
Satish ambruk, diwaktu yang bersamaan pintu kamar Sitara terbuka, sepasang pengantin ini pun keluar dari kamar mereka, dan…
“Heyy siapa kamu!”
Blaakk
Orang misterius itu membuka selimut yang sedari tadi menutup seluruh tubuhnya.
“MAMA!!!”
“DAADEE!!!”
Satish, Sitara dan Musa mereka serentak menyebutkan panggilannya. Mereka bertiga sampai lupa menutup mulutnya. Sesaat mereka semua terdiam. Satish yang masih terduduk di lantai, masih belum bisa percaya dengan apa yang dia lihat.
“Mama, What are you doing?!” Satish berdiri dengan wajah geram melihat ulah mamanya.
“Isshh sudah jangan ikut campur urusan ku. Kau ini payah, aku hanya menendangmu, kenapa kau sudah tumbang. Dasar bikin malu saja." Pooja mendapatkan alasan untuk pergi meninggalkan jejak. Sitara yang melihat papanya ingin berdiri, buru-buru dia membantu, Musa pun bergegas membantu.
“Daadee, jangan buru-buru pergi, kenapa kalian berdua ada disini?”
Deg
jantung Pooja seakan berhenti, Apa yang harus dia katakan, jika dia berbohong, Satish yang menangkap basah dirinya pasti tidak akan menerima kebohongannya.
"Aku hanya memeriksa keadaanmu, aku tidak mau kau menjadi wanita tak berguna. Sia-sia usaha ku jika sampai itu gagal." Pooja akhirnya mengakui, tapi tetap merasa tidak berdosa. Wajahnya tetap biasa dan ini sungguh membuat Sitara malu kepada Musa.
"Daadee, apa yang sudah Daadee lakukan?" Sitara menatap menyelidik. Dia menoleh ke arah Musa. Musa menaikkan kedua bahunya tanda tak mengetahui apapun. Sitara menoleh ke arah Satish, papanya juga melakukan hal yang sama seperti Musa. Kembali Sitara menatap Daadeenya dengan tatapan singa lapar. Pelan dia berjalan mendekati Pooja.
"Ok ok aku mengaku, isshh aku tidak suka dengan tatapanmu, dasar cucu durhaka. Aku membantu suami mu agar segera membuatkan kau hamil. Puass!!" Pooja berbalik badan dan meninggalkan mereka semua yang bengong melihat betapa absurdnya nenek lincah yang satu ini.
Satish merasa sangat malu. Dia sekilas menatap kearah menantunya. “Mari kita istirahat, selamat malam semuanya.” Satish mempercepat langkahnya, dia ingin sekali segera mencapai kamarnya, sampai dia lupa tujuan awalnya untuk mengambil air.
“Mama, aku malu sekali dengan ulahmu. untung keluarga Musa tidak ada yang terjaga. Hufff kenapa mama selalu tidak berubah!” Satis segera masuk kedalam kamarnya.
Ceklek
Satish berusaha menenangkan dirinya, pelan dia merebahkan diri di kamarnya yang empuk. “Gauri, kau tau gimana malunya aku sekarang? entah bagaimana besok aku menghadapi menantu kita. Ahh aku harap kau disana mendoakan ku Gauri.” Satish berbicara kepada foto yang ada di nakas. Foto istrinya tercinta yang sudah berada di alam sana.
Kamar pengantin.
Musa dan Sitara yang sudah kembali ke dalam kamar, sesaat merasakan kecanggungan diantara mereka. “Mas, tolong maafkan Daadee.” itulah kalimat yang mampu diucapkan Sitara. malam ini yang seharusnya menjadi malam paling indah untuk mereka tapi rusak karena tadi Musa yang harus mendarat ke lantai akibat tendangan dan pukulan Sitara.
Sementara Satish juga mengalami hal yang sama, kena tendangan Daadee. “Ehem iya gak papa, ini akan menjadi kenangan indah untuk pernikahan kita. Mari kita ambil hikmahnya.” Musa membimbing Sitara ke tepi ranjang.
“Mas maaf, aku boleh tanya?”
“Hemm, tanya saja”
“Apa Mas merasakan sesuatu yang lain pada tubuh Mas?”
“Hmmm ya, terasa panas dan aku-aku bergairah Tara.”
“Ya aku rasa tadi juga begitu aneh. Tara jika kamu belum siap, aku tidak masalah. ayo kita istirahat.”
Musa tidak ingin melakukan kesalahan lagi dan tidak ingin membuat dirinya malu, jika nanti ditolak oleh istrinya.
