
“Maaf tuan, maksud anda apa? saya tidak berani lancang,” dengan jantung yang tidak karuan Cici memberanikan diri untuk menanggapi kalimat tuannya. Arya tertawa terbahak-bahak melihat Cici yang kebingungan.
“Aku hanya bercanda saja, jangan terlalu serius lah, well kita akan mulai dari tahap pertama, kau harus menyimpan nomor telepon ku, dan begitu juga sebaliknya. yang kedua, tolong berikan aku data tentang pabrik, dan blueprintnya. untuk hari ini, itu dulu, setelah makan siang temui aku di ruang meeting. Paman aku butuh ruang meeting sampai selesai, jadi jika kau mau mengadakan meeting, silahkan cari tempat yang lain.” Arya memang memiliki pembawaan yang sangat santai di bandingkan Dev.
Dibalik keceriaan dan sikapnya yang easy going, Arya adalah orang yang disiplin dan tidak akan segan menghabisi nyawa seseorang yang terbukti berbahaya. Pria tampan dengan rambut yang sedikit berantakan membuat wajahnya tampak lebih muda dari usianya. Soal wanita Arya tidak pernah jatuh cinta, karena pekerjaannya yang membuat dia membangun dinding yang tebal untuk menjaga hatinya dari kata cinta.
Mereka ini tiga bersaudara dari satu nenek dan buyut. hubungan Arya dengan sitara istilahnya sepupu dua kali, sementara dengan Dev, sepupu sekali. sejak kecil mereka besar bersama dia Mumbai. dan kini mereka semua berkumpul di Indonesia.
Jam makan siang pun tiba, sebagai agen mata-mata Arya lebih suka membaur dengan orang banyak, jadi dia memilih untuk makan siang di kantin karyawan. Karena kantin di pisah, antara karyawan biasa dengan para manajer dan general manager.
Arya sudah menyiapkan dirinya sebelum turun ke kantin dengan menggunakan seragam karyawan dan juga name tag nya. Dengan santai dia mengambil posisi di sudut ruangan, menurut dia itu adalah posisi strategis. Sebelum duduk pria dengan rahang tegas itu lebih dulu memesan makanannya. Kini dia tinggal menunggu.
“Saatnya kamera ini bekerja,” gumam Arya. Dengan micro cam yang dia pasang di kancing bajunya, kini arya siap beraksi. ‘Cici ternyata gadis yang supel, lama-lama aku perhatikan dia cantik juga, walau mukanya polos tanpa polesan, tapi oke lah. Not bad,” Arya terus saja menatap Cici dari kejauhan.
Plak!
“Hai bro, karyawan baru ya? kenalin gue Jack, bagian produksi unit pewarnaan. Lo bagian apa?” tanya jack yang disertai tepukan pertemanan di pundak Arya.
“Hai gue Arya, iya orang baru, saat ini gue masih training di bagian produksi, kata HRD gue akan ditempatkan setelah masa training kelar,” Jawab Arya ramah. ‘Gue harus pinter-pinter gaul kayaknya kalo begini, biar cepet tuntas kerjaan gue,” batin Arya.
Jack dan Arya menikmati makan siang mereka dengan saling melempar canda tawa. Sesekali mata pemuda tampan itu melirik kearah Cici, gadis berhijab panjang itu sesekali tersenyum dan membuat mata Arya termanjakan dengan hal itu semua.
“Bro lo tinggal dimana?” tanya Jack yang mampu menghentikan aksi curi-curi pandang Arya ke Cici. “Gue ngontrak gak jauh dari sini. rencananya nanti kalo dah kelar pabrik di perbaiki dan proses hukumnya kelar gue mau cari kontrakan di deket sana aja. Lo tinggal dimana?” jawab Arya sekaligus dia menanyakan tempat tinggal Jack, teman barunya. “Gue juga ngontrak, deket juga sama sini, biar hemat ongkos hehe,”
Kembali obrolan mereka diteruskan, ternyata Jack laki-laki yang hobi ngobrol hingga jam makan siang pun berakhir, semua orang kembali pada pekerjaannya masing-masing. Arya menyelinap untuk menuju lift, untuk membawanya ke lantai tujuh. pemuda itu akan menunggu cici di ruang meeting sesuai kesepakatan mereka tadi di ruangan paman Raju.
Cici yang masih sibuk menyiapkan apa saja yang tadi dipesan oleh Arya, nampak terburu-buru, hingga menjatuhkan beberapa berkas yang sudah memenuhi tangannya yang ramping.
Bruk!
Bruk!
