Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 58: Gombalan Absurd


Arya terperanjat melihat keberadaan Cici di ujung meja meeting yang menatapnya dengan pandangan entah. “Cici, maaf saya hanya bercanda, biasalah bos kamu itu selalu saja bawel ketika saya membantunya. Saya mohon maaf jangan salah paham ya,” terang Arya dengan perasaan yang sudah kacau.


“Ehem, tidak apa-apa tuan, ok saya tidak akan salah paham,” balas Cici dengan jawaban yang sebenarnya juga bingung dia utarakan. “Kalo beneran juga gak papa sih?” gumam Arya, dan sial nya itu didengar oleh Cici dan dengan cepat gadis itu menatap ke arah sepasang netra hitam kelam milik Arya itu dengan tajam. “Tuan bicara sesuatu? tanya Cici dengan nada penuh penekanan.


“Eh, anu, Ci, tidak ada, hanya sedang berfikir saja kita memulai penyelidikan dari mana,” jawab Arya dengan kegugupan yang sudah menguasai hatinya. ‘Ya Tuhan, kenapa dengan gadis ini, mantra apa yang sudah dia  rapalkan sehingga mampu membuat jantungku tidak sehat sekaligus bahagia, hmm apakah seperti ini rasanya menyukai lawan jenis?’ tanya jawab sedang terjadi di diri Arya.


untuk beberapa jam kedepan mereka terlibat pembicaraan serius yang sesekali Arya memancing Cici dengan gombalan-gombalan Absurd. seperti contohnya sekarang ini. 


“Apa yang bikin kamu yakin kalau seseorang sudah menggandakan kunci ruang mesin?” tanya Arya serius, dahinya berkerut tanda pemuda itu sedang berpikir keras. 


“Kunci ruangan itu yang pegang hanya satu orang pak, dan itupun kunci yang ditempa khusus agar tidak mudah di duplikasi, karena ruangan ini termasuk jantungnya pabrik. Pasti orang yang mensabotasenya telah bekerja sama dengan petugas ruang mesin yang sedang berjaga. Saat olah TKP kemarin, saya hadir di lokasi pak, dan hasil penelitian sementara menyatakan tidak adanya kerusakan di bagian pintu tanda di buka paksa atau kerusakan di bagian lain. Jadi tidak ada celah yang memungkinkan untuk mereka bisa masuk, bahkan tidak ada satu sidik jari pun yang tertinggal disana.” jelas Cici panjang lebar.  


“Hebat kamu Ci, sejauh ini saya bisa terima penjelasan kamu, By the Way kamu tampaknya lumayan menguasai ilmu tentang per-kunci-an ya? Arya kagum dengan ketangkasan Cici dan sekaligus melempar pertanyaan yang mampu membuat kening gadis itu berkerut. 


“Maaf tuan, anda jangan terlalu memuji saya seperti itu, saya hanya menjelaskan apa yang saya ketahui saja saat kejadian.” jawab Cici tersipu. “Cici saya selama ini hampir tidak pernah salah dalam menilai seseorang, apalagi tentang bakat dan keahliannya, hal ini terbukti kamu sudah berhasil membuka pintu hati saya dengan kunci ajaib mu,” 


Blush!


Sontak wajah Cici merona hebat, dia pun sampai merasakan wajahnya memanas. Gadis itu tertunduk demi menutupi wajah yang sudah diyakininya berubah warna itu. ‘Ya Allah, sungguh ini membuat hati hamba berdebar hebat, tolong lindungi hamba dari godaan syaitan yang terkutuk, dan tolong lindungi hamba dari rayuan manis  laki-laki yang tidak halal bagi hamba untuk merasakan kebahagiaan dari kalimat indahnya ya Allah,’


Cici merapal doa untuk melindungi dirinya dari godaan yang yang ada di hadapannya saat ini. “Tu-tuan bicara apa?” cicit gadis itu seperti anak ayam yang sedang ketinggalan barisan saudaranya. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, tapi sudahlah gak usah diambil hati, ambil hatiku saja itu lebih baik,” Arya masih betah membuat Cici kelimpungan. 


