Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 46: Parfum Malam Pertama


“Tegang no tegan Daadee. Sorry Daadee, aku belum membuatnya, mana aku tau berapa anak yang akan jadi.” 


Semua mata langsung menatap Sitara yang masih memasukkan hidangan penutup kedalam mulutnya, dan dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi.


“Maksudmu apa? kenapa kau lamban sekali?” Dadee yang serius menatap Sitara, tidak menyadari juga suasana di meja makan semakin tegang. Musa rasanya sudah tidak karuan. 


Nenek dan cucu ini entah keturunan dari apa, kenapa mereka begitu absurd. Tidak perduli dengan sekitar, seakan mereka hanya berdua. 


“Tara, serang dia malam ini, jangan jadi perempuan yang tak berguna, jika kau tidak bisa melakukannya, aku yang akan turun tangan. Jangan panggil namaku Pooja, jika dia tidak bisa bikin anak!” 


Daadee bicara berapi-api. Sitara mengerjapkan matanya. mulutnya seketika berhenti mengunyah. Tersadar dari kebodohan yang mereka berdua lakukan. Sitara menatap Musa dengan tatapan memelas. 


Musa menatap Horor kearah Sitara, Daadee merasa tidak enak sendiri, senyumnya terkembang sempurna. “Maaf Musa, besan, aku memang selalu tidak sabar. Aku tidak ingin cucu ku ini tidak melayani suaminya dengan baik, hehehe” 


Daadee ngeles kayak supir bajai, tapi itu tidak membuat pikiran yang lainnya setuju dengan apa yang barusan dia katakan.


Entah apa yang sekarang dirasakan oleh Sitara dan Musa, hanya mereka berdua yang tau. Sementara kedua orang tua Musa dan juga Satish mencoba untuk tersenyum, merespon alasan Daadee yang yang terlalu ngadi-ngadi.


Acara makan malam selesai. Semua orang memilih untuk kembali ke kamarnya masing-masing. karena terlalu lelah Ibrahim dan Fatimah setelah selesai melaksanakan Sholat, mereka langsung istirahat. 


Zahra masih belum bisa tidur, dia sempat memikirkan kejadian tadi. 


“Jadi kakak masih perjaka dan perawan? padahal kan sudah beberapa hari mereka menikah, hmmm apa begini ya prosesnya menikah tanpa cinta? ya ya Zahra, ini pengalaman berharga buat kamu, carilah lelaki yang mencintaimu, dan semoga hal seperti yang dialami oleh kakak tidak terulang lagi kepadaku. Apa jangan-jangan…?” 


Zahra berpikir yang macam-macam, dia kusut sendiri dengan pikirannya yang ngelantur kemana-mana. Bertanya dan menjawab sendiri, Zahra juga tidak lupa menasehati dirinya.


dikamar Pengantin.


Sitara sudah selesai mandi, dia menggunakan daster dengan potongan cantik dan hanya sampai selutut. Memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus, karena Sitara lumayan rajin perawatan. 


Sroot! 


Sroot! 


Sroot!


Parfum beraroma manis dia semprotkan ke seluruh tubuhnya, tidak lupa dia menyemprotkan ke leher dan ke dalam dasternya. Eheem semangat banget Sitara make parfumnya, curiga ni Author, hehehe.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Musa keluar dari kamar mandi, seperti sudah menjadi kebiasaan, Musa tidak merasa canggung keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di perutnya. 


“Mas bajunya sudah aku siapkan di tempat tidur.” Sitara memberi tahu Suaminya. Musa melihat ke arah ranjang yang sudah ada setelan piyama di sana. 


“Terimakasih sayang.”


Deg!


Gluk


Kembali Musa memanggil Sitara dengan kata SAYANG, dan ini membuat Jantung Sitara berdentum kuat, dia menelan salivanya kasar.


‘Wangi banget, tumben tara sewangi ini, gak kayak kemaren.’ Musa hanya membatin sambil mengenakan pakaian. dia mencoba terbiasa berganti pakaian di saat mereka berada disatu ruangan. 


“Tara, mau langsung tidur?” Musa yang sudah selesai berpakaian, meletakkan handuk di tempatnya. Dia melihat Sitara yang sudah selesai dengan ritualnya di depan cermin. Berusaha memecah kecanggungan yang dari tadi menguasai mereka.


“Eh.. hmm belum Mas. Mas ada perlu sama tara? Tara mulai gugup. Akankah malam ini dirinya harus membuka ladangnya. Pandangan Musa yang lembut mampu membuat Sitara kalang kabut.


Walau kadang dia sering melakukan hal konyol, tapi ingatlah sodaraaa, Sitara itu wanita yang sudah dewasa, sudah hampir kadaluarsa, jadi kode-kode ini sangat mudah dipecahkan oleh gadis yang sudah bergelar nyonya itu.


“Sini sayang.”


Puk..Puk..


Musa menepuk kasur yang sudah dia duduki duluan. Sitara yang seperti sapi dicucuk hidungnya, pelan tapi pasti, mengikuti perintah suaminya. 


