Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 65: Memaafkan


Pesawat yang mengantarkan sepasang suami istri yang tampak berbahagia itu pun mendarat dengan mulusnya. Tidak ada keluarga yang menjemput, mereka memilih menggunakan taxi bandara. hal ini dilakukan musa demi efisiensi saja. Kyai ibrahim sekeluarga sudah berkumpul di rumah Musa demi melihat kedatangan putra kebanggaannya.  


Musa dan Sitara memasuki halaman rumah mereka, semua keluarga sudah berkumpul termasuk Arya dan Cici, dengan senyum dan wajah penuh tanda tanya semua keluarga mengarahkan pandangannya kepada mobil yang baru saja berhenti di depan teras.


“Assalamualaikum semuanya? Musa dan Sitara keluar dari dalam mobil sambil mengucapkan salam, sebagian dari mereka menjawab ucapan salam dari dua sejoli itu. “Waalaikumsalam, anakku, masya Allah, abi sampe gak bisa ngenalin kamu nak,” sapa Ibrahim dengan mata yang berkaca-kaca. kyai kharismatik itu memeluk putra kesayangannya dengan rasa syukur yang luar biasa, Fatimah yang sedari tadi memandang terpana ke wajah sang putra, ikut menghambur untuk memeluk tubuh anak lelakinya itu. 


“Ayo nak kita masuk, kalian pasti lelah,” sela Satish mengajak anak dan menantunya untuk masuk ke dalam rumah. Setelah acara ramah tamah dan makan siang. Musa tidak ingin membuang waktunya. Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga yang luas sehingga mampu menampung mereka semua. 


“Papa, abi, umi dan daadee. Om dan Arya juga yang lainnya, saya minta waktunya sebentar mengenai masalah kebakaran pabrik yang kemarin. Apakah saya diperkenankan?” tanya Musa santun, Arya yang baru saja bertemu dengan Musa kali ini, tampak takjub dan terpesona dengan aura berwibawa yang menguar dari diri pemuda tampan itu. 


“Silahkan nak,” jawab Satish. “Papa, apakah boleh saya bertemu dengan Dev saat ini juga? Sitara sudah menceritakan semuanya kemarin, dan yang Musa dengar papa menyerahkan semuanya kepada Sitara. Kemarin Sitara menanyakan kepada saya apakah saya akan menghukumnya, saya masih belum menjawab, karena saya masih harus merenungkan dulu dan memohon petunjuk Allah apa yang harus saya lakukan.” jelas Musa mengenai permintaan dan sekaligus menjelaskan alasannya. 


Hal ini membuat Sitara paham apa yang menyebabkan kemarin tidak menjawab beberapa pertanyaannya. Sitara bersilang pandang dengan Arya. perasaan Sitara, hal ini akan membuat rencana nya mengajak Dev ‘Party’ akan gagal total. 


Arya menggeleng kecil, tidak ingin mengambil tindakan sendiri yang nanti akan menambah masalah, jadi dia memilih untuk mendengarkan dulu permintaan Musa, sebagai orang yang hampir saja terenggut nyawanya akibat ulah Dev sepupu mereka. 


“Arya, bawa Dev kesini,” titah paman Raju, dan itu juga diijinkan oleh Satis melalui anggukan kepalanya. Dev yang memang sudah menjadi tahanan rumah oleh Arya dibawa paksa oleh bodyguard menuju ke rumah Satish. Ram dan Dev tidak memberontak, percumah saja mereka berdua memberontak jika pada akhirnya mereka akan babak belur.


Tidak butuh waktu yang lama mereka berdua sudah sampai di rumah Satish dengan tangan yang diborgol ke belakang. Sitara menatap tajam kearah Dev, wanita cantik itu sungguh tidak bisa menahan amarahnya, tapi Musa dengan cepat menggenggam tangan istrinya dengan menautkan jari-jarinya ke jari-jari milik Sitara. “Tenang sayang, istighfar,” bisik Musa tenang.  


“Silahkan duduk paman, Dev, ya pasti kamu yang bernama Dev kan?” tanya Musa tenang setelah pria tampan itu mempersilahkan kedua tamu undangannya untuk duduk. Mereka berdua pun duduk dengan tangan yang masih belum juga dilepas borgolnya. 


