
“Masya Allah, sungguh luar biasa nikmat yang Allah berikan, Tara, apakah ini benar wajahku?” Musa takjub dengan apa yang dia lihat di pantulan cermin. Perlahan dia mengusap wajahnya, Sitara yang terdiam, terpana menatap wajah baru suaminya. “Mas Musa, apa itu kamu?” tanyanya lirih, tubuhnya terpaku, kedua bola matanya nanar menatap ke cermin, perlahan kepala wanita cantik itu menoleh ke samping kirinya.
“Mas Musa, aku hampir gak kenal kamu mas, apakah aku boleh menyentuh wajahmu?” tanya Sitara yang hampir tidak berkedip menatap wajah baru yang terlihat asing di matanya. Sementara para dokter yang menjadi tim operasi face off, semuanya berucap syukur dan takjub dengan apa yang mereka lihat sekarang.
“Tuan Musa anda tampan sekali, apakah anda nyaman dengan wajah baru ini?” tanya Veer dengan pandangan mata takjub.
“Terima kasih dokter Veer, dan untuk para dokter yang hadir disini, saya mengucapkan banyak terima kasih. berkat kerja keras dan usaha anda, saya mendapatkan wajah yang tidak menyeramkan untuk dipandang oleh orang lain. Sungguh ini adalah karunia dari Allah, saya merasa terlahir kembali.” Musa tersenyum bahagia, bahkan senyumnya pun kini semakin menawan.
“Tuan, kami sebenarnya tidak melakukan perubahan apapun, kami berusaha untuk merekonstruksi kembali wajah anda dengan mengambil sebagian dari tubuh anda. Pola wajah yang lama, berusaha untuk kami ikuti, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, anda terlahir kembali dengan wajah yang tidak kalah tampan dari kelahiran yang pertama. Selamat tuan Musa, semoga untuk kedepannya tidak ada kendala akibat dari efek pasca operasi.” jelas dokter Veer dengan masih terus mengulas senyum di bibirnya.
“Mas, apakah kamu masih ngerasa sakit?” tanya Sitara perhatian.
“Pedih dan masih sedikit nyeri Tara, semoga akan segera normal, kamu jangan cemas ya,” jawabnya lembut.
“Oke, sekarang kita akan lihat bagaimana dengan tangannya? apakah sebagus operasi di wajahnya,” ver kembali beraksi dengan gunting di tangan dan fokus untuk melepas kain kasa yang melilit tangan Musa.
Musa lebih siap menghadapi hal ini dibandingkan dengan saat akan melihat wajahnya tadi. “Alhamdulillah bagus dokter, terima kasih banyak, saya akan menjaga karunia Allah ini. Sungguh saya betul-betul di tolong oleh kasih sayang Nya.” Senyum Musa terkembang dan semakin membuat wajah barunya terlihat tampan. Dokter Veer tersenyum dan mengangguk, dokter yang lainnya pun ikut senang dan menyalami Musa secara bergantian. “Tara, terima kasih untuk semua yang udah kamu lakukan selama ini. Kamu yang terbaik sayang,” ucap Musa sendu, tangannya yang sedari tadi terkait dengan tangan Sitara, menariknya pelan dan memberikan kecupan sayang pada tangan wanita cantik itu.
“Sama-sama mas, Allah mudahkan semuanya, aku hanya menjalankan apa yang seharusnya aku lakukan untuk orang yang aku cintai,” balas Sitara tak kalah manis, jangan ditanya bagaimana warna wajah Sitara, merona pastinya dan itu membuat kecantikan wanita yang berstatus nyonya Musa itu naik beberapa level.
“Ehem, nanti lagi ya mesra mesraan, jangan bikin kami disini sebagai penonton drama romantis,” Veer berdehem dan menyadarkan kedua sejoli yang sudah halal itu dengan keadaan mereka sekarang ini. Derai tawa bahagia semua dokter dan juga sepasang suami istri itu pun memenuhi seluruh ruangan.
