
“Sitara!” Suara bariton yang lama tidak pernah Sitara dengar kenapa tiba-tiba ada disini? Sitara menoleh dengan jantung yang berdegup kencang, “Dev…” ucap Sitara dengan mata yang menatap tajam sosok tampan dengan lekuk tubuh yang sempurna, sungguh indah ciptaan Allah seakan tanpa cela di mata manusia.
“Dev, kalau ada urusan yang penting silahkan hubungi om, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk kita membahas urusan keluarga,” potong Satish dengan tatapan tak terbaca. Ayah mertua Musa itu tampak sekali tidak berkenan dengan kehadiran pria yang mereka panggil Dev.
Sitara yang segera sadar dari keterkejutannya, sangat bersyukur sang papa sangat pandai menyelamatkan dirinya dari pria yang ada di hadapan mereka semua saat ini.
‘Siapa pria ini? kenapa mereka sedang bersitegang? apakah ada urusan menantuku dengan pria sombong ini?’ gumam Ibrahim dalam hati, Kyai kharismatik yang banyak di cintai oleh umat itu memilih untuk tetap diam dan tenang. Jam terbang sang Kyai yang tidak usah diragukan lagi membuat dia tidak mudah untuk berpikiran negatif apalagi terhadap menantunya,
Tapi pertanyaan-pertanyaan tadi juga tidak akan mudah untuk dilupakan, Ibrahim akan menunggu Sitara menjelaskan apa hubungan pria tampan tapi sombong itu dengan dirinya.
“Upps, maaf tampaknya saya hadir disaat yang tidak tepat, Tara kamu terlihat cantik dengan hijabmu,” balas Dev, dia tidak menanggapi ucapan Satis, pria dengan perawakan tinggi besar dengan wajah tampan sempurna itu hanya menatap pamannya dengan sekilas, lalu kembali menatap Sitara. Ibrahim, Fatimah, Zahra dan Cici semua dianggapnya tidak ada. Sungguh pria yang tidak punya sopan santun.
“Pergilah Dev, urus saja urusanmu, aku tidak ada lagi urusan denganmu, dan jangan pernah mengusik kehidupanku,” geram Sitara sambil mengepalkan tangannya. Mata indah wanita cantik itu berkilat tajam menghujam kedua netra bermanik hitam kelam milik Dev.
“Urusan kita belum selesai om, dan kau Sitara jangan pernah melupakan aku, heeyy aku tidak akan mengganggu hidupmu cantik, tapi aku akan membuat hidupmu selalu bahagia dan akan menjadikanmu ratu, ayolah Sitara sayang, jangan kau sia-siakan tawaranku.” Kalimat Dev membuat Ibrahim dan Fatimah saling melempar pandang. Ibrahim menggeleng pelan, sebuah isyarat untuk fatimah bersabar dan menahan diri, agar situasi yang dihadapi besan dan menantunya tidak semakin keruh, Anggap saja mereka sedang menonton sebuah drama keluarga.
Lain dengan Sitara, kalimat Dev membuat wanita cantik itu hampir kehilangan kesabaran dan kendali diri. Tapi dia sadar, ini adalah rumah sakit, Sitara sangat mengenal siapa Dev. Dulu mereka adalah teman semasa kecil, oleh karena itulah ia tau dan sangat hafal bagaimana perilaku dan karakter Dev laki-laki keras kepala, tangguh yang tidak mudah dirobohkan.
“Ck, jangan membuat wajahmu itu cepat berkerut, Sitara cantik, tidak baik marah-marah, kau paling tidak suka kan membuang uang ke klinik kecantikan hanya untuk menghilangkan kerutan di wajahmu? tapi tenanglah uang ku sangat banyak untuk mengurus semua kebutuhan mu. Selesaikan saja dulu urusanmu, dan segeralah kembali padaku, bye cantik hahahaha!” tawa Dev membahana membuat siapapun bergidik ngeri mendengarnya.
“Nak Sitara abi harap kita fokus dengan kesehatan suamimu,” Ibrahim angkat bicara memecah keheningan yang ada, sementara Dev melenggang berlalu tanpa menghiraukan sedikitpun keberadaan Ibrahim dan yang lainnya.
