
Semua persiapan sudah siap, setelah menunaikan Sholat Ashar acara akad akan dilaksanakan. Sebelum menggunakan aksesoris Sitara tidak lupa menunaikan Sholat Ashar.
Ayu yang melihat hal itu jelas saja shock, dia tidak percaya, dan selama ini dia tidak tau kalau sahabat nya sudah menjadi mualaf.
Dengan perasaan yang entah bagaimana, Ayu merenungi dirinya. Kapan gilirannya yang akan berubah. Hari ini dia sudah menjadi istri seorang Harun yang sangat religius.
Karena drama pernikahan Sitara akhirnya pengantin baru ini pun mendadak menjadi panitia. Harun sibuk menyemangati Musa yang berada di kamar tempat dia menginap.
“Musa, aku pikir-pikir ini adalah kado terhebat yang aku terima di hari pernikahan ku hahaha.” Harun tidak tahan lagi untuk menggoda Musa.
“Run kamu tertawa di atas kesedihan ku, tega kamu sob.” Musa masih tidak bersemangat untuk menghadapi pernikahannya. Tapi sahabat nya masih saja menggodanya.
“Inilah takdir yang Allah tentukan Sob. Jodoh, rezeki, Maut. semua tidak ada yang tau. Sekuat apapun kau meraih sesuatu, jika Allah tidak izinkan maka itu tidak akan terjadi.
Sekuat apapun kau menolak gadis itu, jika dia takdir jodohmu, maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian. Ikhlas dan sabar sob.”
Kali ini Harun mengatakannya dengan serius. Musa tercengang dengan penuturan Harun. Dia selama ini sangat mudah memberikan ceramah dan menasehati orang. sekarang giliran dia yang terkena masalah, seakan dia lupa dengan apa yang pernah dia sampaikan.
“Astaghfirullahal adzim. Aku sudah melakukan kesalahan sob. Semoga Allah mengampuni semua salah dan dosa ku.” Musa mengusap wajahnya perlahan. Harun memeluk Musa dengan erat.
“Istri kita adalah tanggung jawab dunia akhirat kita Musa, mendidik dia dan menyayangi dia, percayalah itu semua tidak akan mudah. Tapi jika kita ikhlas, maka Allah akan memberikan banyak kemudahan.”
Kembali Harun menguatkan Musa. saat ini dia merasa, nasehat itu juga untuk dirinya. Dia yang belum mengenal Ayu akan menyiapkan diri untuk mengarungi mahligai rumah tangga.
“Mahar apa yang diminta oleh calon istrimu?” Harun mengingatkan Musa dengan persiapannya.
“Astaghfirullah aku sampai lupa menanyakannya.” Musa baru menyadari sejak semuanya disepakati, dia belum ada berkomunikasi lagi dengan Sitara.
"Sob, bisakah tolong kau telepon istrimu, dia kan sekarang sedang bersama Sitara. aku ingin bertanya, mahar apa yang dia minta, Karena kau belum sempat membelikan cincin untuk nya.”
Harun hanya mengangguk dan dengan segera dia mengeluarkan benda pipih yang pintar itu dari saku celananya.
tut…tut…tuut..
“Assalamualaikum Aby, ya ada apa?” Dengan sangat cepat Ayu mengangkat telepon dari suaminya sambil senyum-senyum yang membuat Sitara menaikkan sebelah alisnya.
“Waalaikumsalam dek, ini Musa ingin menanyakan kepada Sitara, dia mau minta mahar apa? karena Musa belum sempat membelikan cincin kawin untuk nya.”
“Sebentar Aby aku tanya dulu ya.” Ayu melangkah mendekati Sitara yang sudah hampir selesai di rias.
“Beb, Ustadz Musa menanyakan kau mau mahar apa? karena dia belum sempat beli cincin untuk mu.” Ayu menanyakan kepada Sitara. Sesaat sitara berfikir.
“Aku minta mahar uang 10.000. tidak lebih dan tidak kurang.” Sitara mengucapkan apa yang dia pikirkan.
“Haahh edaann, Lo lagi ngigau beb?” Ayu tampak kaget dan menepuk jidatnya. “Udah sampaikan saja, sebentar lagi aku akan menikah, jangan norak gitu kaget nya.” Sitra benar-benar tenang dengan permintaanya.
Ayu segera menyampaikan ke suaminya. “Aby tolong sampaikan ke ustadz Musa, Sitara meminta mahar uang 10.000 rupiah, tidak kurang dan tidak lebih. Ya udah gitu aja ya Aby, aku tutup teleponnya. Assalamualaikum.” sekarang giliran Ayu yang mencium layar ponselnya dengan senyum-senyum sendiri..”.
