
Di sebuah kamar hotel seorang wanita cantik tidak hentinya mendesah di bawah kungkungan seorang Pria paruh baya yang masih sangat gagah, Pria itu melampiaskan hasratnya yang sudah lama terpendam.
Suara ******* mereka menggema berirama di kamar hotel tersebut mereka memadu kasih merenguh nikmatnya madu duniawi, sampai merekapun sama-sama mencapai puncak kenikmatan.
Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki seseorang setengah berlari, trak...trak... suara sepatu berbenturan dengan ubin lantai.
Tiba-tiba dug...brak Pintu kamar hotel tersebut di tendang oleh sorang pemuda berbadan kekar, bertubuh tinggi, berkulit putih dengan rahang yang tegas.
Pria muda itu di selimut emosi yang sangat tinggi, Apa lagi saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kelakuan bejat sang Ayah, diapun semakin naik pitam kemarahannya pun semakin memuncak.
Sang Ayah sangat kaget melihat kedatangan sang putra yang sedang di liputi amarah, ia pun segera turun dari ranjang mengambil baju dan segera menggunakan nya dengan tergesah-gesah.
Sedang kan sang wanita masih duduk santai di atas ranjang, sama sekali tidak ada raut wajah malu , kaget atau pun rasa takut, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan seperti sudah biasa menghadapi kejadian seperti ini.
Sang Ayah pun berjalan menghampiri sang putra dan hendak mengajak sang putra untuk turun dan pulang ke rumah untuk menjelaskan permasalahannya .
Bug... sebuah bogem mentah mendarat di pipi sang ayah, pelipisnya sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
"Dasar tua bangka tidak tahu diri, kau lihat jika istrimu saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati, tetapi kau malah bersenang senang di sini dengan ****** itu" ucap Albi dengan nada yang tinggi Albi mengepalkan tangan nya penuh emosi.
Sang Ayah hanya terdiam mengusap pelipisnya yang berdarah dengan ibu jarinya.
"Dan kau ****** tidak tahu diri , pergi dari sini cuih.... aku sangat jiji dengan ****** Seperti mu" ucap Albi mengusir teman kencang sang Ayah.
Albi pun berusaha menarik tangan wanita itu yang masih duduk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Cuih... dasar kau tua bangka ,sebegitu nya kau membelah ****** itu! " ucap Albi tersenyum sinis di hadapan sang Ayah.
"Bukan begitu Albi , tenang lah kita bisa bicara kan baik-baik" ucap Hendrayana berusaha menenangkan sang putra.
"Tidak ada yang perlu di bicara kan lagi dengan mu, dan kau ****** enyahlah kau dari hadapan ku," ucap Albi ketus
"Dasar ****** tidak tahu diri kau masih saja diam ,pergi kau dari sini!" Lanjut nya
Albi semakin geram saat melihat wajah angkuh sang wanita ****** itu, dan wanita itu masih saja duduk ditempatnya tidak beranjak sedikit pun Albi pun semakin geram dia menendang kasur yang ditiduri wanita ****** itu.
"Tuan Albi yang terhormat , anda menyuruh aku pergi dari sini, tetapi anda tidak memberikan kesempatan untuk aku menggunakan pakaian ku dulu, apa mungkin anda ingin melihat tubuh ku tampa busana." ucap wanita itu dengan tatapan sinis dan senyum mengejek.
Albi tercengang mendengar penuturan wanita ****** itu, yang memang wanita itu masih dalam keadaan tanpa busana dan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Albi pun pergi dari kamar hotel itu dengan Kemarahan yang belum reda sedikit pun, dalam hatinya menggerutu tidak habis pikir dengan perbuatan sang Ayah.
Albi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ,karena emosi yang masih menyelimuti nya, penghianatan sang ayah terhadap Ibunya yang sedang sakit keras membuat luka dan sakit hati yang sangat mendalam,
🍁TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR 🍁
🍁DI NOVEL KE 2 AUTHOR🍁
🍁SALAM SAYANG KANIA 01🍁
🍁🍁🍁