
“Selidiki terus bagian produksi, karena bagian itu yang paling potensi untuk melakukan sabotase!”
Deg!
“Haah! itukan divisi ku?” Bowo yang baru saja keluar lift lantai tujuh, mendengar suara seorang pria yang sedang melakukan panggilan telepon. Pria itu berdiri membelakangi Bowo, dan hal ini membuat pria itu memilih untuk bersembunyi di balik pilar dekat dengan Lift.
Divisi yang disebutkan itu dimana saat ini dia bertugas dan bertanggung jawab. Sebagai kepala divisi produksi Bowo merasa memiliki hak untuk mencuri dengar apa yang sedang dibahas oleh si penelepon.
“Siapa orang ini? tapi dia pake seragam perusahaan, apakah ada karyawan baru yang terhubung dengan kasus kebakaran pabrik?” gumam Bowo dengan suara yang hanya telinganya saja mendengar.
“Identifikasi semua dengan teliti, aku tidak mau ada kesalahan!” kembali pria misterius itu mengatakan perintahnya dan kalimat terakhir menunjukkan pria itu memiliki kuasa. Sambungan telepon sudah terputus, dan pria misterius itu kembali melanjutkan perjalanannya. Joko yang masih menunggu, sangat hati-hati keluar dari persembunyiannya setelah langkah kaki pria itu menjauh dan tubuhnya hilang di tikungan lorong.
“Gimana ya mau maju ngajuin izin buat Hery, keadaannya sekarang lagi ketat pengawasan, tapi Hery juga kasian, mak nya sakit, ya Allah gimana ini?” gumam Bowo pelan, tampak kebingungan merayapi wajahnya. “Bowo kamu sedang apa disitu?” panggilan dari suara berat dan penuh wibawa itu mampu membuat tubuh Bowo terlonjak.
“Eh ma-maaf pak Raju, saya tadi mau keruangan bapak, apakah bapak ada waktu?” tergagap Bowo mengatakan niatnya. Tapi demi seorang sahabat, Bowo akan berusaha semampunya. urusan disetujui atau tidak, bagi Bowo itu urusan nanti, yang penting dia berusaha dulu.
“Ok, silahkan kamu keruangan saya,” ucap Raju datar. Jawaban datar Raju membuat Bowo sedikit merinding, bayangan penolakan sudah menghantui pikirannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, atasan dan bawahan itu memasuki ruangan presiden direktur.
“Ya, ada yang ingin kamu sampaikan bowo?” tanya Raju tampak tidak ingin berbasa basi. Bowo memahami waktu bos yang tidak banyak. “Tuan, saya ingin mengajukan libur untuk anggota divisi saya, yaitu divisi produksi. Karyawan yang bernama Hery ingin mengajukan cuti, karena ibunya jatuh sakit dan meminta dia untuk pulang. apakah bisa tuan?”
Bowo yang juga tidak ingin bertele-tele dengan lugas menyampaikan niatnya untuk menghadap sang bos. Kondisi perusahaan yang sekarang masih belum kondusif membuat prosedur perusahaan menjadi lebih ketat.
Sesaat kondisi ruangan menjadi hening. Raju juga menghadapi dilema, di satu sisi hak karyawan memang boleh mengajukan cuti, apalagi hal ini urgent. Disatu sisi, saat ini penyelidikan baru saja dimulai, jika dia adalah orang yang harus bertanggung jawab untuk kasus ini dan dia dibiarkan lolos bagaimana?. Disisi lain jika hal ini nanti menyebabkan kondisi sang ibu karyawannya kenapa-napa, maka dia akan disalahkan banyak orang dan akan mengakibatkan kebencian si karyawan terhadapnya atau bahkan mungkin perusahaan.
“Kamu sudah isi formnya?” tanya Raju lagi. Dengan tergesa Bowo mengajukan form yang memang disediakan oleh perusahaan untuk keperluan karyawan untuk cuti, libur sakit dan kebutuhan karyawan lainnya. Dengan tanpa ragu, Raju membubuhkan tanda tangan di form yang sudah diajukan oleh Bowo.
