
Malam hari..
Elin berjalan dan berhenti di depan pintu kamar Albi.
"Tok...tok...tok"
Elin mengetuk kamar Albi, tetapi hening tidak ada sautan dari dalam, Elin pun memutuskan untuk membuka sedikit pintu kamar Albi dan mengintip ternyata kamar tersebut sepi tidak ada siapa pun di sana.
Elin pun masuk dan berteriak memanggil nama kakak tirinya tersebut.
"Abang....abang....abang..."
Kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, Astaga Elin jangan masuk kamar sembarangan, ketuk pintu dulu sebelum masuk.
"Elin tadi sudah ketuk pintu berkali-kali terus teriak-teriak juga manggil abang, abang nya saja ga dengar."
"iya abang tidak dengar, lain kali jangan masuk sembarangan, bagai mana kalau Abang belum memakai pakaian?"
"Heheh... maaf bang, Elin tidak berpikir kesana!"
Albi duduk di tempat tidur sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran tepat tidur.
Elin pun ikut naik ketempat tidur dan duduk melipat kakinya dan menghadap ke arah Albi.
Albi pun melirik ke arah Elin.
"Katakan mau apa?"
"Heheh... abang, teman ku ada yang berulang tahun Elin mau membeli kado dan baju untuk kepesta"
Elin berucap wajahnya di buat seimut mungkin.
"Ya sudah besok pulang sekolah kita pergi berbelanja"
"Abang aku mau belanja bersama teman ku, tidak mau di antar Abang,"
"Ya sudah pergi saja bersama teman mu."
"Abang... uangnya" elin menengadahkan tangannya kehadapan Albi.
"Besok pagi saja "
"Sekarang saja , besok takut lupa abang."
Albi menghela napas kemudian ia berdiri dan berjalan menuju lemari dan mengambil dompetnya, kemudian mengambil sejumlah uang dan menyerahkannya kepada Elin.
"Terimakasih Abang."
"Iya, sudah sana pergi kekamar mu."
"Abang kenapa Elin tidak di beri uang yang di dalam kartu lo bang, kaya orang-orang kaya gitu, kan keren bang."
"Ya sudah nanti Abang kasih."
"Makasih Abang, memang abang terbaik sedunia."
Elin memeluk Albi, kemudian berlari keluar dari kamar Albi, Albi hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala
🍁🍁🍁
Keesokan harinya, mereka kembali ke aktifitas masing-masing, Setelah semua orang di sekolah bubar Elin dan Kristina mengerjakan hukuman mereka membersihkan kamar mandi sekolah.
Bukan ya rapi tetapi kamar mandi tersebut malah menjadi lebih berantakan, Elin dan Karin kembali saling menyiram dan saling menendang.
"Astaga...apa yang kalian lakukan?" teriak seorang petugas kebersihan sekolah tersebut.
"Kami sedang membersihkan kamar mandi."
"Seperti ini kalian bilang membersihkan? cepat simpan kembali semua alat kebersihan ketempat nya dan setelah itu pergi kalian dari sini."
Elin dan Kristina pun segera membereskan alat-alat kebersihan kemudian mereka segera pergi.
Elin mengganti dulu pakaian sekolahnya karena basah dan memang Elin dan Susan sengaja membekal baju ganti karena memang mereka akan pergi berbelanja sepulang sekolah.
Sedangkan Kristina pulang dengan keadaan basah karena dia tidak membawa baju ganti.
Setelah beberapa menit Elin dan Susan pun sampai di sebuah pusat perbelanjaan ter besar di kota tersebut, Saat mereka sedang berjalan, tidak sengaja Elin melihat Sonia juga berada di sana dan Elin pun menyapanya.
"Tante...." Elin berteriak dan melambaikan tangannya kearah Karina.
Karina yang melihat keberadaan Elin pun menatap sebal memutar bola matanya jengah.
Elin dan Susan berjalan menghampiri Karina.
"Heh...bocah, jangan panggil aku tante, dan aku di sini tentu saja untuk berbelanja."
