
Rangkaian ibadah dengan membawa ketenangan hati, setelah menyembah sang penguasa kehidupan dan kematian, pemilik seluruh alam, sitara merapikan alat sholat mereka dan meletakkannya di jemuran khusus alat sholat. mereka telah kembali ke bibir kasur seperti semula, kemudian Musa melanjutkan lagi.
“Dan yang ketiga, disunnahkan bagi suami untuk memperlakukan mempelai wanitanya dengan lembut dan santun, dan memberikannya sesuatu untuk diminum atau dimakan. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya, dari Asma‘ binti Yazid bin Sakan bahwa Nabi SAW, bersabda, “Aku menghiasi Aisyah r.a agar cantik dipandang.” Lalu Rasulullah datang ke sisinya dengan membawa segelas besar susu. Kemudian beliau minum, setelah itu Nabi memberikannya kepada Aisyah. Ia menundukkan kepalanya karena malu."
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan an-Nasa‘i dengan sanad jayyid, bahwa Nabi SAW bersabda: “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik dan paling lembut kepada keluarganya.”
Diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW, bersabda: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.”
“Pada perlakuan yang lemah lembut ini akan membuatnya jinak dan menghilangkan sifat geraknya, serta akan memperkuat emosi cinta di antara mereka berdua. Karena semua yang masuk akan mengejutkan dan semua yang asing akan membuat marah.”
Panjang kali lebar kali tinggi, Musa memberikan penjelasan kepada istrinya. Sitara mendengar dan menyimak dengan serius.
"Mas, apakah kamu sudah mencintaiku?" Entah keberanian dari mana yang membuat Sitara menanyakan pertanyaan konyol itu.
"Tara, aku akan mencintai wanita yang sudah menjadi istri ku. Karena mencintai di luar pernikahan, aku takut iblis akan menghiasi pandangan ku kepada wanita yang belum halal bagi ku."
Kembali wajah cantik Sitara merona dan sedikit membuatnya salah tingkah. Musa menggamit dagu wanita halalnya, lalu mengangkat wajah cantik yang kini sudah sah menjadi miliknya.
"Istriku, jadilah teman ku, se-dunia dan se-surga, apakah kamu mau?"
Dibalik sifat konyol dan barbar nya,Sitara masih memiliki hati yang mudah tersentuh dengan kelembutan dan ketulusan. Kedua netranya menatap kearah Musa, dia mencari kesungguhan di dalam sana.
"Mas, apakah mas mau menerima aku yang jauh dari kata sempurna, aku yang kemaren kamu temukan dalam keadaan mabuk dan sangat buruk. Sementara mas, seorang yang terjaga dari itu semua."
Mereka masih saling tatap. Musa tetap dengan senyumannya yang mendamaikan hati Sitara yang saat ini gelisah.
"Sebaik-baiknya seorang hamba, adalah yang mau mengakui kesalahannya dan tidak akan mengulanginya. Sitara istriku, kamu sungguh luar biasa bagiku, aku bahkan banyak belajar darimu, selama ini aku banyak berdakwah, tapi mungkin aku belum bisa menerapkannya, sementara kamu, kamu terus menunjukkan perubahan-perubahan dan mendekatkan diri kepada Allah"
Mereka masih saling menatap. Sitara seperti mendapatkan siraman air yang sejuk membasahi pikiran dan hatinya yang sedari tadi gelisah. Dia tersenyum dan itu terlihat cantik oleh Musa.
"Sitara, Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hambaNya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman,
وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً
“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 27)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10)
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya.” (QS. An Najm: 32)
Allah ta’ala berfirman,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raaf: 156).
Sitara yang mendengarkan lantunan ayat suci yang begitu merdu dibacakan oleh suaminya, bergetar hatinya, luruh sudah pertahanan air bening yang berusaha ditahan oleh kelopak matanya.
Hatinya merasa sangat luas dan lega, dia tidak lagi merasakan kegundahan dan merasa tidak pantas menjadi pendamping bagi ustadz yang di gemari oleh orang banyak.
Musa menghapus air bening yang mulai membasahi pipi mulus istrinya. Dengan berani Musa mencium kening Sitara dengan lembut sehingga mampu membuat Sitara memejamkan mata dan merasakan kedamaian di hatinya.
“Ayo kita istirahat, tapi aku harus tidur dimana?” Entah perasaan apa yang tiba-tiba menyerang Musa, dia bingung harus tidur dimana, dia takut Sitara merasa keberatan.
