
Musa dengan sigap mengiringi langkah Sitara dengan Cici yang berada di belakang mereka. Cici merasa canggung berada diantara pasangan pengantin baru yang menurutnya sangat romantis. Gadis itu berusaha membuang pandangannya ke arah lain agar tidak menambah rasa sesak di hatinya. Apakah masih ada rasa itu di hatinya? entahlah tapi pagi ini jelas ada yang berbeda.
Cici, tolong hubungi orang-orang yang ada di pabrik, minta informasi sejelas mungkin, apakah sudah ada yang menghubungi aparat?” pinta Sitara kepada Cici, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, dan sudah barang tentu Cici yang duduk di bangku belakang.
Musa menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak ingin terlambat sampai di lokasi. Sitara sibuk dengan ponselnya untuk koordinasi dengan orang-orang yang terkait dengan perusahaannya, sambil mengarahkan Musa menuju lokasi pabriknya. Cici melaksanakan tugas yang tadi di berikan oleh Sitara, bos nya.
Situasi di pabrik
Keadaan pabrik kacau, banyak orang yang berlarian keluar, beberapa pria berusaha membantu mengevakuasi karyawan yang masih terjebak di lokasi paling dalam. entah dari mana datangnya api yang mulai menyala dari bagian belakang, tepatnya di ruang mesin.
‘Segera lewat sini pak, sudah tinggalkan yang ada, selamatkan diri anda pak!” seorang pria berperawakan gempal berusaha membantu mengeluarkan karyawan yang sudah berumur paruh baya dari ruang mesin.
Wanita yang bekerja disana terlebih dulu diselamatkan. Asap sudah mulai menutupi sebagian ruangan, jerit ketakutan semakin menyayat hati, kepanikan dan ketakutan tampak pada wajah-wajah yang terus bergerak mencari tempat yang aman, atau ada beberapa yang mau membantu rekannya untuk keluar dari sana.
“Tahan sakitnya mbak, sebentar lagi kita akan sampai di tempat yang aman, sampeyan tahan sakitnya,’ ujar salah satu karyawati yang membopong salah satu temannya yang sudah bersimbah darah, entah apa yang terjadi dengannya di dalam sana, tapi yang jelas temannya masih berbaik hati untuk menolongnya
Duuaarrrrr!
Duuaaaarrrrr!
“AAAAAAAKKKKKHHHH!!!”
“TOLOOOOONG!
Dua kali ledakan yang cukup besar dan terlihat kobaran api yang semakin mengganas, seakan siap melahap apapun yang ada di dekatnya. Teriakan teriakan kesakitan dan jeritan minta tolong, membuat suasana semakin mencekam.
Bantuan pemadam kebakaran terasa lambat sekali datang, ambulan yang di panggil juga belum datang, tidak ada yang menyangka kejadiannya seperti ini, tadinya hanya dikira kecelakaan kerja biasa, ternyata karena ada hubungan arus pendek, maka terjadilah kebakaran seperti sekarang ini.
Mobil Musa parkir sembarangan di luar pagar, Musa bergegas menghampiri lokasi. “Tara tolong hubungi pemadam kebakaran dan ambulance segera!” perintah Musa dengan suara tinggi, karena suaranya harus beradu dengan suara kekacauan yang ada.
Wuiew!
Wuiew!
Wuiew!
Suara mobil pemadam kebakaran dan ambulan memecah jalan raya, dengan kecepatan penuh mereka berusaha untuk mencapai lokasi dengan segea. Sitara melihat kedatangan mereka dengan lega. Entah berapa unit mobil pemadam kebakaran dan ambulance yang sudah datang wanita cantik itu sudah tidak memperdulikan lagi, dia berusaha membantu para korban yang sudah berlindung. banyak yang mengalami luka berat dan ringan.
Cici ikut bersama Sitara membantu mereka yang parah untuk di bawa oleh ambulance, bagi korban yang mengalami luka ringan, akan dirawat di tempat dan akan dipulangkan dengan mobil bis perusahaan.
“Tolooong!!”
Suara yang berasal dari lantai tiga pabrik itu menarik perhatian bagi yang mendengarnya. Pemadam kebakaran masih konsentrasi dengan api yang masih berkobar dengan ganasnya, hingga mereka kekurangan tenaga untuk menolong orang-orang yang terjebak di lantai tiga.
Musa tidak berpikir panjang lagi, dia segera bertindak, dengan sekuat tenaga dia berusaha mencapai tempat. tidak jauh dari situ dia melihat ada tangga kayu, dengan susah payah dia mengangkatnya karena itu lumayan berat, tapi ternyata itu semua sia-sia, jelas saja tangga itu kurang panjang, hingga masih sulit untuk menjangkau tempat dengan menggunakan tangga.