“Astaghfirullah, kebanyakan kali ya, sampai tanganku kesulitan menampungnya,” gumam Cici yang berusaha memunguti barang yang sedang dia bawa. Tidak jauh dari Cici yang masih saja berkutat dengan dokumennya, ada sepasang mata yang terus mengamati dengan tanpa ekspresi, sesekali gadis itu kembali menatap layar komputernya.
“Oke beres semua, eh mbak Siska aku ke atas dulu ya, nanti kalo ada yang cari aku, tinggalin aja pesan di kertas ini,” Cici menunjuk dengan dagunya kertas post it warna warni. Siska yang duduk bersebelahan dengan Cici paham dengan kode yang diberikan gadis itu.
“Ok Ci siap, kamu tumben-tumbennya ke atas tanpa tim? ada rapat pribadi ya?” Canda Siska dengan menaik turunkan kedua alisnya.
“Mbaak Siska, awas lo ya ntar jadi gosip niih, ya udah aku naik dulu ya mbak,” balas Cici dengan senyum manisya tapi tetap dengan wajah yang bersemu-semu tergoda. Siska menyukai hal itu, Cici gadis pemalu yang gampang sekali merona, sehingga membuat Siska betah menggodanya.
“Masuk” Suara Arya memerintahkan Cici untuk segera masuk. Gadis berhijab itu pun masuk dengan mendorong pintu dengan pundaknya, tampak kesulitan. Arya bergegas membantu Cici yang sudah mulai terhuyung karena pintu kaca itu sulit sekali di dorong. “Tunggu disitu, biar aku bukakan pintunya!” teriak Arya, tapi belum lagi pemuda itu sampai dengan tepat tubuh mungil Cici kehilangan keseimbangan dan akhirnya membuat semua dokumen yang ada di tangannya berantakan dan berserakan ke berbagai arah.
Braaaakkkk!
“Aduuuh!” tubuh Cici pun jatuh ke lantai hampir bersamaan dengan dokumen yang terjatuh. Arya reflek ingin menangkap tubuh gadis itu tapi terlambat.
“Maafkan saya yang terlambat menangkap kamu, ayo saya bantu berdiri,” uluran tangan Arya dipandang ragu oleh Cici. “Maaf tuan Arya, saya bisa berdiri sendiri. jika tidak keberatan tolong bantu saya mengumpulkan semua dokumen yang berserak saja, bisakah tuan?” tolak Cici lembut dan sekaligus dia meminta bantuan dalam bentuk yang lain. Hal ini membuat Arya tidak tersinggung, hati nya cukup damai melihat senyum manis gadis itu.
“Terimakasih tuan, anda sudah meringankan tugas saya,” ucap Cici sopan, Arya hanya mengangguk kecil dan tidak lupa untuk tersenyum. Mereka berdua melangkah ke meja besar dan Cici mulai memaparkan satu persatu dokumen yang dia bawa. Arya memperhatikan dengan seksama. untuk beberapa jam mereka berdua terlibat diskusi dan ternyata hal itu mampu mengikis rasa segan canggung Cici kepada tuan tampannya itu.
Sesekali Arya melempar canda agar tidak terlalu tegang, hal ini berhasil membuat Cici tertawa. Entah kenapa Arya tidak merasa lelah sama sekali, mungkin efek adanya Cici yang menemaninya menghadapi dokumen yang lumayan banyak.
Kriiing!
Kriing!
Arya melihat ponselnya, tertera di sana sebuah nama Sitara. Dengan cepat pria itu menggeser tanda hijau dan panggilan pun terselubung.
“Hallo, ada apa? kau mengganggu waktuku saja,” ketus nya menyambut percakapan dengan Sitara. Sitara yang mendapatkan kalimat pedas dari saudaranya itu merasa kesal tapi dia tidak pernah bisa sungguhan marah dengan Arya.
“Aku tadi sudah diberi kabar paman Raju, kau akan membantu menyelesaikan masalah ku. aku ingin mengucapkan terimakasih Arya,” jawab Sitara tenang, tidak terpancing dengan kalimat pembuka Arya.
“Hmm tidak masalah, aku akan berikan kabar perkembangannya jika sudah ada, satu lagi, jangan ganggu waktu ku, aku sedang bersama kekasihku!”
Klik!
sambungan terputus, senyum Arya terkembang memandang ponsel mahalnya, sementara Cici, entah apa sekarang warna wajahnya dan isi hatinya.
❤️❤️❤️
Like, Komen dan Vote ya pemirsa, jangan lupa mampir ke novel ke duaku ya GADIS PONI SCOOTER, tengkyuuu pemirsa 🌹