Mereka duduk berdampingan.


Sreet“


Musa memiringkan badannya sehingga bisa melihat Sitara dengan pandangan yang lurus. Sementara Sitara, hohoho jangan ditanya, pendekar ini seakan kehilangan jurus-jurus mautnya, tubuhnya seakan menjadi jelly yang klenyer-klenyer tanpa tulang.


“Ehemm sedikit gugup Mas.” 


“Sitara Kumari, istri ku sayang, bolehkah Mas menyentuhmu?”


Seeerrr!


Darah Sitara semakin deras mengalir, mengisi semua jaringan di tubuhnya. Pikirannya sudah semakin kacau, satu hal yang dia ingat, Ustadz tampan dengan kelembutan kualitas super ini adalah suaminya.


Musa memang bukan pujangga, yang pandai merangakai kata. Dia juga bukan pria romantis yang puitis. Kalimat yang meluncur dari bibirnya tanpa polesan, cukup seadanya, tapi itu sudah mampu membuat jantung sitara jungkir balik.


Entah keberanian apa yang tiba-tiba menghampirinya, dia pun mengangguk. Yesss jadi nih kita malam pertama, Sabar Sitara- sabarr. Author ikut deg-degan jadinya. 


“Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna.” Artinya: “Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami,” (HR Bukhari).


Musa tidak lupa membaca doa dan diikuti oleh Sitara. Musa mencium kening Sitara dengan lembut. Tangan Sitara terasa dingin dan berkeringat. tubuhnya gemetar. Dia yang selama ini mengejar Musa bahkan sering menggoda Musa, kini kondisi berbalik. 


‘Ya Allah apa yang harus aku lakukan, aku.. aku.. Aahhhh, apa aku pura-pura pingsan ya, atau sebaiknya aku ajak dia bertarung dulu, seenaknya saja dia mendapatkanku dengan mudah. Ishh tapi dia kan suami ku, mana manis banget dia malam ini. Lagian kenapa juga tadi aku pake semprot-semprot parfum, di kira dia aku ngasi kode kali ya? Issshhh sekarang gimana dong?’  


Sitara sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Musa sibuk dengan kegiatannya menjelajah diap inci wajah Sitara, dia memulai semuanya dengan sangat sopan dan manis. 


Berkat kesabaran Musa, dan sopan santun yang sangat tinggi, pelan tapi pasti Sitara mulai menikmati permainan. Pikirannya mulai tenang. 


Tek


Lampu tidur dimatikan Musa dengan tangannya yang panjang dan masih bisa mematikan saklar lampu yang ada di sisi ranjang.


“Jangan gugup sayang, kita mulai pelan-pelan ya.” Musa berusaha membuat Sitara nyaman. Gayung bersambut, Sitara mengangguk patuh. 


Di balik pintu kamar pengantin, tampak ada seseorang yang sedang jalan mengendap-endap. Lampu-lampu penerang rumah yang besar sudah dimatikan, hanya beberapa lampu kecil saja yang masih hidup. Hal ini agar Rumah besar itu tidak gelap seperti rumah hantu. 


“Andai aku bisa mencapai balkon, akan lebih mudah melakukannya.” 


Orang itu menggerutu, karena merasa kesal, tidak sesuai harapannya.


Seseorang yang seluruh tubuhnya dibungkus selimut berhenti di depan pintu kamar pengantin. gerakannya mencurigakan. Dia tampak waspada, tidak ingin aksinya diketahui orang. 


Sesekali dia mengawasi situasi sekitar. dia sangat paham sekali jangkauan kamera CCTV, jadi dia berjalan di tempat yang tidak terjangkau Kamera-kamera tersebut. 


“Aku harus memastikan kali ini akan berhasil.” 


Orang itu bergumam, dia mengeluarkan sebuah alat berbentuk stetoskop dari dalam kantong bajunya. Apakah dia seorang dokter? tapi siapa yang memanggilnya ke kamar pengantin malam-malam begini?.


Stetoskop itu mulai dipasang ke telinganya. Sekali lagi matanya memperhatikan sekitar. Aneh sekali orang itu, dia meletakkan ujung stetoskop ke daun pintu. Entah apa tujuannya, dia sangat serius mendengarkan apa yang ingin dia dengar. dengan menggunakan stetoskop itu, dia bisa mendengar dengan jelas suara yang ada di balik pintu kamar tersebut.  


Persis seperti orang yang sedang memeriksa tubuh orang sakit. Dia memindahkan ujung stetoskop ke berbagai arah di daun pintu tersebut. 


Bugh 


Bugh


Gubraakkk!


“Aaawww, Isshh sakit telingaku. Heeyyy Apa yang kalian lakukan di dalam sana!!!”  


.


 


.


 


.


Ada apa ya di kamar pengantin? ini si dokter pintu ngapain jadi teriak? Gawaat ini sodaraaaa!


Like+vote ya pemirsa, Love You All.