Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 50: Bertemu Cici


“Ustadz Musa?” Seorang wanita memanggil musa dari arah belakang, sontak membuat Musa menoleh dan pautan tangannya dengan Sitara terlepas.


Musa memperhatikan wajah cantik dan teduh berbalut jilbab lebar berwarna ungu muda. Wanita ini lama sekali tidak dilihatnya, Musa langsung menjatuhkan pandangan tidak ingin menatap lama ke arah wanita yang bukan muhrim nya. Sitara yang mengetahui suaminya ikut menoleh ke arah sumber suara dan kembali berdiri di sisi suaminya. . 


“Dek Cici, apa kabar?” sapa Musa ramah. 


“Alhamdulillah baik ustadz, maaf sudah mengganggu waktu ustadz, permisi saya mau mau langsung masuk untuk absen,” pamit Cici dengan canggung, gadis itu melihat musa yang bergandengan tangan dengan owner perusahaan tempat dia bekerja saat ini. 


“Sebentar dek, ini kenalkan istri saya, Sitara,” Musa sepertinya masih belum paham, Cici adalah karyawan di perusahaan ini. Sesaat tadi dia gagal fokus karena bertemu dengan masa lalunya. Sitara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Musa. 


“Sitara,” sapanya ramah, Sitara menatap penuh arti kepada wanita yang sekarang berjabat tangan dengannya.


“Cici, salam kenal bu Sitara,” balasnya dengan senyum yang membuat wajah teduhnya terlihat cantik. “Maaf Bu, saya sudah mengganggu waktu ibu dan Ustadz, saya mau masuk dulu, Assalamualaikum.” lanjutnya, tanpa membuang waktu lagi, Cici pun berjalan pelan melewati pasangan pengantin baru tersebut.


“Iya silahkan, Waalaikumsalam,” sahut mereka hampir bersamaan. Musa memandangi punggung Cici yang berjalan memasuki gedung perkantoran itu menuju lift yang berada di ujung lorong.


“Mas, segitunya ya mandangin punggung Cici, mas kenal dimana? kok kayaknya dia kaget gitu waktu tadi negur mas?” berondong Sitara, tatapannya berubah menjadi penuh selidik. 


“Astaghfirullah,” Musa mengusap wajahnya kasar, dia menyadari kekhilafannya memandang wanita yang tidak halal baginya dengan tatapan yang lama. Sambil berjalan menuju lift khusus owner, Musa mengeratkan tautan tangannya, dia tidak ingin membuat suasana hati istrinya menjadi tidak nyaman di pagi ini. 


“Sayang kalo nanya itu satu-satu, hmm jangan-jangan kamu cemburu ya?” goda Musa dengan mengedipkan sebelah matanya. 


“Ihh ge er, siapa juga yang cemburu, aku gak cemburu kok,” sungut Sitara, bibirnya mengerucut seperti piramid mini, pembuat Musa gemas melihatnya.


“Dia putri kyai Ahmad, iya kami saling kenal sayang,” jelas Musa, tapi hal itu tidaklah membuat Sitara puas. Tampak jelas dari raut wajah Cici yang sedikit kaget dan tidak nyaman saat melihat tangannya menggenggam erat tangan suami, seakan ingin memberitahukan dia milikku.


“Mas pernah ada kisah dengan dia?” tembak Sitara to the point, dia tahu suaminya pasti tidak akan bercerita jika dia tidak memberikan umpan. 


“Ehem, sayang bisa gak nanti ceritanya pas dirumah aja, atau disaat kita sedang berdua, aku gak mau nanti merusak rencana kita, dan aku juga gak mau nanti ada telinga yang mendengar hanya sepotong, lalu menjadi bahan gosip yang di tambah bumbu.” jawab Musa halus, dia tidak ingin Sitara salah paham karena fokusnya terbagi. 


“”Hmm baiklah, tapi mas janji ya akan menceritakan semuanya nanti dirumah. Hari ini mas gak ada acara kan?” Sitara mengalihkan pembicaraan.


“Hari ini nggak ada, tapi besok pagi mas ada ngisi acara di salah satu perusahaan disini, sepertinya gak jauh deh dari kantor kamu ini, kamu ikut ya sayang? alamatnya gak jauh kok dari sini, keknya masih di jalan yang sama.” jawab Musa sambil menatap lembut istrinya. 


Mereka sekarang sudah dekat dengan ruangan Sitara, dan sekali lagi Musa melihat keberadaan Cici yang ternyata ruangannya tidak jauh dari ruangan Sitara. ‘Kenapa kamu bekerja disini dek? ada apa dengan pondok pesantren milik abi mu? ahh ternyata lama aku gak pernah kesana dan mendengar kabar mereka,’ Musa hanya bisa bertanya dalam hatinya. 


