
Musa tampak mulai menggerakkan tangannya dan memanggil nama Sitara dengan susah payah, Sitara buru-buru mengakhiri doa panjangnya dan membereskan peralatan shalat yang dia kenakan. Wanita cantik yang sekarang sedang sedih itu pun melangkah cepat ke sisi brankar suaminya.
“Mas.. mas sudah sadar, Alhamdulillah,” lirih terdengar suara Sitara yang menahan haru dan bahagia melihat kondisi suaminya yang mulai sadar. Tombol yang digunakan untuk memanggil dokter dengan cepat di tekan oleh Sitara, dia ingin sekali mendengar kabar baik dari hasil pemeriksaan kali ini.
Tap! Tap! Tap!
langkah kaki Dokter dan suster menggema di ruangan tempat Musa terbaring lemah. “Tuan Musa sudah melewati masa kritisnya nyonya, saya berharap kondisinya stabil atau lebih baik dari ini agar perjalanan besok ke Johor Bahru bisa lancar dan tanpa kendala,” jelas Dokter senior itu dengan senyuman tulusnya.
“Alhamdulillah, terima kasih dokter, tolong berikan pengobatan terbaik yang anda bisa,” balas Sitara dengan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya, rasa haru dan bahagia terus merayapi hatinya.
Musa mencoba untuk tersenyum tapi sangat sulit dia rasakan karena rasa sakit yang mendera.
“Si-ta-ra, ka-mu ja-ngan se-dih,” terbata Musa menyampaikan kalimat pendek yang susah payah dia keluarkan. “Mas, sudah jangan banyak bicara, aku akan selalu bahagia selama bersamamu. Mas mau minum?” tawar Sitara dengan lembut dan mengalihkan topik pembicaraan.
Dengan pelan musa mengangguk dan berusaha menggerakkan tangannya. saat ini Musa masih belum bisa melihat bagaimana wajah dan tubuhnya, dia hanya bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa dari ujung kepala hingga kaki.
Luka bakar yang ada di sebagian besar kulit wajahnya membuat musa merasa kaku. dan dadanya terasa sangat sakit. Api yang sempat lama berada di tubuh Musa sempat melahap wajah dan sebagian tubuh Ustadz tampan itu.
“Ta-ra, m-mas ma-u sholat,” ucap Musa setelah minum dengan sedotan yang disurungkan oleh Sitara, matanya melihat jam besar yang menempel di dinding ruangan itu, dan menyadari dia belum melaksanakan sholat. “Ah iya mas, saat ini sudah masuk sholat Isya.
Sitra membantu Musa melakukan tayamum semampunya, dan Musa melaksanakan Sholat dengan gerakan isyarat mata.
Dirumah Satish
“Raju, kau harus bisa bantu mengatasi Dev, anak itu kini sudah tidak ada sopan santunnya lagi. Kau kan tau saat ini menantuku sedang terkena musibah,” pinta Satish pada adiknya. Pooja yang biasanya ceria kini tampak muram, Dev adalah putra dari anak tertuanya. Raj dan Satish tidak pernah akur sedari dulu, hanya Satish dan Raju lah yang selalu saling bantu.
“Ya Bhai (Abang), aku tidak menyangka sifat buruknya menurun dari Raj. aku akan mengatasinya kau jangan khawatir, fokuslah pada Musa, walau aku belum pernah bertemu dengannya tapi dari ceritamu dan mama, aku merelakan keponakanku yang keras kepala itu berada dalam pelukannya.” Pooja menatap kedua netra Raju, dia melihat kesungguhan yang ada pada pandangan putra bungsunya.
“Ya Dewa, aku punya anak tiga, laki-laki semua, tapi kenapa ada yang bersifat buruk, Satish, raju pesan mama, sekeras apapun kalian bertindak pada Raj, tolong jangan membencinya, karena walau bagaimanapun dia adalah saudara kandung kalian, kakak tertua kalian berdua,” pungkas Pooja kepada kedua putranya. Kakak beradik itu hanya mengangguk tanda setuju.