Ibrahim yang sengaja menekankan kata ‘suamimu’ pada Sitara dengan tujuan ingin menyadarkan sang menantu dengan keadaannya saat ini. Hal itu mampu membuat Sitara tersadar, dia meraup wajahnya dengan kasar. Dengan mata yang masih menyalakan api kebencian menatap punggung lebar dan kekar milik Dev, Sitara berusaha untuk cepat menurunkan emosi.
Fatimah mengambil tangan Sitara, wanita yang lembut dan selalu berbaik sangka itu berusaha menenangkan menantu kesayangannya. Dia berusaha untuk mengerti dan memahami sikap Sitara saat ini. Menantunya itu, bisa saja menggila menghabisi laki-laki yang bernama Dev, jika saja keadaan saat ini sedang tidak berada di rumah sakit.
“Anakku sayang, sudah janan dihiraukan, walaupun umi tidak tau siapa dia, tapi umi juga sama sepertimu, tidak setuju dengan sikapnya, sekarang Tara harus fokus dengan kesembuhan suamimu.” tutur Fatimah lembut dan bijaksana. Sitara yang mendapatkan perlakuan sangat baik dari kedua mertuanya, membuat amarahnya mulai bisa terkendali, mata indah itu menatap sendu pada wanita yang lebih rendah dari tubuhnya itu.
Satish merangkul pundak Pooja, tampak wanita tua yang selalu dicintainya itu terisak, dadanya terasa sesak, sungguh ini diluar dari dugaannya, kehadiran Dev yang tiba-tiba meninggalkan tanya di benak Satish.
“Tenang ma, kita akan urus dia secepatnya, tapi kenapa bocah tengil itu berkeliaran di rumah sakit. Siapa yang sakit? tapi dia seperti tidak sedang datang untuk menjenguk pasien, berkeliaran di rumah sakit yang seperti rumahnya sendiri saja. Isshh anak itu! apakah mama mengetahui sesuatu?” tanya Satish kepada puja setelah menggerutu panjang. Sesaat ibu dan anak itu saling bersitatap, Pooja tampak berpikir keras, tapi masih belum menemukan jawaban.
*****
Semua orang kini sedang sibuk dengan urusan persiapan untuk berangkat ke Johor demi pengobatan Musa. Satish meninggalkan Sitara yang memutuskan untuk menunggu suaminya di rumah sakit. Pria paruh baya itu bertugas mengemas keperluan anak dan menantunya. Urusan perusahaan diserahkan Satish pada Raju adik laki-laki satu-satunya, Raju selama ini hanya membantu saja di perusahaan Satish. Pria yang masih tampan di usianya yang sudah kepala empat itu tidak pernah merasa keberatan jika dibutuhkan Satish untuk mengurus perusahaannya.
Waktu berlalu, Sitara mendapatkan izin untuk menunggu pasien di ruang ICU. Sesaat dia membersihkan diri agar lebih segar, karena seharian tadi sudah sangat kusut dan kacau keadaanya. Air yang membasahi sekujur tubuhnya mampu membuat otot-otonya terasa longgar, kepala yang penat, kini sudah sedikit relax. Seperti memiliki tenaga yang baru Sitara mempercepat ritual mandinya. Dia tidak ingin meninggalkan musa terlalu lama sendirian.
Terdengar adzan berkumandang dari masjid rumah sakit, mengalun merdu menentramkan hati, Sitara yang sudah berwudhu dengan segera memasang mukena berwarna hitam. Bibir indah wanita cantik itu terus menjawab panggilan Illahi Robbi untuk mengajak hambanya bersujud dan bersimpuh. Mata dengan bulu mata lentik sempurna itu terpejam, bait demi bait membuat hatinya menghangat, keyakinannya akan kekuasaan Allah semakin menguat, hingga lantunan adzan pun berakhir dan di sambut dengan doa oleh Sitara.
Disetiap waktu shalat, wanita cantik yang berhijab itu selalu memanjatkan permohonannya kepada sang khaliq.
begitu juga di akhir Sholat Isya nya, Sitara meneteskan air mata berharap akan sebuah keajaiban untuk kesembuhan suaminya. wanita itu larut dalam doa-doa panjangnya dan terisak kecil karena tak sanggup lagi menahan rasa sesak di dada.
“Si-Sita-ra …”
❤️❤️❤️
Like+vote ya pemirsa, jangan lupa mampir juga ke novel ku yang baru ya
GADIS PONI SCOOTER, tengkyuu pemirsa 🌹