
Sitara dengan sabar mendampingi Musa dalam perjalanan ke Johor Bahru, wanita cantik itu sudah tampak lebih baik hari ini. Dia bertekad untuk tidak larut dalam kesedihan. Musa yang sudah sadar, senang melihat apa yang dilakukan istrinya. Rasa haru menguasai relung hatinya. Pria tampan yang tampak menyedihkan itu berusaha untuk tidak mengeluhkan rasa sakit yang mendera saat pengaruh obat penghilang rasa sakit itu hilang.
“Mas, mau minum?” tanya Sitara lembut.
“Iya Ta-ra,” Jawab Musa dengan senyum dan kalimat yang masih terbata. dengan segera Sitara memberikan air mineral kepada suaminya. Mobil ambulance yang mereka tumpangi mulai memasuki halaman rumah sakit. bangunan megah dengan dengan kesibukan orang yang wara wiri untuk kepentingan kesembuhan mereka atau sekedar berurusan disana.
“Mas Alhamdulillah kita sudah sampai di rumah sakit, aku harap mas kuat dan sabar ya selama menjalani pengobatan disini,” tutur Sitara lembut. Musa menyentuh tangan sitara yang tidak jauh dari jangkauannya. “Aku akan segera sembuh Tara, kamu jangan sedih ya,” jawab Musa dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mas aku gak akan sedih lagi, kita akan obati luka mas dengan pengobatan terbaik ya.” sahut Sitara menyemangati. Dengan Cepat Satish mengurus semua administras. Ibrahim ingin membayar tagihan yang tertera, tapi ditolak oleh Satish dengan halus,
“Kyai, tolong biarkan saya yang membayarnya, Musa adalah anak saya juga, dia tanggung jawab saya Kyai, mohon Kyai jangan tersinggung ya,” tolak Satish santun dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Semua proses administrasi telah selesai dilakukan Satish, mereka diantar oleh dua orang perawat yang mendorong hospital bed Musa menuju ruangan Dokter Veer. Dengan ramah dokter muda dengan gelar yang menghiasi namanya di depan dan belakang.
“Saya Sitara dokter, istri dari pasien.” Sitara memperkenalkan dirinya dn menangkupkan tangannya di dada. Sementara Veer yang sudah mengulurkan tangan, langsung menarik kembali dan mengikuti apa yang dilakukan oleh wanita cantik itu.
“Ya, saya Veer, senang bertemu dengan anda. Saya akan baca dulu riwayat kesehatan tuan Musa, dan nanti kita akan lakukan lagi pemeriksaan ulang.” Veer mengenalkan dirinya dan langsung menjelaskan langkah apa yang akan dia lakukan pada pasiennya.
Dengan cermat dia membaca semua laporan yang diserahkan oleh perawat. Sitara yang ditemani oleh Ibrahim dan Satish menunggu penjelasan dokter muda dan tampan itu. “Oke, saya sudah baca semua, ini ada organ dalam yang rusak, awak nak cube periksa terlebih dahulu, lepas tu awak bise kasih terang hasil pemeriksaan kepada tuan-tuan dan puan Sitara,” jelas Veer. pria itu mengarahkan perawatnya untuk memberitahukan ruang tunggu keluarga pasien.
Brankar Musa didorong oleh dua orang perawat laki-laki yang berbadan atletis menuju ruang pemeriksaan. sekilas Sitara bisa melihat peralatan medis berupa kapsul besar dan beberapa alat lainnya yang super canggih. Pintu besar itu terbuka lebar, sehingga wanita cantik itu bisa melihat apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.
Satu jam …
Dua jam …
Empat jam …
setelah menunggu cukup lama, dan membuat Sitara semakin gelisah, pikirannya melayang kemana-mana. Ibrahim tidak pernah melepaskan dzikir dari bibirnya dan doa untuk keselamatan putranya, kegelisah tidak begitu nampak di wajah kyai kharismatik itu. Sesekali Sitara melirik mertuanya yang masih terus diam dan tenang. Satish yang gelisah juga berusaha tenang, doa-doa terus dia ucapkan di hatinya.
Satish merasa hancur melihat putrinya yang baru saja merasakan indahnya pernikahan, kini melihat Musa terbaring tak berdaya karena peristiwa di pabriknya, ini sangat membuat hatinya tidak menentu.
