
Sekarang mereka semua bisa bernafas lega, karena pernikahan yang tidak biasa ini.
“Tara jangan bilang kamu terinspirasi dari kisah roro jonggrang ya, minta di buatkan 1000 candi dalam satu malam, Ini bener-bener bikin kita terkaget-kaget.”
Ayu yang sudah tidak tahan lagi untuk bicara, dia berusaha untuk sopan dengan tidak menggunakan panggilan 'Lo, Gue' disaat keluarga berkumpul. Begitu semua selesai makan malam yang hening, dia pun mulai heboh.
“Gak lah Ay, aku terinspirasi dari ucapan Mas Musa yang akan menikahi ku bulan depan. Jadi ku pikir, kenapa harus bulan depan, mumpung ada penghulu, yuk gas poll hahaha” Mereka yang ada disana, semua tertawa dengan keberanian Sitara yang tidak segan-segan menggoda Musa.
“Ciee cieee yang sudah manggil Mas, sejak kapan kak? Zahra yang mengamati perubahan dari Sitara, tidak mau kalah menimpali.
“Ehem.. sejak kapan ya Mas?” Sitara menyenggol Musa dengan lengannya, berusaha mencari sekutu untuk membantunya agar tidak semakin di bully oleh adek iparnya dan sahabatnya yang mulai membulatkan mata.
Musa yang di senggol tampak kikuk, dan harus bagaimana bersikap, untuk mengimbangi sikap Sitara yang tampak sok akrab dan sok manja di hadapan semuanya.
deg
deg
deg
seketika jantung Musa tidak beraturan, walau dia terkenal dengan julukan ustadz gaul, tapi urusan wanita, Musa baru pertama kali ini dekat dan langsung ditubruk untuk minta dinikahi olehnya.
“Hmm sejak kamu nubruk aku lagi.” Jawab Musa yang membuat semua yang ada di meja makan itu terperangah. Sontak membuat semua yang hadir menatap Sitara dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka semua. “Haahhh Nubruk?”
Entah siapa yang memerintahkan mereka, semua mengatakan kalimat seperti paduan suara. Sitara dan Musa saling menatap, seakan saling bertanya, bagaimana menjelaskan kepada mereka semua.
“Sitara punya hobi nubruk beton.”
Blush…
Wajah Sitara yang putih dengan riasan tipis itu tampak merona. Dia menyadari sindiran Musa kepadanya. semua yang ada di meja makan semakin bingung dan akhirnya senyum-senyum sendiri.
“Anak muda jaman sekarang memang sukanya yang aneh-aneh, untung aja gak ada yang merekamnya dan mengunggahnya di medsos, bisa banjir follower nih, dengan judul, gadis sakti penembus beton, hahahaha.” Zulkifli tidak bisa lagi bisa menahan dirinya untuk tidak membully pengantin dadakan itu.
Mawar yang sedari tadi banyak diam, dan tertawa disaat moment yang lucu, kini tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kenapa Sitara sering nubuk beton, apakah sitara mengidap suatu penyakit?"
Semua orang selain keluarga Kyai dan Satish, seakan membenarkan pertanyaan Mawar dan menganggukkan kepalanya mantap.
Gluk
Musa menelan saliva nya kasar, dia kebingungan menjelaskan ke mereka yang membutuhkan penjelasan.
Musa menoleh menatap mata Sitara dengan tatapan memohon, tidak lupa senyum tanggung nya menghiasi wajahnya yang terlihat bingung.
Sitara menatap Musa dengan pandangan tajam. 'Akibat pernyataan mu Mas, mereka berpikir, aku punya penyakit aneh, huuff.' Sitara bermonolog dalam batinnya.
Sementara yang lainnya tidak bisa menahan tawa melihat sepasang pengantin kilat itu saling bicara melalui ekspresi wajah mereka.
*****
tibalah waktunya untuk beristirahat. semua sudah menuju kamarnya masing-masing. Tinggallah Musa, Sitara, Satish dan Kyai Ibrahim. Mereka berempat sedang mendiskusikan, akan menginap di hotel atau pulang kerumah Satish.
“Musa, papa berharap kamu mau pulang ke rumah papa, sebelum kamu membawa Sitara pulang ke pondok. Papa berharap kita bisa saling mendekatkan diri.”
“Musa tidak masalah pa, tapi gimana dengan Sitara?” Musa tidak ingin mengambil keputusan sendiri.
“Aku ngikut aja mas, tapi sayang kan kamar yang sudah dibayar tadi?” Sitara yang perhitungan merasa sayang membuang uang.