"Heheh... sama dong tante aku juga mau berbelanja."
"Heh...paling kau hanya berbelanja barang murahan."
"Mana ada aku belanja barang murahan, aku kan nona muda keluarga Hendrayana, uang ku banyak, hmm... pasti tante tidak akan mampu membeli barang seperti yang aku pilih ya kan???"
" heh bocah jangan menghinaku , jangankan barang-barang yang ada di sini mall ini saja jika aku mau bisa aku beli."
"Aku tidak percaya!"
"Kau meragukan ku bocah?"
"Kalau tidak ada bukti mana mungkin aku percaya ya kan?"
"Oke akan aku buktikan, kalau uangku lebih banyak dari mu, aku akan membayar semua barang yg kau inginkan"
"Ok aku setuju"
"Karina sudah lah jangan ladeni anak kecil ini, sebaiknya kita pergi saja." ucap teman Karina yang sedang bersama Karina di sana.
"Nah tante benar kata teman tante kalau tante tidak.mampu sebaiknya tante menyerah saja."
"aku tidak akan menyerah"
"Go kita mulai aku ingin tahu sekaya apa tante ini, jadi aku bisa menilai layak atau tidak tante ini untuk menjadi kekasih abang ku, kekasih ya tante bukan yang lain, karena jika ingin naik level menjadi calon istri tante harus melaksanakan tes berikutnya."
"Ok aku setuju, akan aku buktikan jika aku memang layak untuk Albi dan bahkan sangat layak."
"Aku tidak akan menyerah, karena namaku Karina tidak akan ada yang mengalahkan atau pun menyaingi ku."
"Ok kuy tante, aku mau lihat apa tante layak.menjadi kekasih Abang ku atau tidak, kekasih ya tante bikan yang lain, jika ingin naik ke level yang lain tante harus melewati ujian berlanjutnya."
"Ok Aku setuju" Karina menerima tantangan dari Elin,
Elin pun berjalan.memasuki sebuah toko tas ternama, di ikuti oleh Susan, karina dan satu teman karina.
Elin mulai memilih Iya mengambil sebuah tas berwarna putih seharga dua ratus juta rupiah, kemudian Elin pun kembali mengambil sebuah tas berwarna merah seharga seratus delapan puluh juta rupiah
Kemudian Elin berjalan kearah tempat sepatu ia mengambil sepatu berwarna putih seharga seratus limapuluh juta rupiah kemudian Elin melanjutkan mengambil sebuah sepatu berwarna merah seharga seratus juta rupiah.
Kemudian Elin melanjutkan memilih sebuah gaun cantik berwarna putih seharga seratus dua puluh juta rupiah, dan baju berwarna merah seharga seratus lima puluh juta rupiah.
"Sudah segini saja dulu tante, aku takut jika tante tidak sanggup membayarnya."
"Heh... anak kecil kau benar-benar meremehkan ku. Pelayan tolong hitung semua barang-barang ini."
Karina menyerahkan kartu kredit kepada seorang pelayan di toko tersebut.
Setelah selesai di bungkus Karin menyerahkan belanjaan ter sebut kepada Elin
"Terimakasih tante, tante sudah berhasil di ujian yang pertama dan lolos menjadi kekasih bang Albi hore..." Elin bertepuk tangan kemudian mengambil barang belanjaan dan secepatnya pergi dari hadapan karin.
"Karin aku tidak mengerti kau itu bodoh atau apa, bocah itu memanfaat kan mu kau.masuk dalam jebakannya."
"apa maksudmu??"
"Coba kau lihat berapa banyak.uang yang kau berikan kepada bocah itu?
Rp 200.000.000,-
Rp 180.000.000,-
Rp 150.000.000,-
Rp 100.000.000,-
Rp 120.000.000,-
Rp 150.000.000,-
Total Rp 900.000.000,-
" Hah..... apa?? Sembilan ratus juta rupiah, dasar bocah sialan dia menguras uang ku.!
"Itu salah mu karena bodoh mau di kerjain oleh seorang bocah.
🍁TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA🍁
🍁🍁🍁