Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 60: Keputusan Face Off


Sitara merasakan perasaan yang tidak menentu, ketakutan yang merayapi hati, saat sang suami ingin melihat wajahnya. “Mas, kamu siap?” Sitara bertanya dengan wajah ragu. “Aku siap dek, inilah takdir Allah, jika aku ikhlas maka Allah akan semakin menyayangi kita, kamu yang tenang ya,” pinta Musa kepada istrinya.


“Mas kok malah kebalik ya, kamu yang bikin aku tenang hehehe,” Sitara menggaruk kepalanya yang tertutup hijab namun tidak gatal sedikitpun. Veer tersenyum melihat pasiennya yang sangat sabar dengan keadaannya. “Suster, tolong ambilkan cermin,” pintanya kepada perawat yang mendampingi kunjungannya kali ini.


“Baik dokter,” jawab perawat itu berlalu. Tidak butuh waktu yang lama, perawat itu kembali dengan sebuah cermin berukuran sedang, Veer mengarahkan perawat untuk memegang cermin di depan dadanya sehingga menghadap ke arah Musa. 


“Tuan Musa tolong tutup mata anda, sampai saya minta untuk membukanya ya. kami akan melepaskan perban ini,” pinta Veer lembut. Dokter tampan itu hanya mendapatkan jawaban berupa anggukan kecil dari Musa. 


Dengan sigap tangan kekarnya membuka perban dengan pelan. Sitara merasa tubuhnya gemetar. Seperti apakah wajah suaminya sekarang. sudah hampir dua bulan dia tidak melihat wajah suaminya sama sekali, hingga dia merasa akrab dengan wajah berbalut perban itu. 


Suasana tegang tampak menyelimuti tiap wajah yang ada di dalam ruangan mewah yang ditempati oleh Musa. Masing-masing hati berdoa untuk pasien, agar tidak shock saat melihat kondisi wajahnya. Tidak ada satupun dari mereka mengeluarkan suara, bahkan bernafas pun sangat hati-hati.


Musa berusaha untuk tenang, dzikir tidak pernah lepas dari lisannya. Lapisan perban terakhir akan dilepas, tidak ingin membuang waktu pasiennya terlalu lama, Dokter muda itu pun meminta Musa untuk membuka matanya. Sitara yang sedari tadi juga menutup mata, walau tidak diminta oleh dokter. Mereka berdua sama-sama membuka mata. 


“Astaghfirullah!” Pekik Sitara dengan reflek menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. 


“Alhamdulillah, Maasya Allah,” Ucap Musa dengan tenang dan berusaha untuk tersenyum, walau sulit karena kulit nya yang terasa kaku. 


“Tara, ayo lihat ke cermin,” Ajak Musa kepada istrinya, dengan suara Musa yang terdengar tenang membuat Sitara berusaha menenangkan hatinya yang kini remuk. Dengan pelan wanita cantik itu menurunkan tangannya.


“Ma-mas, maafkan aku,” ucapnya lirih, perasaannya tidak karuan melihat keadaan suaminya. “Heyy jangan menangis sayang, kita harus banyak bersyukur, dengan peristiwa ini Allah inginkan kita untuk merasakan nikmat Allah, dan ini Allah masih memberikan kesempatan untuk kita menjadi manusia yang lebih baik lagi kedepannya, Bujuk Musa kepada Istrinya. Pria yang kini diambil ketampanannya oleh Allah itu berusaha membuat istrinya untuk bisa satu pemikiran dengannya, agar dia bisa lebih kuat lagi menghadapi hari esok.


“Terimakasih dokter, oya maaf bolehkan tolong fotokan wajah saya? sebagai kenang-kenangan buat anak cucu saya kelak,” pinta Musa sendu. Dokter Veer hanya mengangguk dan tersenyum, menuruti permintaan Musa. Sitara memberikan ponselnya. Wanita itu pun tidak ingin kehilangan momen itu, dengan cepat dia mendekatkan dirinya dengan suami tercinta. 


Cekrek!


Cekrek! 


Cekrek!


Sitara ingin memberikan dukungan kepada suaminya dengan memberikan senyum terbaiknya. Dokter tampan itu pun bahagia melihat mental pasiennya yang sangat kuat. Baru kali ini dia mendapati pasien yang sangat siap mendapati wajah yang bisa dibilang tujuh puluh lima persen rusak akibat luka bakar. 


Selesai pemeriksaan, Musa meminta jika bisa wajahnya tidak lagi di perban, agar bisa mendapatkan udara dengan leluasa, dan ini membuat dia lebih nyaman, Dokter Veer yang melihat luka Musa dalam keadaan baik pun memberikan izin untuk tidak lagi memasang perban di wajah sang Ustadz.


“Tuan Musa, kami menawarkan untuk melakukan operasi plastik, atau face off, apakah anda bersedia?” Tanya dokter Veer. Sitara menatap suaminya penuh harap. 


“Mas mau makan apa?” tanya Sitara. Wanita cantik itu tadi sempat membeli beberapa macam makanan untuk persediaan. “Kamu ada beli apa aja?” tanya Musa balik, sebelum menjawab apa yang istrinya tanyakan. 


“Aku tadi pengen nasi padang mas, Alhamdulillah masakan Padang sudah go International mas, jadi tiap negara kita bisa nemuin masakan ini, mas mau?” tawar Sitara. Musa yang memang sedang ingin makan masakan padang langsung berbinar. 


