Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 29: Nikahan Ayu


Sitara dan Satish datang pagi-pagi sekali. Zulkifli yang juga bersahabat dengan Satish merasa senang sahabatnya itu meluangkan waktu di tengah kesibukannya yang padat. 


Mereka berencana untuk sarapan pagi di restoran hotel. Zulkifli yang jalan beriringan dengan Satish berjalan santai sambil ngobrol. sementara Mawar dan Sitara berada di kamar Ayu yang sedang di rias oleh MUA (Make up Artist).


Ibrahim, Fatimah dan putra putri kesayangan mereka Musa dan Zara, keluar dari lift menuju ke restoran karena diundang oleh Zulkifli untuk sarapan bersama nya. 


Zulkifli juga akan mengenalkan Ibrahim dengan Satish, terbesit dalam pikirannya akan mencoba untuk menjodohkan Sitara dengan Musa. 


Begitu sampai di restoran, Ibrahim mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sahabatnya itu. dari sudut ruangan dia melihat Zulkifli yang melambaikan tangan sebagai tanda bahwa dia sudah menunggu di meja makan. 


Satish yang duduk membelakangi Ibrahim, tidak melihat Ibrahim karena dia sedang meminum kopi nya. Ibrahim dan keluarganya berjalan semakin dekat dan Zulkifli pun berdiri menyambut sahabat lama nya.


“Assalamualaikum sahabat ku, Maasya Allah sudah semakin tua ya kita, uban mu sudah berkilau Ibrahim hahaha”. Kedua sahabat ini langsung berpelukan hangat. 


“Iya waktu yang tidak bisa kita perlambat Zul, tau-tau kita ketemu sudah pada tua, dan anak-anak akan meninggalkan kita.”


Ibrahim membalas kalimat Zulkifli. “Aku tidak melihat istri dan besan mu, kenapa mereka tidak sarapan?” Ibrahim masih belum menyadari Satish membelakangi nya dan sedang asyik minum kopi.


“Mereka sedang sangat sibuk Ibrahim. Sementara aku, setelah operasi pasang ring di jantung, sudah tidak boleh terlalu lincah lagi hahaha.” Ibrahim tampak kaget mendengar kalimat dari sahabatnya itu.


“Ahh Ibrahim, aku sampai lupa mengenalkan sahabatku, pak Satish kenalkan ini sahabatku sejak jaman sekolah dulu." 


Saat satish membalikkan badannya, Ibrahim dan Satish terkejut dan tidak bisa lagi menahan kebahagiaannya. 


“Pak Satish, Maasya Allah” Ibrahim memeluk Satish yang cukup lama mereka tidak bertemu. “Kyai Ibrahim, dunia ini ternyata sangat sempit ya. hahaha.” 


Pagi yang sangat membahagiakan. mereka semua sarapan dengan tenang. dan setelah selesai sarapan, kembali mereka berbincang dan melempar canda ala jadul, alias jaman dulu.


“Ibrahim, kalo melihat seperti ini, aku rasanya ingin sekali menyatukan putra mu dengan putri tunggalnya Satish, tampaknya mereka serasi, tampan dan cantik, sama-sama pintar, dan sama-sama bersinar."


Ibrahim dan Satish saling melempar pandang, sementara Musa yang duduk di sebelah Zahra tampak gelisah. “Wah jadi nih kayak nya kak hihihi” Zahra berbisik ke arah Musa. 


*****


Dikamar pengantin semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tapi berbeda dengan dua orang gadis cantik yang sudah lama bersahabat. Ayu tampak sesekali memegang perutnya karena menahan ketawa. 


Wajahnya yang entah sudah berapa lapis bahan make up di oleskan ke wajahnya sehingga terasa sangat tebal kulit wajahnya.


“Jadi sekarang perasaan Lo gimana Ay? setelah panggilan sayang Lo sama Harun?” Sitara mulai kepo.


“Gue gak bisa mengungkapkan dengan kata-kata Beb, secara gue kan gak pernah pacaran, cinta monyet aja gue gak ngalamin hahaha.” Ayu nampak bingung menamakan apa tentang perasaannya.


"Laahh parah yak, hati Lo imun terhadap cinta itu namanya Ay, trus ntar gimana ngejalaninnya?” Sitara mulai bingung dengan sahabatnya.


“Hati Gue masih perawan Beb, tapi Gue kalo liat wajahnya Harun tu ya, hati Gue rasanya nyeesss, adem gitu Beb.” Wajah ayu tampak merona. 


“Ciee cieee, Lo mulai ada debaran gimana gitu gak, saat ketemu dia?” Sitara mulai merubah duduk nya. Menopang wajahnya dengan kedua tangan yang berpangku di pahanya yang duduk bersila. 


“Ada sih, dikit Beb,” Ayu menyatukan jari telunjuk dan jempolnya mengisyaratkan kecil nya rasa cinta. 


“Ya mulai lah Lo bangun Ay, kan beberapa jam lagi Lo bakal jadi nyonya Harun. Lo harus lebih semangat untuk membagun rasa yang ada Ay.” Sitara menasehati sahabatnya itu, seperti seorang yang sangat pengalaman.