“Mas, aku bersedia.” Sitara mengatakannya dengan memejamkan kedua matanya. Musa merasa senang, ingin rasanya dia berjingkrak-jingkrak. Pinggang yang terasa sakit akibat mendarat paksa di lantai, sudah tidak diperdulikan lagi.
Malam yang semakin larut, mengiringi malam panjang pasangan pengantin baru. Mereka yang sudah saling menginginkan itu saling merasakan indahnya surga dunia. Tidak ada lagi jarak, semua telah dipersembahkan dalam hubungan halal. Menit demi menit berlalu, malam panjang mereka lalui dengan keikhlasan yang bermuara pada kenikmatan. Malam pengantin telah mereka lewati dengan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
*****
Di Tempat lain Ayu dan Harun tampak sedang berselisih paham. Ayu yang tadinya merasa harun sudah memahami tentang anak, sekarang kembali memberikan penekanan kepadanya.
“Ayu, aku ingin segera punya anak, aku harap kamu mau untuk kita program ya.” Harun yang sedari tadi hanya melepaskan pandangannya ke langit hitam, bicara tanpa menoleh ke arah Ayu.
Mereka berdua sedang menikmati malam di balkon kamar Harun. Ayu yang baru beberapa hari ini merasakan bahagianya menjadi pengantin baru, mulai merasa tidak nyaman dengan sikap harun yang selalu berubah-ubah, kadang lembut, pengertian, kadang kasar dan terus saja membahas tentang anak.
“Mas, apakah tujuanmu menikah hanya untuk mendapatkan anak?” Ayu bertanya dengan suara yang mulai serak. Harun menoleh ke wajah Ayu yang terlihat cantik malam ini.
“Apa lagi yang kita cari selain anak, apakah kamu memiliki rencana lain menikah dengan ku?”
Nyeessss
Hati Ayu merasa tergores. Harun yang berbicara dengan nada dingin membuat Ayu berfikiran negatif. Baru saja mereka menunaikan kewajiban suami istri, dan selalu seperti ini. Harun langsung melukai hati Ayu tapi tak berdarah.
“Mas kita belum ada seminggu menikah, kalau mas selalu seperti ini, dimana kebahagiaan kita mas? kemaren mas bisa menerima penjelasan Dr. Siska. sekarang mas seperti ini lagi. Boro-boro pergi bulan madu, aku di bahagiakan, ini malah setiap habis berhubungan mas selalu bertingkah aneh.” Ayu sudah tidak mampu lagi menahan sesak di dalam dadanya.
“Aku mau tidur mas.” Dengan langkah kesal Ayu meninggalkan Harun seorang diri di balkon. Biasanya Ayu selalu menangis, tapi malam ini tidak akan dia lakukan. pernikahan yang belum ada sebulan ini sudah seperti neraka baginya.
Sifat Harun yang terlalu cepat berubah membuat Ayu merasa kesulitan memahami Harun. “Aneh saja, pernikahan belum ada sebulan sudah langsung di suruh hamil aku. dia kira kayak buka rekening apa ya? dateng ke Bank, kasih uang, disimpan tu uang. Lah ini kan kita bicara ketentuan Allah. Ishh apa sih yang ada dipikirannya itu.”
Ayu hanya bisa ngomel dan membaringkan tubuhnya dengan kasar lalu menarik selimut hingga menenggelamkan seluruh badannya ke dalam selimut. dia lelah, baru saja tenaganya diperas, sekarang pikiran dan perasaannya pun disiksa.
Ceklek!
Harun menyusul Ayu masuk ke kamar. Dilihatnya ayu sudah tidur, dia pun ikut membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di sebelah Ayu.
“Ayu, segeralah hamil, aku tidak akan bisa menerima kenyataan jika kau tidak bisa punya anak. Terserah kau mengatakan aku gila atau apa, tapi aku hanya ingin kau segera hamil. aku tau saat kita menikah, kau baru selesai haid, dan itu berarti sekarang adalah masa subur mu. Jangan kecewakan aku Ayu.” Harun mengusap rambut ayu dengan lembut dan mengatakan hal yang bagi ayu itu aneh.
Sebenarnya Ayu belum tidur, dia masih bisa mendengarkan semua yang diucapkan Harun. Dadanya terasa sesak, ingin rasanya dia memaki pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Tapi dia tidak ingin ceroboh, sementara ini masalah rumah tangganya akan diselesaikan sendiri.
“Aku tau kau belum tidur Ayu.”
.
.
Assalamualaikum pemirsaa.. yuuk lanjutt yuuk jangan lupa like dan vote ya. Itu akan membantu kemajuan novel ku. jangan lupa mampir ke novelku yang baru. Digantung Mr. Coal. ☺️😘