Selama ini memang dia sangat senang menghilangkan kejenuhan dengan mendatangi tempat hiburan dan minum alkohol, tapi dia tidak pernah mengikuti aliran pergaulan bebas dan *** bebas.
“Ma-mas mau tidur di sini?
Puk
Puk
Sitara menepuk kasurnya. Musa sedikit bingung melangkah atau tidak, tadi dia sudah berpikir untuk tidur di sofa , tapi dengan tubuhnya yang tinggi itu, tidak akan nyaman tidur di sofa. Tidak ada pilihan, dia pun mengangguk.
Musa dengan perasaan yang entah, merebahkan tubuhnya pelan, telentang, itulah posisi ternyaman saat ini setelah seharian dan sekarang sampai tengah malam, dia belum ada merebahkan diri sama sekali.
Sitara juga mengikuti Musa, merebahkan diri, tapi dia tidak lupa meletakkan guling di tengah-tengah. Musa mengerti maksud Sitara, dia tidak ingin bertanya. matanya sudah sangat berat, godaan dari bantal yang sangat empuk ini membuatnya kalah dalam menahan raasa kantuk yang melandanya.
“Good Night mas.” (selamat malam mas). Sitara belum bisa memejamkan matanya, dia melirik ke arah Musa.
“Good night Istriku.” tidak sampai hiutngan ke 10, Musa telah sampai ke alam mimpi yang sangat membuatnya senang.
*****
Adzan subuh berkumandang dengan merdunya, walau terdengar jauh, tapi Musa yang terbiasa bangun pagi, otomatis terbangun, tapi dadanya terasa sesak, seperti ada benda besar dan berat yang menimpanya.
Kesadaran Musa belum sepenuhnya kembali, dia juga lupa jika malam ini dia tidak tidur sendiri. Pelan dia membuka kedua matanya, karena tidurnya telentang, hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar dengan cat berwarna putih.
“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur, Segala puji bagi Allah , yang telah membangunkan kami dan kepada-Nya lah kami di bangkitkan” Musa memanjatkan doa bangun tidur, berucap syukur atas rahmat dan nikmat yang Allah berikan.
“Aduuuhh, Ya Allah, apa ini? hah kaki?!” Musa menyadari dia tidak baik-baik saja. Kembali Musa berusaha memegang benda yang menimpa dadanya. Yup, fix ini kaki, tapi kaki siapa? Dia masih berusaha untuk terus mengingat.
“Astaghfirullah Sitara? ya Allah berantakan banget tidurnya?” Musa masih memperhatikan sitara yang sudah tidak pada posisi semula, kakinya naik ke dada musa dan memperlakukan musa seperti guling.
Kepala nya sudah tidak lagi di atas bantal, karena bantalnya sudah jatuh ke lantai.
“Tara.. bangun, Tara bangun..” Musa menggoyang kaki Sitara untuk membangunkannya. Dia tidak ingin nanti Sitara salah paham, jadi lebih baik dia membangunkan dengan posisi yang masih sama seperti mereka terlelap.
“Eeehhmmm… “ Sitara menggerakkan tubuhnya yang terasa capek semua. Gadis itu meregangkan tubuhnya, kaki dan tangannya direntangkan agar terasa nyaman.
Bugh
“Awwww, sakit Tara!” Musa berteriak menahan sakit akibat kaki Sitara, yang habis di renggangkan lalu di hempaskan begitu saja, kembali pada posisi nya semula.
Posisi tidur Sitara memang kacau sekali, kedua kakinya berada diatas tubuh musa dan kepalanya sejajar dengan perut Musa. dan itu membuat dia tidak melihat keberadaan Musa.
“Kok gulingnya jadi gede ya?” dia menggoyangkan kakinya, dan baru menyadari kalau dia semalam tidur dengan suaminya.
“Aaaaaaaaakkhhh!!!” Sitara kaget dan berteriak Histeris saat melihat posisi dia yang sudah tidak tau aturan itu. Spontan dia mengangkat kedua kakinya dan langsung duduk.
“Mas maafin aku, sungguh aku gak tau kalo itu badan mas. maafin aku ya mas.” Sitara merasakan malu yang luar biasa, rasanya ingin sekali dia bersembunyi di bawah tempat tidurnya.
Musa tersenyum, tetap dengan senyum yang sama, manis sekali. Jika boleh jujur, dia merasakan sakit di dadanya. Istriku sungguh luar biasa. Sitara yang menunduk malu, tapi Musa tidak berniat untuk menggodanya, yang akan membuat istrinya semakin malu.
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Like+vote ya 💞