“Beb, Lo gak salah? Nikah aja belom kejadian, udah kayak penasehat pernikahan aja gaya Lo!” Ayu memasang wajah kesal dengan kelakuan gadis cantik di sampingnya, tidak lupa dia melempar Sitara dengan kuas.


“Iya Ay, kok aneh ya, Lo ngerasa aneh gak, Gue yang ngelamar Musa, belom juga naik pelaminan, laah Elu, lamaran aja tidak terdeteksi sama Gue, tau-tau berapa jam lagi udah akad Nikah aja. Jahat lo Ay.” Sitara mencurahkan isi hatinya dengan wajah sendu. Bibirnya yang seksi pun maju lima centi.


“Beb, jangan sedih dong, siapa tau hari ini Allah akan mengirimkan seorang Arjuna yang memiliki cinta sejati buat Lo. Ini doa gue, dan gue yakin Allah akan mengabulkan. Doa penganten semoga maqbul ya Beb.” 


Ayu tersenyum dengan memamerkan giginya yang putih bersih, tapi karena lipstik yang dioleskan baru di bibir atas, sementara mbak yang bertugas merias wajah Ayu harus berhenti sebentar karena Ayu sedang bicara serius. 


Sitara yang melihat wajah Ayu yang belum sempurna itu pun jadi tertawa, Ayu yang melihat sahabat tersayangnya itu bisa tertawa lagi, mereka pun akhirnya tertawa bersama. 


*****


Acara akad nikah akan segera dimulai. Ayu melangkah anggun dengan kebaya dan kerudung berwarna putih, pakaian dengan hiasan mewah dan  make up yang semakin membuat Ayu terlihat cantik. 


Ayu yang di apit oleh Mami dan Mama mertua nya, terus melangkah dengan senyum yang tidak lepas dari wajah-wajah bahagia.


Sitara melangkah di belakang Ayu berdampingan dengan saudara dari pihak keluarga Ayu.


Pengantin Pria yang sudah duduk di kursi berhiaskan bunga-bunga indah. MC yang membawa acara sudah membuka dan membacakan urutan acara. Waktu berlalu begitu cepat, hingga sampai pada saat yang di tunggu-tunggu. 


Pengucapan akad nikah, Harun tampak gagah dengan baju pengantin yang senada dengan Ayu. Akad nikah diucapkan dengan suara yang lantang, tanpa ada keraguan sama sekali. 


Papi Ayu yang menjabat tangan Musa pun dengan suara tegas mengucapkan akad, dimana dia akan menyerahkan tanggung jawab terhadap putri tunggalnya kepada pria tampan yang ada di hadapannya. 


“Bagaimana saksi? Sah?” penghulu yang menyaksikan acara akad tersebut bertanya kepada saksi yang terdiri dari Kyai Ibrahim dan Om Nugroho, adik kandung dari Papi nya Ayu, bapak Prayoga.


Sitara yang duduk di belakang sahabatnya tidak memperhatikan keberadaan keluarga Kyai Ibrahim, karena dia sibuk memperhatikan jalannya acara, Sitara ikut terharu disaat saksi dengan menggunakan microphon menyampaikan kesaksiannya. 


“SSAAAHH!!”


“Alhamdulillah…” Para tamu undangan termasuk Sitara mengangkat kedua telapak tangannya, dan mengucapkan kalimat hamdalah. Akad nikah sudah selesai diadakan, Ayu sudah duduk di samping Suaminya. 


Penghulu memberikan nasehat kepada kedua pengantin, dan sampailah pada puncak acara akad nikah, dimana Ayu mencium punggung tangan Harun dengan takzim dan Harun mencium kening Ayu. 


Sontak saja para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah. Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Sepasang muda mudi yang sedang berbahagia itu pun melangkah dengan saling bergandeng tangan. Sesekali Harun melirik Ayu yang tampak cantik dengan balutan busana pengantin muslimah.


“Maasya Allah, kamu cantik sekali dek Ayu.” Musa berbisik di telinga Ayu.” Ayu yang mendengarkan pujian dari suami nya, menunduk malu-malu. “Mas, eh Aby aku gak kuat jalan, rasanya jauh banget pelaminannya.” Jawab Ayu sambil melirik Harun. 


“Loh Kenapa dek? kamu sakit?” Harun tampak panik mendengar ucapan Ayu, Mereka masih terus berjalan pelan, karena gak mungkin kan Ayu menggunakan kebiasaannya jalan dengan langkah seribu, Author jadi bayangin kayak Flash hihihi.


“Nggak Aby, kaki ku lemes karena pujian mu tadi.” Ayu menjawab dengan sok imut. Harun yang mendengarnya jadi tersenyum lebar. ‘Sepertinya istriku ini bisa juga ngelawak’ Harun membatin karena jawaban Ayu menurutnya lucu juga. 


.


.


.


Assalamualaikum pemirsa. 


Terimakasih ya untuk para pembaca ku. Terimakasih untuk 


Is. Nugroho yang sudah menjadi Pembaca teraktif Minggu ini.


Mohon dukung terus karya ku yang masih banyak kekurangan ini ya pemirsa, Like, Komen, dan Vote ya. Ajakin teman-teman yang lainnya juga membaca karya ku ya. Tengkyuuu