“Maaf dokter, saya sampai lupa kalau masih ada kalian,” jawab Sitara malu-malu. Beberapa saat mereka berbincang-bincang, banyak hal yang Musa dan Sitara tanyakan perihal perawatan dan pemeriksaan rutin sampai nantinya normal kembali. Para dokter dan perawat pun kini sudah pergi meninggalkan sepasang suami istri yang berbahagia itu.
“Yee ditanya kok malah balik nanya?” sungut Musa merasa belum puas dengan jawaban istrinya. “ya suka lah mas, seperti yang kamu bilang tadi, di kelahiranmu yang kedua ini kamu tetap tampan,” jawab Sitara mempertegas jawabannya.
Untuk sesaat suasana hening, Sitara menatap dalam ke arah kedua netra milik suaminya. Entah kenapa wanita cantik itu sepertinya tidak tahan untuk menahan sedikit saja rahasia kepada suaminya itu. “Ada apa? kok ngeliatnya gitu?” tanya Musa yang menyadari istrinya sedang ingin bicara.
“Mas aku mau kasih tau kamu tentang siapa yang membuat kebakaran di pabrik kita dan akhirnya kamu mengalami luka bakar yang parah seperti ini, apa kamu berminat untuk tau mas? jelas Sitara yang berujung pada pertanyaan untuk suaminya. “Iya aku mau tau, apa kamu sudah tau dan membuktikan semuanya Tara?” Musa tiba-tiba saja ingin mengetahui, padahal selama ini dia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu.
“Dev mas, sepupu aku,” jawab Sitara yang langsung menunduk, ada rasa malu yang menggerayangi hatinya, mengingat keluarga dari pihak suaminya adalah pemuka agama dan tokoh masyarakat yang cukup terpandang. Musa terdiam mendengarkan itu. Terkejut, sudah pasti, dia yang selama ini belum begitu mengenal keluarga istrinya, tapi dia sudah menerima rasa sakit bahkan nyaris kehilangan nyawa dari salah satu keluarganya itu.
“Kapan kita pulang sayang?” tanya Musa dengan tidak menanggapi penjelasan Sitara tadi. Wanita cantik itu pun mengangkat wajahnya, suaminya tidak menjawab atau menanggapi apa yang baru saja dia beri tahu, sekarang malah bertanya kapan pulang. “Besok kita sudah pulang mas, aku sudah urus tiketnya.” jawab sitara.
“bolehkan kita langsung menemui Dev?” tanya Musa lagi, dan hal ini semakin membuat Sitara bingung. “Mas mau menghukumnya? tanya Sitara yang masih belum menjawab pertanyaan suaminya. “Aku hanya ingin bertemu dengannya Tara, apakah jika aku menghukumnya akan membuat keadaan lebih baik?’ jawaban Musa yang berakhir pertanyaan itu membuat Sitara bingung untuk menjawabnya.
Untuk beberapa saat suami istri itu saling berbincang, tidak hanya membahas tentang rencana mereka kedepan tapi juga membahas tentang para karyawan yang masih dirawat. Tidak lagi membahas tentang Dev, karena Musa sendiri masih memikirkan apa yang akan dia lakukan pada saudara sepupu istrinya itu. Jalur hukum sudah pasti akan banyak orang yang akan tau bagaimana keluarga istrinya, tapi jika jalur kekeluargaan, harus bagaimana Musa bersikap.
“Tara apakah kamu pernah berpikir untuk memberikan hukuman langsung kepada sepupumu itu?” tanya Musa dengan tatapan lembut ke arah istrinya.
“Jujur, iya mas, bahkan aku sudah merencanakan party yang tidak akan terlupakan oleh Dev,” jawab Sitara dengan tatapan yang menyala, seakan api itu tidak bisa dipadamkan dengan sejuknya tatapn suaminya.
❤️❤️❤️
Like, komen, subscribe dan vote ya pemirsaahh, menjelang tamat ini author mau ngajakin ke novel yang lainnya ya, GADIS PONI SCOOTER dan JANDA MANDUL, ada juga karya bersama lainnya napen Putri Tanjung dengan judul JANDA KILLER KESAYANGAN, happy reading pemirsa ❤️🌹