“Papa ingin menyampaikan sesuatu atau mungkin daadee?” tanya Musa sopan, dia sengaja meminta pendapat kedua orang yang menurutnya pantas untuk dimintai pendapat. Para anggota keluarga lainnya hanya menyimak saja sambil menyiapkan tenaga jika nanti Musa atau Sitara mengambil tindakan di luar batas.  


“Kami sudah sepakat memberikan hak bicara ini kepadamu Musa, silahkan nak,” jawab Satish sendu, melihat menantunya sangat santun di saat semua orang sedang menahan amarahnya. “Baiklah, tanpa mengurangi rasa hormat dan saya pun tidak ingin membuang waktu berharga kita untuk menyelesaikan masalh ini,” Musa menjeda sesaat. 


“Paman dan Dev, kalian adalah saudara kami, terlepas dari berbagai perbedaan yang ada di antara kita, saya tidak ingin menanyakan apa motif kalian berdua melakukan tindakan yang bisa saja merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Biarkanlah itu semua menjadi rahasia kalian berdua, dan untuk masalah ini seharusnya pun ditangani oleh pihak berwajib, tapi saya sangat berterima kasih kepada keluarga dari pihak istri saya yang jelas-jelas dirugikan. Mereka tidak melanjutkan masalah ini ke jalur hukum, itulah yang dinamakan bijaksana dan penerapan dari kalimat Bismillahirrohmanirrohim, atas nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang. Tidak ada kata yang lebih indah, itulah yang saat ini keluarga anda terapkan. Kasih sayang yang mampu mengikis kebencian.” Musa memperhatikan dengan pandangan sejuk namun berwibawa ke arah dua orang bapak dan anak itu.


“Paman, Dev, apa yang saya alami kemarin hingga hari ini saya pulang dengan wajah yang berbeda tentu tidak mudah untuk saya memulai hidup. Saya sangat berharap apa yang terjadi pada saya sudah cukup membuat anda berdua puas dan mau berhenti untuk kembali melakukan tindakan yang bisa menyakiti orang lain.” sambungnya lagi. Semua yang ada di ruangan itu terdiam tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan bernafas saja mereka sangat hati-hati. ‘Emang beda ya kalo ustadz yang ngadepin pendosa itu hawanya dingin, laki gue emang bukan ustadz kaleng-kaleng,’ gumam Sitara dalam hati. Jelas saja hanya berani di dalam hati, akan bahaya jika dia berani bersuara.


‘Sitara nggak salah apa ya nikahin ni orang, gue berasa ngadepin malaikat baik hati yang lagi berhadapan ama iblis,’ gumam Arya, dan hal itu hanya mampu dia dengar sendiri karena tak ingin suaranya sampai di dengar oleh orang lain.  


“Musa, saya minta maaf, saya menyesal, apakah kamu mau memaafkan saya?” balas Dev sendu, kepalanya masih menunduk, kalimat yang Musa ucapkan tadi mampu membuat hatinya tercubit. Bukan amarah yang dia dapatkan dari orang yang hampir saja kehilangan nyawa karena ulahnya, tapi untaian kalimat yang mampu menghancurkan rasa iri dengki yang selama ini sudah menggunung di dalam hatinya.


“Mas aku tidak setuju kamu melepaskan mereka begitu saja!” seru Sitara dengan lantang, dan hal itu membuat semua mata tertuju padanya. “Aku ingin mereka juga mendapatkan hukuman setimpal atas apa yang sudah mereka lakukan. Aku mohon mas mengingat bagaimana kemaren kamu bertarung dengan maut mas,” lanjut Sitara dengan mata yang berkilat menahan amarah.


“Sayang, istighfar ya, aku sangat memahami apa yang kamu rasakan, rasa sakit, benci dan marah yang berlebihan hanya akan membuat peluang kepada iblis untuk menghiasi hati kita dan membuat kita ingin membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama. Apakah itu semua akan selesai begitu saja? tidak akan sayang, karena itu akan memupuk dendam dan akan terus diturunkan kepada anak cucu kita.” Musa menjalin jari jemarinya dengan jari istrinya. Memberikan ketenangan dan kekuatan kepada hati yang sedang berkobar.


“Aku siap menerima hukuman yang akan kalian berikan,” sela Dev, sungguh saat ini hatinya merasa sangat kecil. Musa tersenyum, pandangannya mengedar kepada semua yang ada di ruangan itu, sampai tatapannya bertemu dengan abi Ibrahim. Ibrahim menganggukkan kepala dan tersenyum kepada putranya. 


