Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 62: Mantan Tunangan Ku


“Arya, kenapa kita gak langsung masuk saja?” tanya Cici yang merasa heran dengan ulah Arya. Pria tampan itu tidak menjawab pertanyaan Cici, mobil terus melaju sangat pelan dan akhirnya sengaja memarkir di halaman rumah penduduk yang tampak kosong. “Kamu tunggu disini dulu,” ucapnya,  dengan cepat Arya mengambil plat nomor yang ada di bangku belakang, dan bergegas memasang plat nomor tersebut. Sebelumnya pria itu memastikan dulu si penguntit tidak ada disekitarnya. 


Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan, sampai di halaman pabrik, Arya memarkir mobilnya tepat di dekat ruangan mesin yang pertama kali api menyala. Pria Tampan itu keluar dan tanpa diminta, Cici pun mengekor di belakangnya. Beberapa karyawan yang bekerja di pabrik memberikan anggukan hormat kepada Arya dan Cici. 


“Arya, aku akan menyisir di sebelah sini,” ujar Cici pelan. Arya hanya mengangguk dan tersenyum. sementara dia memperhatikan seluruh ruangan itu. Seketika matanya tertuju pada satu titik, pelan pria itu mengayunkan langkahnya. Dengan peralatan yang memang sudah dia siapkan, pria itu terus saja menyisir dimana dia menemukan hal yang menarik perhatiannya. 


Tanpa terasa waktu berlalu, hampir dua jam mereka berdua berkutat di dalam diam. tidak satupun dari mereka yang mengeluarkan suara, hanya fokus, itulah yang mereka lakukan. 


“Selesai juga, sekarang kamu ikut aku ke laboratorium forensik, kita akan mengetahui apa nanti setelah ini,” Arya yang sudah siap untuk menjalankan mobilnya itu menyempatkan menatap wajah Cici yang nampak berkeringat. 


“Nih tisu,” tangan kekar itu dengan cepat memberikan beberapa lembar tisu kepada gadis yang sudah duduk di sebelahnya. Perhatian kecil itu cukup membuat Cici berdebar. Mobil bergerak pelan, Arya terus saja melakukan panggilan dengan menggunakan bahasa Hindi, dan sudah jelas Cici tidak mengerti sama sekali. 


Untuk yang kesekian kalinya Arya melakukan panggilan kepada bosnya, nyonya Sitara. 


“Hallo Tara, beberapa hari ini aku ditemani Cici untuk mengobrak abrik perusahaanmu,” 


“Hey Jangan makan gaji buta ya sepupu brengsek, dan jangan kau jadikan Cici korban rayuan mautmu. Apa yang kau dapatkan?” tanya Sitara setelah sedikit mengatai sepupu kesayangannya itu.


“Sudah hampir selesai pekerjaanku, kapan kau kembali?” tanya Arya.


“Hari ini operasi suamiku dimulai, tunggulah aku berharap prosesnya tidak lama, dan penyembuhannya juga tidak lama, tapi ya sekali lagi itu hanya harapanku,” jawab Sitara sendu, Arya bisa merasakan kesedihan yang menggelayut di ucapan sepupunya itu. 


“Ya aku akan sabar menunggu, asalkan kau izinkan Cici untuk menerima lamaranku,” balasnya untuk membuat Sitara kembali tersenyum di seberang sana. 


“Hey kau ini, dia gadis baik-baik, awas saja kau sampai macam-macam aku tidak akan melepaskanmu, jejaka lapuk!” Arya tersenyum mendengarkan sepupunya yang sudah kembali normal.


“Tenang saja, aku akan menyentuhnya setelah ijab kabul, hahahaha,” tawa puas Arya disambut dengan tatapan tajam Cici, gadis itu sadar betul Arya dan Sitara masih terus membahas tentang dirinya. 


“ARYAAA!” teriak Sitra disana dan itu mampu membuat Arya merasakan sakit pada gendang telinganya. 


“Heeyy kau pikir telingaku ini terbuat dari besi, suaramu tolong dikondisikan ya nyonya Sitara Kumari,” rajuk Arya pura-pura. Jelas diseberang sana Sitara sendang tertawa puas, wanita cantik itu sudah tau pasti sepupunya itu kesakitan. 


“Apakah kau sudah bisa menyimpulkannya?” tanya Sitara dengan mode serius. 


