My Sister Is My Love

My Sister Is My Love
Elin vs Karina



Keesokan harinya, Albi, Elin dan Mbok siti kembali ke kota, siang hari perjalanan yeng mereka tempuh cukup lama karena di sepanjang jalan yang mereka lewati macet total, seperti bisa jika hari libur jalanan bukan nya sepi tetapi malah semakin padat karena banyak yang pergi berlibur.


Elin dan Mbok siti sampai tertidur di dalam mobil, setelah beberapa jam merekapun tiba, Albi memarkirkan mobilnya di halaman rumah, kemudian dia membangunkan Elin dan Mbok siti.


"Mbok bangun mbok sudah sampai"


Mbok siti pun perlahan membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya sambil merentangkan tangannya tang terasa pegal.


"Elin bangun"


Albi menepuk-nepuk pipi Elin dengan tangannya, bukan nya bangun Elin malah menggeliat dan berbalik pindah posisi .


"Dasar kebo bangun...." Albi berteriak.


"Abang is... berisik."


"Bangun sudah sampai."


Mereka bertiga pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu rumah Hendrayana, dan segera masuk kedalam rumah kemudian masuk kedalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak.


Malam hari saatnya tiba makan malam, Karina datang kerumah Albi, karena Sehari semalam Albi tidak ada kabar jadi karin mencarinya kerumah.


"Mbok tolong panggilkan Elin, suruh turin untuk makan malam."


"Baik tuan muda"


Mbok siti pun pergi kekamar Elin dan memberitahu jika Tuan muda dan kekasihnya sudah menunggu untuk makan malam bersama.


kemudian Elin dan Mbok siti pun berjalan menuju ruang makan.


"Malam Abang"


Elin berjalan kemudian duduk di kursi yang bisa dia tempati.


"Malam ,Elin"


"Eh maaf Elin tidak melihat jika ada tante di sini, jadi tidak Elin sapa, maaf ya tante!"


Elin cengengesan sambil mengucapkan nya.


Karin tersenyum miring tidak suka dengan kata-kata yang Elin ucapkan barusan.


"Kau memanggilku tante, apa aku terlihat seperti tante tante?"


"Iya tante."


"Oh... bilang dong tante kalau tante itu calon kakak ipar Elin bukan tante Elin, Elin pikir tante itu adik nya papi Aging, makanya Elin panggil tante."


Karin melotot mendengar ucapan Elin barusan.


"Heh... kau pikir aku setua itu, dengar ya aku ini masih muda dan aku calon istri Albi, kau ingat itu anak kecil."


Karin menggebrak meja makan.


"Wow...wo... sabar tante jangan marah-marah nanti cepat tua."


"Kau" Karin mengepal tangannya kesal.


"Sudah-sudah kenapa kalian malah bertengkar, ayo sebaiknya kita makan saja."


"Aku tidak mau, selera makan ku sudah hilang."


"Tante sih... emosian jadi gitu kan, coba kalau tante slow... bawa santai aja tan jadi kan happy ga usah marah-marah."


"Albi aku tidak menyangka kau memiliki adik tiri seperti ini."


"Sutt.... tante adik seperti Elin ini susah di dapat, jadi Abang beruntung memiliki adik seperti Elin, ya kan Abang?"


"heh... orang seperti mu banyak di jalanan beruntung apanya coba."


"Abang sepertinya abang pikirin lagi deh masa Abang punya pacar model an kaya gini, kasar jelek sudah tua pula. upss... maaf tante Elin keceplosan."


"Kau dasar kurang ajar,lihat saja nanti kalau aku sudah menjadi nyonya Albi Hendrayana orang yang pertama aku usir itu adalah kau anak sialan."


"Baru calon kan, jadi jangan terlalu berharap banyak kemungkinan yang akan terjadi kedepannya kita tidak tau kan , siapa yang akan menjadi nyonya Albi Hendrayana."


"Sayang kau dengar adik tiri mu mendoakan supaya hubungan kita kandas."


"Kalau tante yakin jika tante akan menjadi nyonya muda Hendrayana, seharusnya tante tidak emosi seperti itu, iyakan."


"Berhenti memanggilku tante, Panggil aku Nona karin."


"Sudah hentikan perdebatan kalian aku pusing, dan ingin makan."


Merekapun terdiam kemudian memulai makan malam bersama, Elin dan Karina masih meneruskan pertengkaran mereka lewat sorot mata dan raut muka mereka, sedangkan Albi hanya menghela napas sambil menggeleng kepala tidak habis pikir dengan kelakuan dua wanita yang saat ini bersamanya.


🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁


🍁SALAM SAYANG KANIA🍁


🍁🍁🍁