Gadis itu merasa mendapatkan serangan gombalan yang bertubi-tubi mau tidak mau merasakan juga jantungnya jedag jedug sehingga berefek gemetar pada tangannya yang sedang memegang pena. Arya yang menyadari panahnya mengenai sasaran, tidak mau tinggal diam begitu saja. Seulas senyum licik menghiasi bibirnya yang seksi. 


‘Aku akan mendapatkanmu Ci, sampai setua ini umurku, baru kali ini mampu menggetarkan hatiku. tapi aku akan mengaturnya dan tidak akan terburu-buru, anak panah ini harus dihemat, jika terlalu boros aku lemparkan ke hatinya bisa-bisa nanti berdarah-darah dia hihihi,” Arya senyum-senyum sendiri dengan pemikirannya yang benar-benar absurd. 


Di tempat lain. 


Lantai empat tampak kesibukan seperti biasanya. karena pabrik masih dalam perbaikan, mereka sibuk mengerjakan hal lain. Desain-desain motif kain sedang dirancang oleh bagian motif menggunakan komputer. Semua seakan berjalan dengan normal, tidak ada satupun yang terlihat janggal. 


Disalah satu meja, tampak seorang karyawan yang tengah gelisah, entah apa yang sedang dia pikirkan, apakah mungkin dia sedang sakit? entahlah. “Hery, kenapa lo? gelisah aja dari tadi, kalo sakit ke lantai satu gih, buruan ke klinik.” tegur Bowo rekan seprofesi nya. “Bowo bener lo bilang, kayaknya emang gue lagi gak sehat, tapi yang gak sehat itu sebenarnya pikiran gue,” Curhat Hery. 


Bowo tampak berfikir, dia ragu memberikan izin kepada Hery, karena dia masing-masing orang tidak ada yang diberikan izin untuk libur, cuti atau hal lain kecuali itu tugas dari perusahaan. Selama penyidikan belum selesai maka semua orang wajib di curigai.


Hary tampak semakin frustasi mendengar jawaban sahabatnya. “Wo tolonglah, lo kan tau rumah gue, kita kan sekampung Wo, lagian gak mungkin juga kan gue terlibat macam-macam dengan kasus ini,” lanjut Hery merayu atasannya untuk bisa memberikannya izin mudik. 


Bowo dan Hery mamang pekerja dari Jakarta, mereka berdua merantau, rumah mereka pun berdekatan di kampung, sehingga membuat Bowo bingung dengan apa yang diajukan oleh Hery. 


“Her, gue coba obrolin ini dulu sama pak Raju ya, ini aja ada karyawan baru, namanya Arya, yang katanya lagi masa training, siapa tau dia bisa bantu gantiin lo selama mudik. Gue akan berusaha Her, gue paham dengan keadaan lo,”  


Senyuman Hery terkembang dengan manisnya, wajahnya yang tadi suram kini cerah, secerah harapanku bisa bertemu dengan mak tercinta. “Makasih ya Wo, lo emang sohib gue, makasih Wo, gue gak akan lupain jasa lo bro,” Hery dengan gerakan cepat memeluk Bowo dan itu menjadi perhatian teman-teman mereka yang lainnya.  “Her jangan berisik dong, ganggu aja deh!” teriak salah satu cewek yang mejanya tidak jauh dari mereka berdua. 


Bowo dengan cepat melerai pelukan bahagia Hery. “Eh maaf mbak, keseruan tadi gue, maaf yak,” cengar cengir Hery menatap gadis jutek yang sudah meredakan rasa bahagianya. “kapan lo mau balik?” tanya Bowo dengan suara yang setengah berbisik. 


“Besok pagi Wo, gue pake kereta,” jawab Hary. “Oke gue ajukan sekarang, udah lo lanjut lagi aja kerjaan lo,” dengan langkah tergesa Bowo berlari ke arah lift, dia harus segera mengajukan ijin mendadak ini langsung ke pucuk pimpinan, karena adanya aturan yang sudah diberitahukan ke seluruh karyawan, jadi Bowo tidak melalui HRD.


“Selidiki terus bagian produksi, karena bagian itu yang paling potensi untuk melakukan sabotase!” 


Deg!


“Haah! itukan divisi ku?”


❤️❤️❤️


Siapa ya yang di curigai?


yuk lanjut baca, Like+komen+vote ya. Marii mampir ke Novel ku yang Kedua, GADIS PONI SCOOTER.