“Pak, tolong arahkan tangga nya ke jendela itu, mereka lebih dari tiga orang sepertinya terjebak di dalam!” teriak Musa mengarahkan mobil pemadam kebakaran. Melihat korban yang sudah teratasi Musa beralih ke dalam, masih banyak karyawan yang kesulitan keluar dari ruangan itu, ada yang sudah tergeletak, entah masih bernyawa atau mungkin sudah meninggal.
Tanpa terasa Musa masuk lebih dalam lagi. “Lewat sini pak, ayo cepat, pegang tangan saya!” perintah Musa kepada pria paruh baya yang sangat ketakutan karena dia mulai terkurung dengan api.
“Tidak mas, saya tidak berani, kaki saya seperti nya terkilir ini, akan susah melewati api itu!” Seru bapak itu dengan raut wajah pasrah, dia sangat yakin jika hari ini ajalnya akan menjemput. Musa melihat itu semua dengan pandangan frustasi.
Dengan keberanian yang dimiliki, Musa melompat kedalam demi bisa menjemput sang bapak.
Bruk!
Musa berhasil mencapai ruangan, benar saja, kaki sang bapak tertimpa kayu besar, dengan susah payah Musa mengangkat kayu yang menimpa kaki pria paruh baya itu, begitu berhasil, Musa melihat ada beberapa kain, dia mengambilnya dan menggulung tubuh si bapak persis seperti mummy.
“pak lompati api itu ya, yang penting bapak menyeberang, bapak aman, ini sudah saya bungkus semua, harus cepat, in shaa Allah tidak akan terjadi apa. di seberang sudah ada tim yang akan menyambut. Beberapa karyawan yang melihat aksi Musa dengan suka rela menyusul Musa, tapi mereka tidak punya nyali untuk menyusul musa keruangan yang sudah dikepung api tersebut.
“kamu sendiri bagaimana nak? ayo cepat kita sama-sama!” pak tua itu enggan meninggalkan Musa yang sudah menyelamatkan jiwanya. “Bapak duluan, saya anak menyusul!” seru Musa, dia tidak ingin salah perhitungan.
Bruuk!
Tap!
Tap!
karyawan yang sudah berusia paruh baya itu berhasil menyeberang api yang masih ganas melahap apapun yang berbahan kayu. Setelah menyeberang, tubuh yang di balut kain itupun ambruk bergulingan di lantai, dan langsung disambut oleh beberapa orang yang ada di sana.
Musa melihat karyawan itu sudah selamat, kini giliran gia yang menyeberangi api.
“Bismillah, Allahu Akbar!” teriakan takbirnya membuat orang-orang yang siap menyambutnya sontak merinding.
Tap!
Tap!
Bruuaaakkk!
Sebatang kayu yang sudah terbakar api menimpa tubuh Musa yang sedang melintasi api, tak bisa dihindari lagi, tubuh yang sudah dibungkus kain itupun ambruk, dengan api yang langsung melahap kain yang membungkus tubuhnya. “Allahu Akbar, tolooong!” teriakannya, membuat orang-orang ang ada disana dengan sekuat tenaga menolong tubuh Musa.
Petugas Damkar yang sudah berhasil masuk langsung memadamkan api yang membakar tubuh Musa. Setelah api padam, Tubuh yang sudah terbakar sebagian itu pun dibawa menggunakan tandu untuk segera dilarikan kerumah sakit, sementara api di ruangan tersebut sudah mendapatkan tindakan dan pelan-pelan api pun padam.
Sitara melihat tandu yang membawa tubuh Suaminya, langsung berlari mendekat, api sudah berhasil dijinakkan. Awalnya Sitara ragu, melihat tubuh yang sudah tidak berbentuk itu. Tapi dia sangat hafal dengan postur suaminya. “Bu cepat buka pintu ambulancenya! teriak orang yang sudah kesulitan membawa tandu Musa karena dia pun terluka.
“Ba-baik pak, saya ikut, dia suami saya!” ujar Stara tegar, air mata memang sudah tidak bisa di bendungnya lagi, tapi dia akan berusaha kuat menerima kenyataan ini. “Cici kamu ikut saya, bawa mobil saya, susul ke rumah sakit,” titah Sitara dengan tegas. dan hanya di balas anggukan oleh Cici yang menerima kunci mobil milik Sitara.
Musa yang sudah masuk ke dalam ambulance mendapatkan perawatan yang tersedia di mobil tersebut, oksigen langsung dipasangkan agar membantu korban untuk tetap bisa bernafas.
Mobil sampai di rumah sakit, dengan sigap para medis bertindak. Sitara mengiringi hospital bed yang didorong oleh para perawat. begitu bertemu dengan dokternya, Sitara langsung berhadapan dengan sang dokter yang bertugas.
“Dokter tolong selamatkan suami saya, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya,” raung Sitara yang sudah tidak kuasa lagi menahan tangis kesedihannya.