Sitara yang melihat itu, hanya tersenyum penuh arti. ‘Kirain gue aja yang edan, dia juga sama hahaha.”
Sementara Musa yang menerima kabar dari Harun mengenai mahar yang diinginkan oleh Sitara. “Gadis yang sederhana sekaligus aneh.” Musa kembali tercenung. “Harun apakah ini baik-baik saja?” Harun yang melihat wajah bingung dari sahabatnya itiu, kembali menguatkan.
“DIa wanita yang sangat baik, dia tidak memberatkan suaminya dengan tuntutannya. Dia sederhana. Ayolah sob, sekarang saatnya keluar menuju pelaminan. kamu terlihat tampan.”
Harun memuji dengan tulus. Kyai ibrahim mengirim pesan ke Musa untuk segera turun ke meja akad. Satish pun mengirim pesan ke putrinya untuk segera turun sekarang, karena waktu akad nikah telah selesai.
Acara akad nikah akan segera dimulai, Sitara yang dinikahkan oleh wali hakim tampak mulai gugup. tiba-tiba tubuhnya dingin, dan entah pikiran apa yang sudah mengganggunya dan memerintahkan untuk pergi dari dari sana dan meninggalkan pesta.
Musa yang sudah siap di meja akad nikah dan berhadapan dengan wali hakim. Semua nasehat pernikahan sudah diutarakan oleh penghulu.
Dan tibalah saatnya pengucapan akad nikah yang diucapkan Musa , setelah penghulu mengucapkan akad.
“Bagaimana saksi? Sah?” pertanyaan penghulu kepada para saksi
“SAAAHH” secara serentak para saksi mengatakan Sah. Saat itu Sitara yang sibuk dengan pikirannya untuk kabur, tiba-tiba mematung karena saat ini dia tidak bisa lagi kabur, sekarang dia sudah sah menjadi Nyonya Musa.
“Allahu Akbar” itulah yang terucap dari bibir cantik Sitara. hal itu mengundang tanya fatimah dan Zahra. “Nak, ada apa?” Fatimah bertanya sambil terus memperhatikan wajah tegang Sitara.
“Hah, ti-tidak ada apa-apa Umi, Alhamdulillah” Sitara yang tersadar dari lamunannya langsung berusaha untuk tersenyum menutupi kegugupannya dan memperbaiki kesalahannya.
“Ayo nak, Suami mu sudah menunggu.” Sitara hanya bisa mengangguk, tatapan matanya sendu dan lututnya terasa gemetar.
Dia tidak segagah beberapa jam yang lalu. Musa yang sedari tadi belum melihat Sitara, berdiri dan memutar tubuhnya untuk menjemput istri dadakannya.
“Maasya Allah, cantiknya.” itulah yang terucap dari bibir Musa dan tanpa dia sadari hal itu didengar oleh yang lainnya.
“Huuuuu suit suit..”
Musa yang tersadar ucapannya mengundang keramaian, akhirnya tertunduk dan tersipu.
Sitara sudah berada di sampingnya. Mereka berdua menandatangani buku nikah dan saatnya Penghulu menyuruh Sitara mencium punggung tangan suaminya.
“Nak Sitara, silahkan mencium tangan suami mu, tanda baktimu kepada suami. dan Nak Musa silahkan mencium kening istrimu, tanda kasih sayang kepada istrimu.
Sitara dan Musa berdiri. kecanggungan meliputi dua suami istri yang super cepat persiapan pernikahannya. Sitara mengambil tangan Musa dan menciumnya takzim.
Cup.
Nyesss rasa hangat menjalari seluruh tubuh Musa. ini baru pertama kali dia dicium wanita. walau hanya tangan yang dicium, tapi dia sungguh gemetar. Dengan gugup dia menggamit kedua bahu Sitara dan memberikan kecupan di dahi Sitara.
Cup
satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik. Musa menikmati ciuman pertama yang dia berikan untuk istri halal nya.
Sitara yang menerima itu, merasakan hal lain yang menjalar ke seluruh tubuhnya, seperti ada listrik yang mengalir dan membuat aliran darahnya terasa cepat mengalir.
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Makin gemes ya ngeliat Musa dan Sitara. Nikah kilat cuuyy…
Yuuk dukung terus dengan like, komen dan vote. Ajak semua temen kami buat baca karya receh ku ya pemirsa. 💞