*****
Beberapa minggu berlalu, pengobatan yang dilakukan Sitara untuk Musa tampak berjalan lancar. Sitara selalu setia dan sabar mendampingi Musa. Abi dan Umi sudah kembali terlebih dahulu, tinggalah Satish dan Sitara yang menemani Musa. Dari kerusakan kulit akibat luka bakar, Musa akan menjalani serangkaian operasi untuk mengembalikan seperti semula, setidaknya mendekati seperti awalnya. Hampir satu bulan Musa tidak pernah melihat bagaimana kondisi wajahnya, wajahnya masih dibalut perban dan hanya akan dibuka saat perban diganti.
“Mas, hari ini aku bawain cemilan pani puri, mau ya, enak lo,” Sitara yang baru saja masuk ruang rawat Musa sibuk membongkar bawaannya. Wanita itu tampak selalu tersenyum demi melihat perkembangan suaminya yang sudah banyak perubahan.
“Papa hari ini balik ke Surabaya mas, karena melihat mas yang sudah membaik. Papa akan mengurus perusahaan dan melihat sudah sejauh mana perkembangan penyelidikan kebakaran pabrik,” jelas Sitara. Musa yang mendengarkan memberikan anggukan kecil.
“Mas ayo buka mulutnya?” pinta Sitara dengan senyum cantiknya. Musa menuruti apa yang diminta istrinya. “Tara, aku ingin melihat wajahku saat perban dibuka nanti jam sepuluh, boleh ya? selama ini kamu selalu melarang, tapi aku ngerasa sudah tidak terlalu sakit, boleh ya aku liat muka ku?” rayu Musa, tapi hasilnya tetap sama, istri cantiknya akan selalu menggeleng tiap Musa meminta hal itu.
“Mas nanti setelah operasi dan beres semua mas bisa melihat dengan sepuas-puasnya, ok! sekarang mas harus segera sembuh dan kita bisa pulang ke Surabaya, udah deeh mas gak usah punya pikiran macem-macem. Ayo buka lagi mulutnya,” Sitara tidak mau terus memperpanjang pembahasan masalah itu, dia tidak ingin luluh dan menuruti keinginan Musa yang akhirnya akan mengakibatkan hal yang fatal.
“Tara, ayo tatap mataku. Aku rasanya sudah capek dengan kalimatmu yang makin lama, makin gak kreatif itu. Jawab aku sekarang dengan jujur, apakah aku sekarang menjadi buruk rupa?
Glek!
Sitara terpaku dan lidahnya mendadak kelu. Inilah yang dia takutkan, kerusakan yang cukup parah di wajah Musa membuat suaminya menjadi sedikit menyeramkan jika di lepas perban, oleh karena itu dokter akan melakukan operasi plastik demi bisa mengembalikan keadaan kulit wajah Musa seperti semula, setidaknya mendekati semula.
“Mas jika wajah mas rusak, apakah boleh kita melakukan operasi plastik atau face off? bagaimana dengan hukum islamnya mas?” tanya Siara serius. Kini dia tidak memiliki alasan lagi untuk menghindar. Dia juga tidak ingin disalahkan oleh Musa karena mengambil keputusan sepihak. Hatinya terus merapal doa agar suaminya kuat untuk menerima keadaannya sekarang.
Musa sudah menduga akan hal itu, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Rasa penasaran semakin kuat memenuhi relung hatinya, Sesaat pria itu berpikir. Beberapa kali dia menarik nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan.
Tok!
Tok!
Tok!
Ceklek!
“Selamat pagi Tuan Musa, selamat pagi Nyonya Sitara. Maaf saya akan mengganti perban dan kembali memeriksa keadaan anda,” sapa Veer dengan Senyuman mempesona.
“Baik dokter silahkan, oya dokter bisakah saya melihat wajah saya di cermin?” Musa membalas sapaan Veer dan sekaligus bertanya, pria itu tidak mau lagi bertele-tele. Rasa penasaran kini sudah semakin menguasai hatinya.