
Musa yang menegang dan tampak kacau, Sitara membuat permintaan di depan para audiens, ini namanya maju kena mundur kena. Semua Jamaah di acara kajian mendadak tadi pun ikut mengompori aksi Sitara. Semuanya serentak meneriakkan kata NIKAH.. NIKAH.. NIKAH.
Musa tidak bisa lagi mundur, dia menyanggupinya. Hal ini tidak lepas dari pandangan 3 orang yang sangat Musa hormati, yaitu Abinya, Satish papanya Sitara dan Zulkifli, papanya Harun.
Semua yang ada di sudut ruang resepsi pernikahan Harun dan Ayu yang semakin lama semakin ramai. “Permisi ibu-ibu solehah, saya mau menemui putra, saya ustadz Musa.”
Dengan senyum yang penuh kharisma dan wibawa, seakan mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya. Sehingga para kaum hawa yang ada disana pun memberikan jalan untuk kyai Kharismatik itu.
Akhirnya kerumunan berhasil diterobos oleh Kyai Ibrahim. Dua pria paruh baya yang lainnya mengikuti langkah Ibrahim. Musa yang melihat kehadiran Abinya sedikit lega, karena Abinya pasti punya jalan keluar dan masalahnya akan selesai.
“Assalamualaikum ibu-ibu solehah semua nya.” Ibrahim yang berdiri membelakangi Musa dan Sitara, menyapa para Fans Musa. “Waalaikumsalam Kyai.” Semua menjawab serentak, seperti paduan suara.
“Saya Ibrahim, Abinya Musa, dengan segala rasa hormat dan bahagia, menyampaikan undangan untuk pernikahan anak kami Musa dan Sitara, karena calon menantu kami tidak ingin berlama-lama menunggu bulan depan dan dia meminta hari ini juga, maka saya sebagai orang tua Musa tidak ingin menunda apa yang baik.”
Jeddeeerrrr
Musa tampak kaget mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Abinya, seketika Pikirannya kacau. ini hanya salah paham batinnya, hanya gara-gara es buah. Dunia Musa mendadak jungkir balik.
Musa menoleh menatap mata Sitara, mencari kebenaran di kedua mata indah gadis cantik itu. Ya, dia melihat kesungguhan disana. Sitara tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan. dia mengangguk kecil, menandakan dia bersungguh-sungguh.
Musa bingung, dia frustasi, sekarang dia harus bagaimana. “Saudaraku Satish, nampaknya anak-anak kita sedang membuat kejutan untuk kita. Mereka merencanakan semuanya dengan sangat matang dan ini luar biasa. Aku meminta putri mu untuk menjadi menantuku, istri dari putra tunggal ku Musa.”
Satish yang mendapatkan kejutan luar biasa dari putri tersayangnya tidak mampu lagi berkata-kata, dia mendekati Kyai Ibrahim.
Greebb
Satish tidak dapat menahan haru dan senang juga bingung yang dia rasa secara bersamaan. Dengan langkah pasti dia langsung memeluk Kyai Ibrahim yang sudah merentangkan tangannya.
prok
prok
prok
Semua yang ada di acara dakwah dadakan itu pun bertepuk tangan. Kembali suara berdengung dimana para jamaah akan menunggu momen bahagia itu. Beberapa gadis yang memang berharap bisa menjadi istri Ustadz gaul itu pun patah hati berjamaah.
Fatimah dan Zahra yang melihat hal tersebut dari kejauhan saling pandang. Mereka berdua jalan mendekati kerumunan. Setelah mendengar sendiri apa yang disampaikan oleh Ibrahim suaminya, Fatimah tak kuasa menahan air mata yang siap luruh di pipinya yang sudah mulai keriput namun tetap cantik dengan polesan make up tipis.
Zahra memeluk ibu nya, mereka berpelukan. “Umi, ini bukan acara prank kan?” Fatimah hanya bisa menggeleng dipelukan putri kesayangannya. “Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang mampu untuk menolaknya."
Kebahagiaan menyelimuti hati Fatimah, entah kenapa dia sangat menyukai Sitara, dia merasa Musa akan menjalani hidup dengan penuh warna dan akan kembali ceria seperti dulu, sebelum dia patah hati dengan Cici. Ahh itu sudah lama sekali, sekarang saatnya menatap masa depan.
*****
Beberapa jam telah berlalu. Karena ruangan itu di sewakan dengan batas waktu, maka Acara resepsi Harun dan Ayu pun selesai. tapi tidak dengan penghulu yang tadi menikahkan mereka.
Zulkifli yang sangat merasa senang karena baru tadi pagi dia berencana ingin menjodohkan Musa dengan Sitara, dan sekarang Allah mengabulkan.
Dengan sigap dia koordinasi dengan penghulu dan tidak lupa dia memperpanjang sewa gedung untuk 2 jam kedepan.