“Baiklah, kalau begitu ayo mas kita pulang,” Sitara dengan santainya menggamit tangan Musa untuk berdiri dan bersiap untuk berpamitan dengan Abi. Musa yang masih kikuk tidak bisa menolak, demi kelancaran masa pacaran halal nya, dia berusaha mengimbangi istrinya yang sangat cuek.
‘Sitara, kamu kok bisa sesantai ini sih, jantung ku makin gak sehat kalo kamu giniin terus.’ Musa yang sibuk bermonolog di batinnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Abi, besok pagi Tara akan kembali kesini untuk bertemu dengan Umi dan Zahra, kalau sekarang membangunkan mereka, rasanya tidak nyaman.” Sitara mengambil tangan Kyai Ibrahim untuk bersalaman dan mencium punggung tangannya yang mulai keriput.
“Iya nak, kembalilah besok, kita sarapan bersama.”
Musa melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan Abinya. “Musa pamit dulu Abi, Mohon doa kan Musa untuk bisa menjadi imam bagi Sitara.” Kali ini Kyai Ibrahim tidak kuasa menahan haru di hatinya. dalam hitungan jam, dia sudah memiliki menantu, dan ini semua diluar dugaannya.
“Berangkatlah nak, sayangi dia, lindungi dia dan didik dia agar kalian bisa berlayar dengan aman sampai ke tujuan nanti. Jadilah suami yang bijak, gunakan akal dan nurani saat menghadapi masalah, jangan gunakan emosi untuk menyelesaikannya. Dia istrimu, tanggung jawabmu baik di dunia dan sampai akhirat nanti.”
Panjang lebar Kyai Ibrahim memberikan nasehat kepada Musa. dia berusaha keras mengendalikan diri. tiba giliran Satish yang berpamitan.
“Kyai, saya mohon diri. Saya percayakan Sitara kepada keluarga besar Kyai, dia sekarang bagian dari keluarga besar Kyai. Saya tidak bisa lagi berkata-kata, saya sangat berterimakasih kepada Kyai, yang sudah mau menerima Sitara sebagai putri kalian.”
Kyai Ibrahim merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Satish. Satish menyambutnya. kedua pria paruh baya itu pun saling berpelukan. Seakan saling menyalurkan kekuatan untuk melihat perjalanan anak-anak mereka di kapal yang baru saja mereka naiki dan siap untuk berlayar mengarungi lautan kehidupan.
Malam semakin merangkak jauh. Langit terlihat cerah, bertabur bintang menghiasi perjalanan pengantin baru yang sedang menuju sebuah rumah mewah milik Satish. Satish meminta Musa untuk menyetir Mobilnya sementara Sitara di minta Satish untuk menemani Musa di kursi penumpang sebelah sopir. Satish duduk di bagian belakang Sopir. Terasa lelah tubuh nya karena seharian ini wara-wiri demi pernikahan putri kesayangannya.
Sitara sesekali mengarahkan Musa menuju alamat rumahnya. Seperti mencuri waktu, Sitara mencuri pandang kepada Musa. sekilas senyuman manis terukir di bibir seksi nya.
Musa yang sadar sedang di perhatikan Sitara ingin sekali menggoda gadis cantik dengan busana pengantin India.
Tidak terasa Mobil mereka memasuki jalan komplek dimana rumah Sitara dan Musa melambatkan laju mobilnya disaat Sitara mengatakan mereka akan segera sampai
“Rumah pagar coklat yang itu, rumah papa, Mas.”
“Eehh iya, aku kira masih jauh.” Musa segera mengarahkan mobilnya menuju rumah yang ditunjuk Sitara. Gugup, itulah yang sedang dirasakan oleh Sitara.
Gerbang dibuka oleh satpam yang bertugas. Sitara membuka jendelanya dan menyapa satpam yang bertugas.
Musa memarkirkan Mobil dengan perlahan.
Bugh!
Musa keluar terlebih dahulu dan mengitari setengah dari badan mobil untuk membuka pintu Sitara.
Ceklek!
Sitara pun keluar dengan anggunnya. Musa tidak lupa meletakkan tangan nya di atas pintu, agar kepala Sitara tidak membentur nya.
"Terimakasih suami ku." Musa tersipu mendapatkan kalimat manis dari Sitara. Hatinya berbunga-bunga, dan hatinya berdesir menghangat.
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Makin bikin penasaran deeh sama pasangan ini, bisa gak ya Musa mengatasi perilaku absurd nya Sitara?
Yuk dukung terus karya receh ku dengan Like, Komen dan vote ya.. biar makin semangat Author nulisnya. 💞