“Alhamdulillah, pas banget aku pengen rendang sayang,” pinta Musa. dengan senang hati Sitara menghidangkan untuk suaminya. Wanita cantik itu dengan sabar menyuapi Musa. Selama sakit Sitaralah yang merawat semua kebutuhannya. 


Setelah Musa selesai makan, kini gantian Sitara menghabiskan jatah makan siangnya, Wanita itu memilih menu yang sama dengan Musa, rendang padang yang namanya sudah mendunia. 


Setelah membersihkan bekas makanan mereka, tidak lupa Sitara memberikan obat yang setelah makan harus dikonsumsi oleh suaminya. Kini Sitara duduk berhadapan dengan Musa, sebagai seorang istri yang ingin tau akan keputusan suaminya mengenai operasi face off, tidak sabar ingin menanyakan sekarang juga. 


“Mas, gimana sih soal hukum islamnya jika kita melakukan operasi plastik?” tanya Sitara serius, karena dia juga tidak mau memaksakan kehendaknya jika itu melanggar peraturan agama yang kini juga dianutnya. 


Musa menarik nafas dalam, dari kemarin sebenarnya dia terus memohon petunjuk kepada Allah, apakah jalan itu akan dia ambil, apakah itu dibolehkan, dan masih banyak lagi kegamangan yang menuntut adanya jawaban dari sang pemilik alam.  


Sampai pada akhirnya Allah menjawab doa-doanya melalui sebuah ingatan saat dia masih belajar dulu. “Tara beberapa hari ini mas juga melakukan istikharah, mohon petunjuk dari Allah, agar apa yang kita putuskan nanti tidak menjadi salah dan berujung dosa, Alhamdulillah, Allah memberikan jawaban dengan mengingatkan kembali pada pelajaran mengenai hal ini. mengenai operasi plastik yang biasanya banyak dilakukan oleh wanita. Hal yang dilarang ketika seseorang melakukan perubahan pada wajahnya hanya ingin tampak semakin cantik atau tampan, padahal tidak ada hal lain yang mengganggu terutama dari sisi medis. Misalnya, hanya karena alisnya tebal lalu tampak menyatu, maka mereka mencabutnya atau bahkan melakukan operasi agar itu dihilangkan, dan sebagainya - dan sebagainya. 


Lalu bagaimana hukum face off (merekonstruksi wajah) agar kembali seperti semula. Penyebab dari keputusan melakukan face off pun karena alasan medis,  Mereka yang tergabung dalam forum tersebut dimana Perihal ini pernah diputuskan oleh para kiai melalui putusan lanjutan bahtsul masail Komisi Bahtsul Masail Ad-Diniyyah Al-Waqi’iyyah Munas Alim Ulama di Gedung PBNU Jakarta pada 21-22 Rajab 1427 H/16-16 Agustus 2006 M. menyatakan bahwa merekonstruksi wajah agar kembali seperti semula hukumnya boleh mengutip sejumlah pandangan ulama, salah satunya Syekh Wahbah Az-Zuhayli berikut ini.


 


 يَجُوزُ نَقْلُ الْعُضْوِ مِنْ مَكَانٍ مِنْ جِسْمِ الْإِنْسَانِ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ مِنْ جِسْمِهِ مَعَ مُرَاعَاةِ التَّأَكُّدِ مِنْ أَنَّ النَّفْعَ الْمُتَوَقَّعِ مِنْ هذِهِ الْعَمَلِيَّةِ أَرْجَحُ مِنَ الضَّرَرِ الْمُتَرَتَّبِ عَلَيْهَا وَبِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ ذلِكَ لِإِيجَادِ عُضْوٍ مَفْقُودٍ أَوْ لِإِعَادَةِ شَكْلِهِ أَوْ وَظِيْفَتِهِ الْمَعْهُودَةِ لَهُ أَوْ لِإِصْلَاحِ عَيْبٍ أَوْ إِزَالَةِ دَمَامَةٍ تُسَبِّبُ لِلشَّخْصِ أَذًى نَفْسِيٍّا أَوْ عُضْوِيًّا 


Artinya, “Boleh memindah anggota badan dari satu tempat di tubuh seseorang ke tempat lain di tubuhnya, disertai pertimbangan matang, manfaat yang diharapkan dari operasi semacam ini lebih unggul dibanding bahayanya. Disyaratkan pula operasi itu dilakukan untuk membentuk anggota badan yang hilang, untuk mengembalikannya ke bentuk semula, mengembalikan fungsinya, menghilangkan cacat, atau menghilangkan bentuk jelek yang membuat seseorang mengalami tekanan jiwa atau gangguan fisik,” (Lihat Syekh Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], jilid VIII, halaman 5124).” Sumber Google.


Panjang lebar Musa menjelaskan kepada istrinya, mereka berdua kini terdiam sejenak, bersilang pandang untuk menyelami hati pasangan mereka masing-masing. “Aku bersedia Tara,” lanjut Musa memberikan jawaban dengan sebuah keyakinan. 


❤️❤️❤️


Yuk Like+Vote ya pemirsa,semoga selalu suka dan membawa manfaat bagi pembaca. Jangan lupa mampit ke novel ku yang ke dua ya GADIS PONI SCOOTER,makasiih pemirsa 🌹