Sitara membukakan pintu untuk suaminya, dia tidak menyadari ketika Musa sempat bersilang pandang dengan Cici. “Masuk mas, ini ruangan ku, tempat aku selama ini menghabiskan waktu sebelum kejadian memalukan malam itu,” Sitara memasuki ruangannya lebih dulu, dengan tangan yang terus berpegangan dengan Suaminya. 


Senyum nya tampak bahagia pagi ini. Wanita cantik yang sedikit bar bar itu kembali terkenang akan kejadian beberapa bulan yang lalu, dimana dia akhirnya mengenal Musa, ustadz yang dengan terpaksa harus menggendong tubuhnya. Setelah mengucapkan salam Musa masuk ke ruangan Sitara, interior yang mampu memanjakan mata, membuat ruang itu tampak cantik dan elegan. 


“Iya mas, tapi sebagian ada hasil sentuhan mendiang mama. Itu mama mas.” Sitara menggandeng lengan kokoh Musa mendekat ke sebuah foto dengan ukuran besar yang berkalung bunga berwarna oranye


Terpampang potret seorang wanita dengan senyum yang terkembang. Menggunakan pakaian saree india, berwarna merah, dengan sulaman benang emas. Semakin menambah keindahan dari pakaian yang dikenakan oleh Gauri. Bindi berwarna merah yang diapit oleh alis bak bulan sabit kembar dan tidak lupa sindoor merah yang menghiasi belahan rambutnya, tanda suci ikatan pernikahan antara gauri dan Satish, merekalah orang tua Sitara.  


Musa terus mengamati foto ibu mertuanya. Kecantikan yang begitu menyejukkan, terlihat anggun, anting hidung yang menambah kesempurnaan tata rias Gauri, membuat Musa seakan enggan untuk mengalihkan pandangannya. 


“Assalamualaikum ma, salam kenal saya Musa, Maasya Allah mama cantik sekali, Mama yang tenang disana ya, Sitara sekarang sudah menjadi istriku, aku bahagia bisa menjadi suaminya, putri mama yang cantik ini akan aku jaga dengan nyawaku. Kami akan selalu mendoakan mama, Semoga Allah memberikan tempat yang mulia untuk mama disana. Kami menyayangi mama.” Musa merangkul pundak istrinya dan membawanya ke dalam pelukan yang memberikan kenyamanan di hati Sitara. 


Mereka berdua berdiri menghadap foto Gauri yang berbingkai indah. Hati Sitara menghangat, dia terharu mendengar kalimat yang meluncur dengan lancar dan tulus dari suaminya, hal ini membuat hatinya luruh, terharu dan tidak bisa lagi menjaga bulir-bulir bening yang sedari tadi berusaha dia tahan.


Sitara menangis terharu, wanita cantik itu melingkarkan tangannya ke perut Musa, dan membenamkan wajahnya ke dada bidang milik Musa. Damai, itulah yang dia rasakan. 


“Sayang kamu nangis?” tanya Musa, ustadz tampan itu merasakan tubuh istrinya bergetar, tangan kokoh Musa merangkul erat tubuh padat milik istrinya. Suasana mengharu biru menyelimuti ruangan Sitara. Pasangan pengantin itu masih betah berada di hadapan foto Gauri. 


“Dengan cara ini aku melepas rindu ke mama mas.” Musa memahami, karena mama mertuanya sudah dikremasi. “Ingatlah hal yang membahagiakan sayang, jangan membuat mama bersedih karena ngeliat kamu nangis,” bujuk Musa. Pelan Sitara melerai pelukannya. Mereka saling menatap dengan pandangan yang teduh. 


Tok! Tok! Tok!


“Ya masuk!” sahut Sitara. Musa melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu, dia tidak ingin memperlihatkan hubungan pribadinya kepada karyawan Sitara. 


Cici masuk keruangan Sitara, dia hanya bisa melihat Musa dengan sudut matanya, langkahnya tergesa mendekati meja bos cantik itu. “Bu, saya baru saja mendapatkan laporan, karyawan kita di pabrik ada yang mengalami kecelakaan kerja, penyebabnya saya belum tau, saat ini korban sudah dibawa kerumah sakit, pak Segar saat ini sedang menyelidiki apa penyebabnya,” lapor Cici dengan wajah yang tegang. 


“Astaghfirullah, mas ayo kita ke pabrik, Cici kamu ikut dengan kami.” 


Deg


Sitara langsung menyambar tas branded miliknya, Musa tampak sudah berdiri dan bersiap untuk segera pergi. Pria yang sekarang menjadi suami Sitara itu tidak kalah terkejutnya, ini menyangkut nyawa manusia, mana bisa dia menganggapnya biasa. 


“Sa-saya ikut ibu?”


.


.


Assalamualaikum pemirsa.


Maaf ya kemaren gak up, Author super rempong, jd gak sempet deh, tapi jadi semangat karna pada nungguin episode selanjutnya. Yuk dukung terus ya dengan Like+vote, hadiaah nya juga aku tunggu, tengkyuuhh pemirsa 💞