“Apa sih sebenarnya yang dia mau, jika benar dia, menurutmu kita apakan dia?” tanya Sitara geram. Arya tersenyum sumringah, inilah yang paling dia nantikan. 


“Kita bikin dia tiga perempat mati,” jawab Arya penuh kepastian, hal ini ternyata membuat Cici menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Arya yang menyadari akan kesalahannya, buru-buru mengatasi pandangan gadis yang sedang ingin dia minta cintanya itu. 


“Ci, kamu jangan liat aku kayak gitu napa? itu hanya istilah aku dan Tara saja, nggak sesungguhnya begitu, aku kan gak bisa kejam Ci orangnya,” rengek Arya sok imut. Sementara di seberang sana Sitara ngakak tak tertahan. “Lanjutkan aja ngobrolnya dengan bu Sitara, nanti aja kamu jelaskan padaku,” balas Cici dengan mengalihkan pandangan ke arah depan. 


Arya hanya mengangguk tanda setuju atas apa yang dikatakan Cici kepadanya. Kini Arya bersiap untuk menyemprot Sitara, tapi baru saja mulutnya terbuka, Sitara sudah lebih dulu bicara dari seberang sana. 


“Jangan lepaskan jahanam itu Ar, aku sebenarnya nggak suka berhadapan dengan keluarga, dan tolong pastikan hal ini jangan sampai terdengar oleh suamiku. Jika nanti kalian bertemu dan dia menanyakan, katakan saja sudah ditangani oleh pihak yang berwajib, dia orang yang tidak pernah mau menghukum orang Ar, hatinya lembut bagai marshmello.”


Sesaat Arya terdiam, dengan serius dia berfikir bagaimana cara membuat Dev membayar atas semua yang sudah dia lakukan, tapi hatinya mulai tergelitik dengan kalimat Sitara yang mengatakan suaminya selembut marshmello. 


“Hahahaha kenapa kau mencari suami yang seperti itu Tara, kau ini pendekar, harusnya kau cari yang sejenis Rambo,” derai tawa Arya tidak bisa dia tahan. Kembali Cici menghujamkan tatapan membunuh ke arah mata Arya. Cici merasa tidak terima ketika ustadz yang dulu pernah mengisi hatinya di olok seperti itu oleh Arya.


Sitara merasa kesal dengan tawa Arya yang dengan seenaknya, “Sudah puas ketawanya? sekarang jangan bahas soal suamiku, kerjakan tugasmu, dan tunggu aku pulang untuk eksekusi Dev si jahanam itu. jika kau sudah menangkapnya terlebih dulu, simpan dia di tempat biasa, kau tau kan?” titah Sitara. Kini wanita cantik itu sedang menunggu suaminya si ustadz gaul yang sedang operasi wajah. 


Masih di dalam mobil yang ditumpangi oleh Arya dan Cici. setelah berbincang ringan akhirnya mereka mengakhiri sambungan telepon dua negara itu. Cici masih tidak bisa terima dengan kalimat terakhir yang dikatakan Arya barusan tentang ustadz Musa.   


“Ci, kenapa liat aku kayak gitu? aku merinding lo? kamu cantik kok tatapannya horor,” kelakar Arya agar Cici tidak murka. tapi tetap saja gadis berparas lembut itu masih menampakkan wajah kesalnya. 


“kenapa kamu bilang ustadz Musa seperti itu? apa kamu kenal dia?” tanya Cici ketus. Arya mengusap leher belakangnya yang mulai berkeringat. ‘Bakal gagal nih dapetin cintanya Cici,” gumamnya dalam hati. 


“Canda ci, ya elaah gitu aja dimasukin hati, aku minta maaf deh kalo itu bikin kamu tersinggung. Lagian mana ada orang jaman sekarang punya hati kayak malaikat Ci, udah tau yang dihadapi iblis berwujud manusia, masa iya suaminya Tara gak tega menghukum atau setidaknya mendukung lah hukuman ala kami,” Arya berusaha berargumen agar Cici bisa memahami cara bercanda dirinya dengan sepupu barbarnya itu. 


“Aku tau gimana ustadz Musa, karena dia mantan tunanganku,” 


❤️❤️❤️


Menjelang end ya gaees, jgn lupa Like, Vote, jangan lupa main ke novel GADIS PONI SCOOTER dan author lagi persiapan untuk novel berikutnya, ikuti terus ya pemirsa, makasiihhh 🌹