Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 34: Seperti Maling


Musa yang menutup kembali pintu mobil setelah Sitara keluar.


Blaam


Tidak lupa dia menuju bagasi untuk mengambil Travel bag yang dia persiapkan untuk menginap di hotel. “Huff mimpi apa aku, tiba-tiba jadi pengantin, Sungguh Allah maha menentukan takdir hambanya.” Musa bergumam dan ternyata masih di dengar samar oleh Sitara yang masih menunggu suaminya. 


Satish sudah masuk kedalam rumah terlebih dahulu. “Mas barusan tadi ngomong apa?” Sitara merasa penasaran, tiba-tiba hatinya merasa, Musa terpaksa menikahinya, atau mungkin Musa merasa dijebak oleh nya. ‘haahh apakah aku gadis yang sangat buruk.’ 


“Ehh.. nanti saja Mas kasih tau, ayo masuk, kasihan Papa menunggu kita.” Musa tersenyum manis sambil berjalan berdampingan dengan Sitara. Pintu masih terbuka, Satish yang sudah terlihat lelah duduk di sofa ruang keluarga.


Sebelum tidur dia ingin berbincang sebentar dengan putri dan menantunya. Musa yang merasa tidak enak untuk melangkah, akhirnya berhenti di ruang keluarga. “Kesinilah nak, Papa ingin ngobrol sebentar.” mereka berdua mengangguk dan duduk berdampingan.


Sesaat Satish menatap pasangan pengantin baru itu. Dengan senyum yang bahagia, dia menarik nafasnya perlahan. 


“Musa, Papa minta maaf kepadamu, apakah kamu terpaksa menikahi Sitara?” Satish tiba-tiba berwajah mendung. Hal itu membuat Musa merasa terharu. 


“Papa tidak ada alasanku untuk merasa keberatan dan Papa tidak perlu meminta maaf. Bukankah dulu aku menyanggupi untuk menikahi Sitara, dan Musa sangat yakin inilah ketentuan Allah. Jodoh, rejeki, langkah dan maut, itu semua mutlak keputusan Allah, kita sebagai hamba yang tidak memiliki kekuatan apapun tidak boleh menentangnya.” 


Satish menatap Musa dalam, dia berusaha mencari kebohongan di netra yang memancarkan ketenangan itu. Tapi sayang sekali, Satish tidak menemukan kebohongan disana, melainkan kejujuran dan ketulusan. 


“Terimakasih nak, Papa tidak bisa lagi mengucapkan apapun, kau sangat sabar menghadapi pernikahan mendadak tadi, dan itu membuat Papa bener-bener salut kepadamu.”


“Pa, kenapa memuji dia terus, lama-lama bisa besar hidungnya.” Sitara yang mendengar pujian dari ayahnya, merasa kesal, seakan dia di pojokkan. 


“Tara, berhentilah berkelakuan seperti anak kecil, Sekarang kamu harus menghormati dan menghargai suami mu, bersikaplah dewasa, dampingi dia dalam suka dan duka. Papa selalu bangga padamu, dan kamu akan tetap menjadi putri kesayangan Papa.” Satish yang memahami sifat putrinya berusaha memberikan pengertian. 


“Siaaapp graakk!” Sitara mengangkat tangannya ke dahi seperti orang yang melakukan upacara bendera. sontak saja Musa dan Satish tertawa geli melihat sisi lain dari Sitara.


Selesai berbincang-bincang, Satish mempersilahkan pasangan pengantin baru itu untuk beristirahat. Dia pun menuju kamarnya. Kamar di lantai satu. Sitara dan Musa menaiki tangga karena kamar Sitara berada di lantai dua. 


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. musa mengedarkan pandangannya, terasa canggung dia melangkah memasuki kamar seorang gadis yang sekarang berstatus istrinya. “Mas ayo masuk, ini kamar ku, dan mulai sekarang akan menjadi kamar kita.” 


Sitara pun merasa canggung. dia yang selama ini bersikap cuek dan barbar, detik ini merasakan perasaan yang entah. Musa melangkah masuk kedalam kamar. Sungguh dia bingung akan memulai apa sekarang. 


Sitara yang memahami hal itu, walau gugup tapi dia sangat pintar menutupi kegugupannya. “Mas mau mandi?” Sitara memecah kecanggungan diantara mereka berdua. 


“I-iya Tara, rasanya memang sudah lengket.” Musa memasang senyum manis nya. Bergegas dia mengambil pakaian di kopernya dan langsung ke kamar mandi. disaat Musa akan membuka pintu, Sitara menyerahkan handuk kepada Musa.


“Pakai ini Mas.” 


Musa mengangguk dan mengambil handuk berwarna biru muda dari tangan Sitara. Sitara bergegas melepas kerudung dan semua perhiasan yang melekat di kepala, hidung, telinga, leher dan tangannya. semua ini peninggalan Gauri, Mamanya.


