
Tubuh atletis Musa dengan perut kotak-kotak seperti susunan tahu. Musa melepaskan celana panjangnya sehingga menyisakan celana boxer nya saja.
“Wooww Indah nya.”
Musa yang mendengar itu, langsung menutup bagian bawahnya dengan handuk. Senyuman penuh makna dilemparkan ke arah Sitara.
“Tenang jantung, tetaplah berada di tempatmu. Ishh si beton itu ternyata bikin aku oleng. Sabar Sitara, Sabar dia sudah jadi milikmu, jangan tergesa-gesa memakannya. Ya Allah mikir apa aku!!”
Gadis itu mengambil bantal dan menutup mukanya sendiri.
Ceklek!
Musa telah menyelesaikan ritual mandinya, dengan rambut yang masih basah dia mengambil handuk kecil yang ada di gantungan handuk, lalu memberikannya kepada Sitara yang kini sudah duduk di tepi ranjang.
Musa langsung saja duduk di lantai. Sitara yang paham dengan maksud Musa langsung mengusap kepala Musa dengan handuk kecil, ada desiran hangat yang mengalir di relung hatinya.
“Hmmm manja dehh.” Sitara dengan sedikit gugup berkata manja.
“Tapi suka kan? hehehe”
“Terpaksa sih.” Tiba-tiba tangan musa mencengkram lembut tangan sitara.
“Jangan terpaksa sayang, ini besar pahalanya, apalagi kalo anu, makin besar lagi pahalanya.” Mauuuutt kalimat Musa.
Dag..Dug..Dug..Dag
Detak jantung Sitara tidak beraturan, seperti habis dikejar hansip. ‘Sayang’ ahayyy baru kali ini dia mendengarkan langsung dari Musa. Manis sekali, kadar gula ku bisa naik nih.
“Makasih sayang, udah kamu buruan mandi gih.” Musa berdiri, Sitara guling-guling kesenengan di kasur. Musa yang melihat bingung keheranan. ‘Kesambet apa ini anak.’
‘Sayang…Sayang…Sayaang… Mas Musa I Love You Pullll” Bantal jadi sasaran ciuman Sitara yang bertubi-tubi.
“Aku kapan di cium begitu?”
Set
'Kode nih' batin Sitara.
“O..Ow.. Hehehe nanti ya Mas.” Sitara langsung kabur ke kamar mandi. Musa senyum-senyum sambil berpakaian.
*****
Acara syukuran dimulai, Sitara tampak cantik dengan balutan busana berwarna merah serasi dengan Musa. Nuansa pesta perkawinan India sangat kental. Tamu undangan mulai berdatangan.
“Pak Satish selamat ya, ganteng banget mantunya pak Satish.” Bu Joko yang selalu kepo dengan urusan warga langsung aja memuji Musa. Karena posisi Musa yang agak kedalam, jadi bu Joko belum jelas melihat pengantinnya.
“Terimakasih Bu. Mantu saya ini ustadz lo bu.” Satish yang terkenal ramah oleh warga sekitar, langsung promo menantunya. Bu Joko merasa penasaran.
“AAAWWW, Ustadz Musa, Ya Allah Ustadz kok bisa sih nikah sama Sitara, padahal saya udah ngincer ustadz buat jadi mantu saya lo, eehh bentar-bentar kita foto dulu ya ustadz.”
Bu Joko lupa menyapa Sitara dan langsung saja menarik mas photographer nya untuk berfoto, tidak lupa dia berikan ponselnya untuk diambilkan foto bersama pengantin.
“Mas tolong fotoin ya, bikin saya lebih muda, jangan lupa itu.” Dengan santainya Bu Joko mengatur mas photographer. Si Mas hanya bisa pasrah.