Raju melangkah ke kantor Satish. Hari ini dia akan menyelesaikan masalah kebakaran pabrik kemarin. “Mega tolong panggil Cici menemui saya,” panggil Raju melalui interkom. “Baik pak,” jawab Mega. Telepon di meja kerja Cici berdering. dengan sigap dia menuju lift untuk menuju lantai tujuh untuk menghadap adik dari big boss nya.
“Selamat Siang pak, bapak memanggil saya?”
“Ya, Cici saya ingin membuatkan laporan mengenai kebakaran kemaren, dan saya minta kamu yang membantu saya untuk penyelidikan internal kita. Saya percaya kamu,”ujar Raju. Hal ini membuat Cici terkejut, dia tidak punya pengalaman apapun tentang menyelidiki kasus, bagaimana bisa dia menjalankan misi ini.
“Maaf pak, saya tidak memiliki pengalaman apapun di bidang penyelidikan, bagaimana bisa saya bisa melakukannya?” tanya gadis itu ragu-ragu.
“Saya akan mempekerjakan seorang agen mata-mata yang akan membantu kamu, bekerjasamalah dengannya.” jelas Raju. “Tunggulah, sebentar lagi dia akan sampai ke ruangan ini, Silahkan duduk di sofa” lanjut Raju. “Baik pak,” jawab Cici singkat dan menuruti perintah bosnya.
Tidak lama kemudian, seorang pria tampan dengan aura yang menawan tampak memasuki ruangan diantar oleh Mega Sekretaris CEO.
“Pagi paman, ahh akhirnya kita berjumpa lagi, paman apa kabar?” pemuda tampan itu dengan ramah menyapa Raju dan langsung menghampiri meja kerja pria paruh baya itu.
“Arya, kau makin tampan saja, makin mapan pula hahaha, apa kabar papa dan mama mu?” kedua pria berbeda generasi itu pun saling berpelukan dan saling tersenyum bahagia. “Mereka berdua selalu happy paman, makin tua makin jarang dirumah hahaha,” balas Arya. Beberapa menit mereka habiskan untuk membahas perihal keluarga, dan tanpa mereka berdua sadari seorang gadis dengan paras cantik memperhatikan mereka.
“Ohh God, aku melupakan sesuatu! kau ini bikin lupa dengan pembicaraan yang harusnya sudah kita mulai. Ayo boy, kenalkan ini Cici, dia karyawan di perusahaan, dan dia yang bersama Sitara juga suaminya menuju ke pabrik. Gadis inilah yang tau bagaimana peristiwa disana sampai Musa di larikan kerumah sakit. Paman rasa kalian bisa bekerjasama dalam memecahkan kasus ini. Satu hal yang harus kau tau mesin yang ada di titik api itu mesin baru dan masih ada garansi, pemasangan juga diawasi oleh tenaga ahli, jadi kalau sampai terjadi kebakaran di sana paman rasa itu memang dibuat terbakar, bukan kebakaran.” Panjang lebar Raju menjelaskan keberadaan Cici.
Arya dan Raju mendatangi Cici dan ikut duduk di sofa. Arya memberikan tangannya tapi Cici membalasnya dengan menangkupkan tangan didepan dada disertai senyum manis yang membuat mata arya hanya fokus pada tatapan sejuk dari Cici. lama tangannya mengambang di udara, hingga tepukan halus Raju di pundak pemuda itu membuatnya tersadar.
“Ahh maaf nona, saya terpesona dengan kecantikan anda, sampai lupa menarik tangan saya, kenalkan saya Arya,” Arya yang salah tingkah memilih untuk jujur kepada Cici. Hal itu mampu membuat wajah Cici merona.
“Ya tuan Arya, saya Cici, karyawan bagian administrasi produksi, senang bertemu dengan anda,” balas Cici sungkan.
“well, aku rasa sudah cukup ramah tamahnya paman, aku menerima Cici menjadi partner dalam hidupku,”
❤️❤️❤️
Like, Vote, komen ya pemirsa. Yuk mampir juga ke novel ku, GADIS PONI SCOOTER ya. tengkyuuuhh pemirsa🌹