Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 53: Tidak Sanggup


Musa masih harus bertarung menghadapi maut, dokter yang menangani juga juga tampak serius, sementara Sitara berusaha menenangkan diri tidak ingin mengganggu konsentrasi dokter. Wanita cantik itu menguatkan keyakinannya kepada Allah, pertolongan akan datang untuk hambanya yang soleh. 


‘Ya Allah, engkau maha pengasih, maha penyayang, engkaulah sang pemilik ruh kami, hamba memohon ampunan mu ya Allah, hamba memohon pertolonganmu ya Allah. berikanlah kesembuhan dengan sebaik-baiknya kesembuhan kepada suami hamba yang sedang berharap belas kasihmu ya Allah. Kami tidak memiliki kemampuan apapun tanpa izinmu, izinkanlah suami hamba untuk kembali bisa membimbing hamba yang lemah ini ya Allah, hamba mohon kabulkanlah permohonan hamba ya Allah, Aamiin.’ doa Sitara yang hanya mampu diucapkannya di dalam hati, bulir bening lolos dari kelopak mata yang sudah tampak sembab. 


Sitara diam mematung dengan tatapan lurus melihat ke arah sang suami yang terbujur lemah tak sadarkan diri, dia tidak ingin beranjak sedikitpun, Sitara ingin menemani suaminya, apapun yang terjadi dia ingin ada di samping Musa.


“Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya.” ucap dokter yang tadi tampak berjibaku memberikan pertolongan kepada musa yang mengalami kejang. “Nyonya bisa ikut keruangan saya,” titah dokter yang tampak sudah memasuki usia paruh baya itu. 


“Baik dokter.” jawab Sitara dan mengikuti langkah sang dokter menuju ruangannya. Sitara yang duduk berhadapan dengan dokter dan melirik sekilas kearah papan nama di mejanya, tertera di sana dr. Franky. “Bagaimana keadaan suami saya dokter?” tanya Sitara tidak sabaran. 


“Nyonya Sitara, mohon maaf dengan keterbatasan fasilitas kami yang ada disini, kami tidak sanggup untuk melakukan pengobatan untuk tuan Musa. Kerusakan organ dalam yang parah membutuhkan peralatan dan tim dokter yang sesuai.” Dokter Franky menjeda, pria itu mengamati wajah Sitara yang tampak suram. 


“Dokter, kemana saya harus membawa suami saya? apakah dokter ada rekomendasi agar saya bisa langsung menuju kesana,” tanya Sitara, dia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. “Nyonya Sitara, saya merekomendasikan rumah sakit di Johor Bahru, jika anda berkenan saya akan menghubungi tim yang ada disana, agar nanti bisa langsung mengurus tuan Musa,” jawab dokter Franky dengan tatapan yang terus menatap lurus ke netra sembab Sitara. 


Penampilan Sitara yang kusut masai dan baju yang banyak noda darah mengering, membuat dokter Franky iba, dia sangat memahami kalutnya pikiran istri pasiennya itu. “Dokter kapan saya bisa membawa suami saya kesana?” lanjut Sitara, Wanita itu terkesan tidak sabar, ingin rasanya saat ini juga dia terbang kesana, dan bisa melihat suaminya kembali sehat, ya itulah keinginan manusia, terkadang melupakan sebuah proses, tapi hanya memikirkan hasil yang sesuai dengan keinginannya. 


“Baik nyonya, kami akan menyiapkan semua rekam medis pasien yang nantinya akan dibutuhkan oleh tim dokter disana, berikut surat rujukan dari rumah sakit ini. Sementara kami bersiap, anda juga bisa menyiapkan untuk keberangkatan pasien. akan ada perawat senior yang mendampingi perjalan kesana, karena ini prosedur dari rumah sakit, dan untuk biaya perawat akan ditanggung oleh keluarga pasien, apakah anda setuju nyonya?” jelas dokter Franky panjang lebar, hal itu dapat dipahami oleh Sitara dengan jelas. 


Setelah semua pembahasan mengenai pengalihan pengobatan Musa, Sitara pamit keluar, untuk menemui keluarganya yang masih cemas menunggu diluar. Musa masih berada di ruang ICU, karena kondisi Musa yang masih belum normal. Dengan langkah gontai, Sitara menyusuri koridor rumah sakit, jarak yang tidak terlalu jauh tapi terasa sangat jauh bagi Sitara. Dia tidak lagi memikirkan tentang pabriknya, saat ini pikirannya hanya dipenuhi oleh nama suaminya, yang baru saja dia cintai, kini pria yang selalu membuat hatinya teduh itu sedang terbujur lemah tak berdaya. Hancur rasa hati wanita cantik berhidung bangir itu, seakan hilang harapannya. 


“Nak gimana suamimu?” tanya abi yang tampak tidak tenang. Sementara Satish yang tergesa mendatangi Sitara, merangkul pundak putri tercintanya, untuk menyalurkan semangat dan kekuatan. “Abi, papa, pihak rumah sakit tidak mampu menangani mas Musa,” Sitara tidak mampu memberikan keterangan yang bisa membuat mereka semua tenang, kalimat yang keluar hanya yang saat ini terlintas saja dipikannya.