‘Permintaan ibu ini bikin aku darah tinggi juga ni, hufff!’ jelas saja mas photographer hanya berani ngedumel di dalam hati. Jika sampai kalimat itu diucapkan, bisa di geprek dia sama bu Joko. Yang sabar ya mas (doa Author)
“Bu Joko, Tara disini kan bu? segede gini masak gak keliatan sih bu, giliran cowok ganteng aja langsung deh diserbu.” Sitara protes dengan gaya khas nya yang sudah akrab dengan bu Joko.
“Haayyy Tara, loohh ibu pikir tadi kamu boneka, kok cantik bangeet.” Bu joko memang ahli bersilat lidah sodaraaa.
“Yeey ibu kira Tara mannequin, udah sini buruan photo, ntar keburu luntur tu gincu nya. Di tengah sini bu, kalo di pinggir nanti ilang, kameranya gak cukup.” Sitara sengaja menggoda bu Joko yang ukuran badannya memang extra.
Acara syukuran berjalan dengan baik dan lancar. waktu pun beranjak senja, tamu undangan satu-persatu sudah kembali ke rumahnya. WO yang mengerjakan acara dengan sigap membersihkan semuanya.
Asisten rumah tangga juga sibuk membereskan semuanya. Ibrahim dan Fatimah sedang beristirahat di kamar yang sudah disediakan oleh Satish. Zahra juga beristirahat dikamarnya. Pengantin baru berangkat ke bandara untuk menjemput Daadee.
Perintah ibu ratu tidak bisa dibantah, dia tidak mau dijemput supir, jika Sitara dan Musa tidak mau menjemput maka Daadee akan tidur di emperan bandara. ancaman macam apa itu? dasar Daadee selalu aja ajaib.
*****
Daadee yang memiliki nama Pooja, duduk menunggu cucu kesayangannya. Daadee tampak cantik walau usianya sudah 65 tahun. tidak gendut, juga tidak kurus. Penampilannya yang meriah, sangat mencolok dan mudah terlihat walau dari jarak yang lumayan jauh.
“Daadee!!!” Sitara berteriak dari jauh, dan itu membuat Musa Shock. tapi dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya yang absurd itu. Sitara berlari menuju tempat Daadee duduk, Musa, jelas saja dia meninggalkan Musa yang berjalan santai.
“Taraaaa!!! I Miss You Baby” Daadee tidak kalah heboh, dengan suaranya yang melengking itu, membuat banyak orang memperhatikan mereka. Dua wanita cantik beda generasi ini saling berpelukan untuk melepas rindu.
“Daadee miss you too. Woowww you looking gorgeous” Sitara memang pandai memuji Daadeenya, dan Daadee memang selalu tampil mempesona.
“Daadee, ini Musa, Mas Musa, ini Daadee.” Musa menyalami Daadee dan mencium punggung tangannya. Maksud Musa menghormati, tapi Daadee berbeda pendapat. Dia tersipu malu, seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
“Tara, aku suka your husband.” Sitara membulatkan matanya dan memasang wajah marah kepada Daadee nya. Musa hanya tersenyum melihat kedua wanita yang pelan-pelan mulai mengisi hatinya.
“Selamat datang Daadee. Ayo kita langsung pulang.” Musa dengan sigap mengambil koper dan barang bawaan Daadee, mereka berjalan bersama menuju parkiran. Sitara duduk di sebelah Musa, sementara Daadee duduk di kursi belakang.
Mereka bertiga ngobrol ringan sepanjang perjalanan dan tanpa terasa si kuda hitam memasuki halaman rumah Sitara yang sudah mulai bersih dari peralatan pesta.
Satish, Ibrahim, Fatimah dan Zahra sedang menikmati teh dan beberapa cemilan di ruang tamu. Mereka sedang bersiap untuk menunggu Daadee. tidak lama suara mobil pun terdengar memasuki halaman rumah.
Daadee keluar terlebih dahulu, di susul Sitara dan Musa. Para pelayan sibuk mengeluarkan barang-barang bawaan nyonya besar.
“Hallo semua, aaahh akhirnya aku sampai juga dirumah putraku.” Daadee melepas kacamata hitam yang tadi digunakan.