Sementara di tempat lain Mawar, Fatimah, Zahra sibuk menyiapkan pernikahan mendadak itu. Kyai Ibrahim dan Satish dengan segera melengkapi dokumen. karena rumah Satish berada di satu kota dengan resepsi Ayu dan Harun di laksanakan, dia segera melengkapi.
Kyai ibrahim menyuruh Zahra untuk mengambil dokumen yang ada di mobil mereka. Disana syarat-syarat yang diperlukan ada. Zulkifli sudah selesai dengan tugasnya. Penghulu dan para petugas yang lainnya siap membantu.
Nama besar Kyai dan Musa yang terkenal di kalangan anak-anak muda, membuat penghulu merasa mendapat kehormatan dalam membantu Kyai kharismatik itu.
Vina Nasilah yang mendadak menjadi panitia nikah dadakan ustad gaul idolanya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Setelah berkenalan dengan pihak keluarga, Dia pun mendapatkan tugas untuk mengambil gaun pernikahan mendiang Mamanya Sitara.
Di sebuah kamar Hotel, yang mendadak di pesan oleh Sitara untuk persiapan, sudah disiapkan. Sitara yang menjadi pengantin dadakan pun di rias oleh para MUA yang masih standby di kamar Ayu, kini mereka semua boyongan ke kamar yang tidak jauh dari tempat semula.
Ayu yang sudah tidak tahan lagi ingin melepas semua riasannya dan berganti pakaian. Sekarang dia yang akan menjadi tamu undangan.
Tapi bagaimana dengan pakaian Sitara? tidak mungkin kan dia pakai baju kondangan yang bernoda karena ketumpahan es buah. Itulah yang masih menggantung di pikiran Ayu.
Sitara tampak santai dan tenang, hal itu yang membuat Ayu bingung. Dia tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari sahabat belahan jiwa nya itu.
“Beb, Lo gak lagi kesurupan kan?”
“Gak lah Ay. Gue malah lagi seneng banget. Lo gak seneng ya?”
“Gak gitu juga Beb, tapi kan aneh aja, tiba-tiba kalian Nikah, ini gimana ceritanya?”
“Lo mau tau aja, apa mau tau banget?”
“Ihh Lo mau sembunyi-sembunyi dari gue?”
“Ayolaah Ay, jangan galak-galak, manten baru bawaannya harus ceria kayak gue gini.”
Beb Ayo cerita!” Ayu mulai kesal dan suaranya penuh dengan tekanan dan matanya terlihat tajam meminta penjelasan.
“Hahaha.. Kau mau tau banget ternyata , jadi tadi kejadiannya bla.. bla.. bla” Naahh itulah asal muasal nya Ay.” Sitara menceritakan itu dengan sangat antusias.
“Ya Allah Tara!! dulu mak Lo ngidam apa sih, punya anak kok kayak gini. Lo gak nikah kontrak kan sama si Ustadz?” Ayu memicingkan matanya menyelidik, apa yang sedang dimainkan oleh sahabatnya ini.
“Gila Lo ya, walau gue kayak gini, tapi gue sangat menghormati ikatan suci pernikahan Ay. Tapi satu hal yang harus lo inget, Gue sedang mencetak sebuah sejarah, kisah cinta gue baru akan dimulai Ay.”
Ayu yang melihat kesungguhan di mata sahabatnya itu hanya bisa melongo. “Jangan kelamaan mangapnya, ntar kemasukan gajah.”
Laahh ini mulut kan bukan gua, kelewatan eman Sitara bikin perumpamaan, Author aja sampe lama merenungnya, tu mulut kemasukan gajah hihihi.
Mereka masih asyik ngobrol dan tertawa bersama, Vina yang sudah mengetuk pintu dulu dan diizinkan masuk, tampak sedikit kesulitan membawa gaun yang indah berwarna merah menyala itu. lengkap dengan aksesorisnya
Tidak mau membuang waktu, Sitara bergegas masuk ke kamar. Ukuran baju yang sudah puluhan tahun itu pas di tubuh indah Sitara. Dia pun keluar kamar untuk siap memasang semua perhiasan yang ada.
Semua orang yang da di ruangan itu terbelalak melihat kecantikan Sitara. Sitara yang kebingungan melihat mereka, merasa risih dilihat begitu.
“Beb Lo cantik banget, Maasya Allah. Kayak Boneka India” kagum Ayu.
Plak..
“Aww.. sakit Beb!” Sitara memukul bahu Ayu, dan ayu pun berteriak sok manja.
“Lo kira gue mannequin?”
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Makin seru ya ini Sitara dan Musa, penasaran gak sama acara nikahannya?? kalo ada yang mau ngasih ide, boleh ya. Kalo mau ngobrol, yuk gabung di Grup Chat Nuna.
Jangan lupa Like, Komen, Share dan vote yaa pemirsa ku tercinta. Love You All.