantar karin pulang ke Apartemennya.
🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA🍁
🍁🍁🍁