“Mama.” Satish memeluk erat mamanya. Walaupun Pooja sering membuatnya jengkel, tapi dia teramat menyayangi wanita yang telah melahirkannya.
“Ma, kenalkan ini pak Ibrahim, ini Bu Fatimah dan ini Zahra. Kemarin Mama sudah bertemu mereka melalui panggilan video” Ibrahim langsung menangkup kedua telapak tangannya di depan dada.
“Hallo Madam, selamat datang, salam kenal saya Ibrahim, ayah Musa.”
“Hallo Tuan Ibrahim, saya pooja, senang bisa mengenal anda.” Ibrahim mengangguk sopan.
“Hallo Madam, selamat datang ya, panggil saya Fatimah, senang bertemu anda.” Daadee menghampiri fatimah dan mereka berpelukan.
"Hallo Fatimah, kamu lebih cantik daripada di layar ponsel, ahh atau mungkin ponsel Satish yang jelek, hahaha"
Mereka semua tertawa bersama mendengar kalimat Daadee yang selalu bikin kejutan.
“Hallo Nenek, anda cantik sekali, saya Zahra, adik kak Musa.”
“Hey Baby, panggil daadee ya, no Nenek. Aku suka kamu bilang aku cantik, kamu juga cantik sayang.” mereka pun berpelukan.
“Ma, kami semua menunggu Mama untuk makan sama. ayo bersihkan dirimu dulu, lalu kita dinner, ini sudah waktu makan malam.”
Sitara melihat rumahnya yang ramai, merasa bahagia. Biasanya rumah besar ini sepi dan hanya di ramaikan oleh para asisten rumah tangga dan satpam juga paman kebun.
Waktu sholat Magrib tiba, Musa sholat berjamaah dengan istrinya di kamar, Ibrahim, Fatimah dan Zahra sholat berjamaah di kamar Ibrahim. Sementara Satish dan Mamanya melakukan puja di altar yang ada di tempat khusus dekat dengan ruang makan.
Sungguh pemandangan yang harmonis, walau berbeda tapi bisa saling menghargai dan menghormati.
Selesai beribadah semua orang berkumpul di ruang makan. Para pelayan sibuk menyiapkan semuanya. Menu makanan beragam dan semuanya masakan khas India.
Hanya Daadee yang dibedakan makannya.Tapi Musa tidak memperhatikan hal itu. Musa mengambilkan ayam karee untuk Daadee.
“Hemm aku vegetarian Musa tampan, ini makanan ku, kalian makan lah semuanya yang ada. Ayo silahkan.”
Musa hanya menganggk dan mengembalikan ayam karee ke tempat semula. Daadee duduk di kursi kebesarannya, di kepala meja makan, Satish duduk di seberang nya.
Sementara yang lain mengisi kursi yang ada di kedua sisi meja makan. Makan malam berlangsung dengan hening. Di keluarga Satish paling tidak boleh makan dengan mengeluarkan suara. Akhirnya makan malam selesai.
“Musa Daadee mau tanya, kamu harus jawab jujur. Berapa kamu rencana punya anak?” Daadee yang bicara belum rapi susunannya.
“Saya tidak membatasi Daadee, Tergantung Tuhan memberinya, tapi Sitara gimana?” Musa menoleh kearah Sitara, mereka beradu pandang sesaat.
“Tara, kenapa kamu wajah tegan?” daadee melihat perubahan di wajah cucunya yang cantik.
“Tegang no tegan Daadee. Sorry Daadee, aku belum membuatnya, mana aku tau berapa anak yang akan jadi.”
.
.
.
Assalamualaikum Pemirsa.
Naahh looo, Tara keceplosan atau gimana sihh kok buka rahasia di depan orang banyak, tepok jidat Author dibuatnya. Gimana nih pemirsa, kita apain enaknya Gadis barbar ini???
Like+Vote ya, hadiah nya jangan lupa pemirsaaa