“Dev, aku hanya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun untuk menghukummu, yang berhak menghukum seorang hamba hanya Allah. Aku berharap dan selalu berdoa agar Allah memberikan hidayah kepadamu. Hukuman paling berat itu adalah berubah menjadi orang baik dan bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Jika kau siap untuk menerima hukuman, maka aku ingin kamu yang melakukan untuk dirimu sendiri dengan berubah menjadi orang baik, aku akan mendukung dan membantumu Dev jika kau membutuhkan ku.” 


Nyeeessss


Hati Dev dan Raj seperti tersiram air es yang mampu menyejukkan hatinya yang selama ini terus saja diliputi oleh rasa iri dan dengki. “Musa, terima kasih atas semua maaf yang engkau berikan, aku akan melakukan apa yang kamu katakan, aku berjanji untuk menghukum diriku sendiri dengan berubah menjadi orang yang baik dan tidak akan mengijinkan rasa iri dan dengki itu menguasai diri ini. Papa, sudah saatnya kita mengakhiri ini semua, jika tidak sekarang kita mengakhiri, kapan lagi? aku tidak mau mati dengan membawa rasa benci.” Dev tampak tulus mengatakan itu semua. Hal ini membuat Musa senang dan terus meminta kepada Allah agar di berikan hidayah. 


“Saya rasa sudah waktunya Arya membuka borgol mereka, bisakan Arya?” pinta Musa diakhiri pertanyaan yang membuat Arya sedikit terkejut karena sempat melamun. Arya dengan cepat membuka borgol yang melingkar di pergelangan tangan Dev dan Raj. Musa berdiri dengan menggandeng istrinya menghampiri saudara sepupu istrinya itu, dengan yakin dia meraup bahu kekar milik peuda itu.


Greeeppp!


Musa memeluk erat orang yang masih shock dengan perlakuan Musa itu. “Selamat datang kembali ke dalam keluarga kita saudaraku,” ucap Musa tulus, dan tidak lama dia pun mengurai pelukan itu dari Dev, lalu beralih pada Raj. Pria yang sudah mulai memasuki usia senja itu tidak sanggup untuk menahan air mata yang sedari tadi mengembun di matanya. “Terima kasih nak, kebaikan mu mampu menyadarkan aku tentang dosa-dosaku selama ini. Bantu aku untuk bisa menjadi orang baik sepertimu,” ucap Raj tulus dan penuh penyesalan. pelukan erat itupun terurai. dan hal itu diikuti oleh yang lainnya, sekarang Raj dan Dev yang mendatangi saudara mereka satu persatu untuk meminta maaf.


“Alhamdulillah, hari ini Allah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, manusia yang mulia adalah yang mau mengakui kesalahan dan mau meminta maaf serta berubah untuk jadi manusia yang lebih baik. Manusia yang tidak kalah mulianya adalah yang mau memaafkan atas kesalahan saudaranya dan mau membantunya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga kita semua tergolong dari orang-orang yang mulia tersebut, Aamiin.” Ibrahim memberikan kalimat penutup dan rasa syukur yang berlimpah untuk peristiwa hari ini.


Sungguh dia bangga sekali melihat putranya yang bisa berlapang dada, dan diapun sekarang bisa lebih siap untuk menyerahkan pesantren Istiqomah ke tangan putranya tersebut.


Semua keluarga Satish kini berkumpul dan bahagia. “Cici maukah kau menikah dengan ku?” Arya tiba-tiba saja melamar Cici, dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Cici mengangguk dengan senyum manisnya. “Aku bersedia,” jawab gadis itu malu-malu. “Yeesss, yeess, yeess, peluk dooong!” Serunya yang sudah siap untuk memeluk Cici. 


“Eeee BELUUUM MUKHRIIM!” teriak Sitara yang langsung memeluk Cici untuk melindunginya, tawa semua orang yang ada di ruangan itu pun pecah. 


T-A-M-A-T


❤️❤️❤️


Haaii readers ku yang tercinta, terimakasih ya sudah mengikuti kisah Musa dan Sitara, masih banyak kekurangan, mohon dimaafkan. Proses belajar yang tidak pernah berhenti dan aku sangat butuh dukungan dari pemirsa tercinta. Yuk main ke novelku GADIS PONI SCOOTER dan JANDA MANDUL, semoga bisa menghibur dan mengambil hikmah dari cerita ini. Sesungguhnya dunia panggung sandiwara. ❤️🌹