“Ma, hari ini aku sudah menunaikan keinginan Mama, aku sudah memakai pakaian dan perhiasan sewaktu Mama menikah. Tara kangen Mama, ingin Mama hadir disaat Tara menikah.” 


Tidak terasa cairan bening menganak sungai di pipi mulusnya. Dia memandangi foto mamanya yang terbingkai indah di atas nakas. Foto Gauri bersama Satish dengan balutan Saree berwarna merah menyala.


Gauri tampak cantik mempesona, anggun dan sangat serasi berdiri di samping Satish yang terlihat gagah dengan setelan Kurta (Saree pakaian khas wanita india dan Kurta pakaian laki-laki india).


“Ma, gimana kabar mama disana? Tara bahagia ma, nanti akan Tara kenalkan suami kilat Tara ya. Orangnya baik, walau agak nyebelin, tapi Tara yakin kalau mama ketemu dia, mama akan suka pake banget.”


Curhatan Sitara akhirnya selesai juga, tanpa dia sadari Musa sudah ada di belakangnya, dan Sitara tidak menyadarinya. saat dia membalikkan badan setelah meletakkan foto mama dan papanya, jantung nya hampir saja melompat keluar karena terkejut.


“Aaaaaaaaaahh hheeemmpp!” Sitara teriak kaget dan buru-buru Musa menutup mulut Sitara dengan telapak tangannya yang besar, hingga membuat Sitara berhenti dari teriakannya yang hampir saja mencapai 9 oktaf. “Tara.. Tara kira-kira dong kalo teriak, bangun ntar semua orang di rumahmu.” Musa berbisik di telinga Sitara. 


Sitara yang terbiasa menggoda Musa dengan cuek, kini diam mematung, tubuhnya mengejang, jantungnya berdetak tak karuan. Musa yang berbisik di telinganya hanya berjarak beberapa centi, sehingga hembusan nafas dan aroma mint yang segar menguar dari mulut Musa.


Aroma tubuh yang segar dihirup rakus oleh Sitara. hal ini membuat dia gagal fokus. “Ehem.. Jangan terpesona seperti itu, nanti kamu bisa jatuh cinta padaku.” Musa kembali menggoda Sitara dengan kenarsisannya. 


“Ehh, apa? siapa yang terpesona, aku hanya kaget aja, awas minggir, aku mau mandi.” Sitara menundukkan wajahnya yang sudah panas. dia yakin kini warna mukanya seperti lampu merah di traffic light. 


Dengan sedikit mendorong tubuh Musa kesamping, dia pun berlalu dengan langkah yang lebar. ‘Tenanglah wahai jantung, jangan mengulah seperti ini, nanti tidak baik jadinya.’ Sitara sedang berdialog dengan dirinya sendiri sambil memegang dadanya. 


Begitu sampai di kamar mandi, Sitara langsung menutup dan mengunci pintu, seakan sedang bersembunyi. sesaat dia mengatur nafasnya yang memburu.


Hosh


Hosh


Hosh


“Ya Allah, kenapa ini? tadinya gue pikir dia gak akan senekat itu mendekat, laah ini kok berani bener dia deketin. Musa gak bisa dipandang remeh, masak ustadz playboy sih? Isshh Astaghfirullah, nggak.. ngak.. dia suami gue yang soleh!” sitara memukul kepalanya, dan langsung melaksanakan ritual mandinya.


Saat ini pikirannya kacau, selesai mandi dia menggunakan piyama tidurnya dengan motif berkarakter kelinci. Tampak imut sekali, rambut yang diikat gulung membuat wajah cantiknya terekspos sempurna. 


Pintu kamar mandi terbuka pelan, kepala Sitara keluar sedikit mengintip keadaan di kamar, entah apalagi ulah yang akan dilakukannya.


Dia melihat musa tidak ada dikamar, sejenak dia berpikir, kemana dia?. dengan langkah hati-hati dan sedikit berjingkat mengendap-endap seperti maling yang memasuki rumah sasarannya.


Ceklek! 


Pintu kamar terbuka, tampak Musa membawa nampan berisi susu dan air putih di dua gelas yang berbeda. Sitara terkejut dan buru-buru menutup mulutnya agar tidak berteriak. Berdiri mematung, matanya menatap nanar ke arah Musa. Musa yang bingung melihat perilaku konyol istrinya, hanya menggelengkan kepala.


“Tara, kamu kenapa? kok kayak orang ketahuan abis maling?”


Deg!


Musa menutup dan mengunci pintu. melangkah ke arah nakas dan meletakkan nampan berisi dua gelas itu. 


“Mati gue!”


.


.


.


Assalamualaikum pemirsa.


Mohon dukungannya terus ya karya receh ku, Like, Komen dan vote ya. Jangan lupa ajakin semua temen-temen, sodara, tetangga baca karyaku. Love You All💞