“Mama tidak usah khawatir, aku tidak mau mama sakit, tetaplah bahagia, kita akan obati Musa, kemanapun asalkan bisa membuat dia sembuh, aku melihat Sitara mulai mencintai suaminya, dan itu cukup membuat aku bahagia.” ucap Satis sendu.
Buliran bening membasahi pipi tuanya yang masih terawat. Dengan cepat tangan keriput itu menghapus jejak air matanya. senyum getir menghiasi bibir sang nyonya besar. Satish dan raju saling merangkulkan tangannya ke ibu yang sangat mereka cintai.
Di ruang kerja Dev.
“Papa, aku masih mencintai sepupuku itu, dan aku tidak rela melihat dia menangisi pria cacat itu. Papa harus melakukan sesuatu untuk ku pa!” terik Dev dengan mata yang merah menahan marah dan kesal.
“Ya tenangkan dulu dirimu, Tara orang yang keras, jangan mendekati dia dengan kekerasan dan kesombongan, kau akan dibuang olehnya. Berhentilah bersikap arogan jika kau menginginkan dia!” bentak Raj tak kalah kuat dari teriakan putra tersayangnya. Entah kenapa anak nya yang sudah di perbudak cinta ini tidak mau berpaling dengan wanita lain.
Dev yang kaya raya dan tampan yang diwarisi dari garis ayahnya, sangat mudah mencari wanita baik-baik dan setia, banyak wanita yang dengan senang hati menjadikan seorang raja di rumahnya. Tapi hal itu tidak pernah berhasil disarankan atau diusahakan Raj. Cinta Dev hanya untuk Sitara dan Cinta Sitara hanya untuk Musa suaminya. Kerumitan yang sempurna.
“Aku akan segera membuat Tara menjadi janda,” desis Dev dengan tatapan mata yang tak terbaca.
“Dev, jangan gila kau, papa tidak ingin suatu hari nanti kau akan menyesal. Apa yang kau pikirkan Dev? tanya Satish gusar. Kembali kenangan dimana putranya harus meringkuk di penjara karena ulahnya yang membahayakan Sitara. Raj mengira putranya akan merasa jera dan kembali hidup normal, tapi semua seakan hanya menjadi impian Raj semata. Otak dan hati Dev sudah dipenuhi oleh nama Sitara.
“Papa, penjara yang pengap sudah menjadikan ku pintar, jika aku pernah menginap disana beberapa tahun, maka suami Sitara harus merasakan dinginnya kuburan untuk selamanya hahahaha!” Dev mengatakan itu semua dengan pandangan dingin, Raj bergidik ngeri, ada apa dengan putranya, dia mengakui bahwa dirinya bukanlah ayah yang baik, tapi dia tidak menyangka jika Dev bisa lebih menyeramkan dari iblis.
“D-Dev, sadarlah nak, jangan bikin papa takut, papa tidak mau jauh lagi mu, kamu harus meneruskan perusahaan kita, hentikan obsesi gilamu, pilihlah wanita lain, banyak yang lebih dari Tara, bahkan mereka siap untuk setia menjadi istrimu.” Kalimat Raj sampai tergagap, sesaat suasana kantor yang tadinya terasa dingin karena mesin pendingin, kini terasa panas dan horor.
Dev memandang Raj dengan tatapan tajam yang langsung menghujam jantungnya. Pria paruh baya ini merasa tidak sedang menghadapi putranya, sesaat dia mengingat bagaimana dia memanjakan Dev, menuruti semua keinginannya sehingga membuat pria tampan itu menganggap semuanya mudah didapatkan. Kini Dev menjadi manusia setengah monster.
“Aku akan mendapatkannya, atau tidak sama sekali pa!”
❤️❤️❤️
Like + Vote ya pemirsa,jangan lupa mampir ke novel baru ku, GADIS PONI SCOOTER, tengkyuuu pemirsa ❤️🌹