
Sarung Ninja
Operasi face off yang akan dilakukan oleh dokter kepada Musa sedang disiapkan, Sitara dengan sangat sabar terus mendampingi Musa. Doa tidak pernah lekang dari hatinya. Wanita cantik itu menyimpan rasa sedih saat melihat wajah sang suami yang hampir saja tidak dia kenali. demi menjaga perasaan suami tercintanya, Sitara menahan air mata dengan senyuman yang menyatakan dia baik-baik saja.
Musa mulai hari ini melakukan rangkaian pemeriksaan dan berpuasa sebelum operasi dilakukan. “Tuan, kondisi anda sangat baik, luka dalam juga sudah sembuh sempurna, apakah anda benar-benar siap untuk melakukan operasi besok?” tanya dokter Veer dengan senyum yang tidak pernah lepas berhadapan dengan pasien yang memiliki wajah menyeramkan.
“Saya siap dokter, In Shaa Allah,” sahut Musa dengan senyum yang hanya bisa ditariknya dengan sebelah saja. Kerusakan wajah yang Musa alami, membuat pria tampan itu nyaris tidak bisa dikenali. “Dokter apakah wajah saya akan kembali seperti sediakala?” tanya ustadz gaul itu, sedari tadi ingin sekali bertanya, tapi keraguan terus saja merayapi hatinya.
Sitara menggenggam erat tangan suaminya, seakan sedang menyalurkan kekuatan untuk hati laki-laki yang kini memenuhi ruang hatinya. “Tuan Musa, kami akan berusaha untuk merekonstruksi wajah anda seperti semula, tetapi apapun yang kami lakukan tidaklah sebaik ciptaan Tuhan. Kami hanya bisa melakukan yang terbaik tuan,” jawab dokter Veer hati-hati.
Dokter muda yang tampan itu tidak berani berjanji apapun kepada pasiennya. Pria tampan dengan pesona kecerdasan yang tampak terpancar di wajahnya, menyadari akan batasan kemampuan manusia, oleh karena itu dia tidak berani sama sekali memberikan janji kepada Musa. Hanya melakukan yang terbaik, hanya sampai disitulah batasannya sebagai manusia.
“Astaghfirullah, iya dokter anda benar, saya sudah khilaf, saya lupa akan ketentuan Allah. Terima kasih dokter, anda sudah mengingatkan saya, terimakasih anda sudah mau melakukan yang terbaik untuk saya,” Musa tersadar akan kesalahannya, dia mulai menggantungkan harapan kepada manusia, sementara dia sangat tahu sekali bahwa harapan sekecil apapun itu kita hanya boleh menggantungkannya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
*****
Hari ini Cici akan berangkat ke pabrik bersama Arya. Sebenarnya gadis itu merasa canggung, apalagi selama beberapa hari ini Arya tidak pernah absen untuk merayunya dengan gombalan-gombalan yang mampu membuat hatinya bergetar. Arya sudah mengumpulkan beberapa bukti yang dia dapatkan. Karyawan kantor yang menjadi informan bagi pelaku pun sudah dia kunci nama-namanya, baginya Cici bisa diajak kerjasama dengan ikut menjadi mata-matanya.
“Bersikaplah santai, jangan seperti orang yang seakan menyelidik, tapi jangan juga memberikan senyum cantikmu untuk pria-pria disana,” pinta Arya dengan wajah serius. Bukan hanya sekali ini Arya bersikap posesif di tengah keseriusannya mengarahkan Cici dalam misi ini, jelas saja hal ini membuat Cici tidak nyaman, tapi mau marah juga tidak mungkin.
“Baik tuan,” hanya itu yang bisa Cici katakan. “Ci, panggil aku Arya saja, agar yang lain tidak mengetahui penyamaranku. Jika perlu panggil sayang itu lebih baik,”
Blusshhh
Sukses pipi Cici merona, entah kenapa berhadapan dengan pria raja gombal ini membuat jantungnya seperti habis berlari maraton. Apakah Arya juga sering seperti ini dengan wanita lain? entahlah Cici sendiri tidak pernah mencari tau tentang pria yang sekarang sedang bersamanya di mobil.