“Ya Tuhan, kenapa tidak mampu, lalu bagaimana Musa di dalam sana Tara?” Daadee tidak bisa lagi menahan kekesalannya karena rumah sakit tidak bisa memberikan pengobatan terbaik untuk cucunya. “Tenang ma, jangan emosi, berikan Sitara waktu untuk menjelaskan, jangan membuat dia makin tertekan. ayo duduk dulu sayang,” Satish yang jengkel melihat reaksi sang mama, langsung menegurnya dan mengajak Sitara untuk duduk agar lebih tenang. 


Air mata terus saja mengalir dan isak tangis Sitara masih belum bisa mereda sepenuhnya. Cici memberikan air mineral yang tadi sempat dia beli untuk diberikan kepada seluruh anggota keluarga. “Ibu, ayo diminum dulu agar lebih tenang,” ucap Cici lembut sambil menyodorkan air ke arah Sitara. Sitar mengambilnya dan langsung meminumnya hingga setengah botol air itu habis dalam tegukan tanpa jeda. 


“Abi, papa, kita akan membawa mas Musa ke Johor Bahru, rumah sakit ini tidak memiliki fasilitas yang memadai… bla..bla ..bla,” Sitara menjelaskan panjang lebar semua yang tadi dokter Frankie katakan. Setelah selesai menjelaskan Sitara memandang satu persatu keluarganya yang hadir. 


“Abi dan umi akan ikut dengan mu nak,” Ibrahim menyatakan kesanggupannya untuk menemani anak dan menantunya. “Papa juga akan ikut, mama sebaiknya mama kembali ke Mumbai, aku tidak mau mama nanti sakit karena terlalu lelah,” Satish meminta Pooja untuk tidak usah ikut, karena dia sangat tahu bagaimana mamanya, dia tidak ingin nanti Pooja melakukan hal yang membuat rusuh. Walaupun kalimat satish seakan peduli dengan kesehatan sang mama, tapi Pooja tetap saja tersinggung dengan kalimat putranya itu.


“Kau ini Satish, tega sekali kau mengatakan itu, tidak, aku akan ikut, baru saja aku berkumpul dengan kalian, tapi sekarang kau suruh aku pulang disaat cucuku sendang meregang nyawa, dimana hati nurani mu terhadap mama, huh?” 


Suasana yang tadinya tenang, kini ramai dengan perdebatan antara ibu dan anak, hal ini jelas saja membuat Sitara menjadi kesal, kenapa papa dan daadee nya tidak pernah berubah, bahkan dalam keadaan Sitara yang sedang hancur seperti ini mereka tetap saling beradu argumentasi. “Cukup! papa, daadee, kenapa kalian tidak bisa tenang, ya sudah daadee akan ikut ke Johor!” bentak Sitara yang akhirnya mampu membuat anak dan ibu itu berhenti berdebat dengan bahasa Hindi yang sudah jelas tidak bisa dimengerti oleh yang lain. 


Ibrahim yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala saja, “Ayo mari kita bersiap semua,” ajak Ibrahim. “Astaghfirullah, maaf Cici sedari tadi abi sampai lupa bertegur sapa, sebentar dulu, kenapa kamu ada bersama Sitara?” Ibrahim yang sempat lupa akan kehadiran Cici, kini dia sadar akan keberadaan gadis itu. “Iya abi, Cici bekerja di perusahaan bu Sitara.” jawab Cici lembut. “Bagaimana pondok abi mu nak?” tanya Ibrahim lagi, dia merasa lama sekali tidak pernah berkunjung kesana. “Alhamdulillah abi sehat, dan pondok masih berjalan bi, Cici bekerja karena untuk mencari pengalaman.” balas cici dengan senyum ramahnya. Ibrahim mengangguk paham. 


“Cici, bisakah tolong kamu bantu saya untuk menyiapkan tiket dan reservasi hotel, tolong uruskan sekalian tiket abi, umi, papa dan dadee juga ya selain saya dan mas Musa.” titah Sitara. bukannya dia tidak ingin mendengar lebih lama lagi hubungan Cici dengan keluarga suaminya, tapi keingintahuannya tentang itu semua dia pendam dulu, jika semua sudah tenang maka dia akan menanyakan semuanya lebih lanjut. 


“Baik bu, saya akan koordinasi dengan mbak Mega, sekretaris ibu,” jawab Cici sopan dan langsung melakukan tugas yang baru saja diberikan oleh bosnya.


“Sitara!” Suara bariton yang lama tidak pernah Sitara dengar kenapa tiba-tiba ada disini. 


❤️❤️❤️


Mohon dukungannya terus ya pemirsa, jangan lupa Like, Komen, Vote dan hadiah nya ya. Yuk mampir juga ke novel ku GADIS PONI SCOOTER, cerita komedi yang bikin segar. Happy reading pemirsa, tengkyuu 🌹