Arya, seorang pria dewasa yang selama ini hanya berkutat dengan pekerjaan, tidak pernah mau bersinggungan perasaan dengan wanita juga merasa heran kenapa lidahnya ini lancar sekali membuat hati gadis di sampingnya jedag jedug. “Ci, jangan diem aja dong,” Arya yang sedari tadi menunggu jawaban dari gadis cantik itu, kembali bersuara.
“Eh, i-iya tuan, maaf saya bingung dengan permintaan tuan,” balas cici malu-malu. Mobil terus saja bergerak pelan. Pandangan Arya terus mengedar ke semua penjuru yang dia lewati. Tiba-tiba mobil berhenti di bagian belakang bangunan pabrik.
“Tu-tuan kenapa kita berhenti disini?” Tanya Cici khawatir. Tidak bisa dia tutupi ketakutannya, karena tepat di mana mereka berhenti saat ini tidak ada rumah penduduk, hanya padang ilalang yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya.
Arya tidak langsung menjawab pertanyaan Cici, pria itu sibuk mengambil kotak yang berada bangku belakang. Dengan Cepat dia membuka kotak berbahan stainless. “Kamu pakai sarung tangan dan masker ini,” Arya menyerahkan sepasang sarung tangan dan sebuah masker dengan lubang untuk menghirup oksigen.
Kembali pria tampan itu mengedarkan pandangan, memastikan apakah mereka aman. Cici memilih untuk mengekor di belakang tubuh tinggi tegap milik pria yang beberapa minggu ini mampu mengobrak abrik perasaan dan pikirannya.
“Ci, kamu bawa alat ini, dan arahkan ke lubang yang ada disitu,” Jari telunjuk Arya menunjuk lubang yang ada di tembok berjarak sekitar dua meter dari posisi mereka saat ini. Cici melakukan apa yang diperintahkan oleh Arya kepadanya. Dengan anggukan tanda bahwa dia memahami apa yang diminta sang tua, Cici pun melangkah pelan.
Dia masih belum tau apa-apa, hanya mengikuti perintah. Sementara Arya mengaktifkan alat lain seperti senter tetapi tidak mengeluarkan cahaya untuk menerangi. Dengan pelan Arya bergerak dengan mengarahkan alat tersebut ke bagian bawah tembok. Peralatan canggih itu langsung bergerak, ada angka dan ada kode yang keluar dari peralatan tersebut, dan sudah jelas dari mereka berdua hanya Arya yang memahami apa arti dari semua yang terpampang di layar.
Alat yang ada di tangan Cici pun mengeluarkan banyak kode dan bergerak cepat seakan sedang menghitung sesuatu. Untuk beberapa saat Arya dan Cici masih berkutat di daerah itu. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan aksi mereka berdua. Pria yang menggunakan sarung sebagai penutup wajahnya, persis seperti ninja ala anak kecil.
Dengan cepat pria itu mengeluarkan kamera tele profesional untuk mengambil gambar Arya dan Cici. bersyukur tadi mereka sudah melakukan penyamaran dengan menutup wajah dengan masker. dn sudah pasti kostum mereka berdua pun tidak menggunakan seragam kantor.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Pria itu tersenyum dibalik sarung ninja yang menutup seluruh wajahnya kecuali kedua matanya. Tidak lupa pria itu mengambil gambar plat mobil dan gambar mobil yang di kendarai oleh Arya dan Cici.
Setelah puas memeriksa di bagian yang menurut Arya akan menjadi data dalam penyelidikannya, kini pria itu berjalan beriringan dengan Cici menuju mobil. Kembali pandangannya mengedar ke seluruh hamparan ilalang, sesaat bibir pria itu menyunggingkan senyum, saat kedua netranya menangkap sesuatu yang bergerak mengendap di balik rerimbunan ilalang. Cici lebih dulu masuk kedalam mobil. setelah melihat apa yang membuatnya tersenyum, kini pria itu masuk kedalam mobil. Mereka berdua melepaskan sarung tangan dan masker, untuk sesaat mereka menghirup udara bebas dengan sangat rakus.
“Cici, lapisi bajumu dengan jaket yang ada di dalam tas bangku belakang. tetap gunakan masker, tetap waspada, karena kita sedang diikuti oleh seseorang,” Arya menyampaikan hal tersebut agar dia tetap bisa bersinergi menjalankan aksinya bersama Cici.
❤️❤️❤️
Like + komen+Vote
mampir juga ke novel ku
GADIS PONI SCOOTER
tengkyu pemirsa 🌹