Kepentok Cinta Ustadz Gaul

Kepentok Cinta Ustadz Gaul
Bab 52: Musa kritis


Entah sudah berapa kali mondar mandir Sitara di depan pintu ruang UGD, Sementara Cici hanya bisa duduk sambil berdoa, diliriknya Sitara yang tampak hancur. 


“Bu, mari duduk, sebaiknya kita berdoa meminta keselamatan ustadz Musa, ibu jangan terus bersedih.,” Cici berdiri dan berhadapan dengan Sitara, ingin sekali dia memeluk bos nya ini untuk memberikan kekuatan atau sekedar menenangkan.


Greeppp!


Sitara yang melihat Cici di hadapannya, dengan gerakan cepat dia pun memeluk wanita berhijab dengan tatapan teduh itu dengan kuat, tumpah sudah air mata yang tadi menganak sungai. 


“Cici, apa yang salah dengan diriku? baru saja menikah dan sekarang kamu liat, mas Musa seperti ini, hiks.. hiks., aku tidak sanggup ngeliat dia yang seperti ini Ci hu.. hu..” isak Sitara di pelukan Cici, dia merasa putus asa, takdir seakan sedang bermain-main dengannya.


“Ibu, tolong jangan bicara seperti itu, ustadz orang baik dan soleh, Allah akan memberikan yang terbaik untuk beliau, ayo kita duduk bu, kita berdoa meminta kepada sang pemilik hidup. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa, para dokter saat ini sedang bekerja keras untuk menyelamatkan Ustadz, mari bu, saya mohon, tenangkan hati ibu..” Cici bicara dengan lembut dan memberikan keyakinan kepada Sitara untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.  


Cici yang sebenarnya juga sedih dan merasa takut kehilangan ustadz yang dulu pernah mengisi hatinya, tapi dia sangat tahu diri dan memendam itu semua hanya di dalam hatinya yang paling dalam. Sitara yang tampak bisa menerima ucapan Cici, menurut dan duduk di kursi yang disediakan rumah sakit di depan UGD.


Kyai Ibrahim sekeluarga yang baru saja meninggalkan kediaman Satish dan belum sampai ke rumahnya, memutar balik arah kendaraan mereka menuju rumah sakit yang baru saja dikabarkan oleh Satish. Besannya yang sudah terisak saat memberikan kabar tentang apa yang terjadi pada Musa, membuat Ibrahim merasakan sesak di dadanya . 


Fatimah yang sedari tadi hanya mendengar kata kebakaran dari mulut suaminya, menjadi sangat penasaran. “Abi, ada apa ini sebenarnya? Musa kenapa Bi?” cemas Fatimah. Zahra yang masih bingung dengan kabar yang dia dengar sepotong dari abinya, hanya diam dan menyimak. 


“Pabrik Sitara kebakaran Umi, dan Musa dikabarkan menjadi korban dari kebakaran itu. Abi belum tau cerita keseluruhan, sekarang kita akan kerumah sakit, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk putra kita, barusan tadi kita masih bercanda, tapi lihat Mi, ketika Allah berkehendak tidak ada satu pun kita yang mampu menolaknya,” Kyai Ibrahim yang menjelaskan apa yang di ketahuinya, sekaligus menenangkan perasaan istri dan putrinya. 


Fatimah yang mendengarkan itu semua merasa terguncang, pikirannya keruh dan dadanya terasa sesak, pruta yang disayanginya sekarang sedang menjalani takdir yang Allah berikan, Fatimah sadar, dia tidak boleh sedih yang berlebihan, dia berusaha pasrah, dengan ketentuan yang Allah tetapkan. Bibir nya tidak lepas melantunkan dzikir agar hati dan akalnya tetap berada dijalan Allah. 


Beberapa lama kemudian, Mobil yang di tumpangi Kyai Ibrahim dan keluarga kecilnya memasuki halaman parkir rumah sakit. Ternyata Satish pun sampai bersama Pooja, tepat di belakang mobil yang Ibrahim kendarai. 


Mereka tidak banyak bicara hanya sekedar bertegur sapa, karena sudah tidak sabar untuk bertemu Musa dan Sitara. Sesampainya di depan ruang UGD Sitara bangkit dari duduknya, Fatimah yang berjalan duluan langsung memeluk Sitara yang sudah tidak kuat menahan tangisnya. Fatimah memeluk erat Sitara dengan isak tangis yang tertahan. Kedua wanita beda generasi,  yang sama-sma sangat mencintai Musa, meluapkan kesedihan mereka untuk sesaat mereka yang ada disana tampak pilu menatap mertua dan menantu yang saling berpelukan. 


“Umi, Sitara, sudah jangan membuat Musa sedih, saat ini yang dibutuhkan oleh Musa adalah doa dari kita. Tara kamu yang sabar ya nak, Musa sangat membutuhkan doa dan dukunganmu sebagai istrinya,” nasehat Ibrahim yang membuat Sitara melerai pelukan ibu mertuanya. Matanya yang sembab karena entah sudah berapa jam menangis, membuat wajah cantik itu menjadi suram.


 Satish membawa putri tercinta nya kedalam pelukan, pria paruh baya itu tampak sedih melihat Sitara dalam keadaan seperti ini. Pooja yang tidak tahan dengan melihat situasi ini pun tenggelam dalam kesedihan. 


Ceklek!


“Keluarga pasien, siapa yang bernama Sitara?” seorang perawat muncul dari balik pintu, hal ini membuat semua orang melihat ke arah datangnya suara.


“Saya Sitara suster,” jawab Sitara. 


“Silahkan masuk, pasien memanggil anda.” ujar suster, tidak membutuhkan keterangan lebih panjang lagi Sitara langsung menerobos pintu, tidak sabar rasanya dia ingin bertemu suaminya.


“Mas, ini aku Tara…” melihat kondisi suaminya yang sangat mengerikan akibat luka bakar yang dideritanya, membuat Sitara merasakan sesak di dada, Musa yang sudah sadar, membuka matanya. “Ta-Tara, jangan se-dih,” ucap Musa terbata. bibir yang pucat itu tampak pucat. 


“Mas, yang kuat ya, aku akan selalu menemani mas disini,” balas Sitara dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sedari tadi mengembun di kelopak matamu. Musa menyentuh tangan Sitara dengan punggung tangan melepuh. “Ta-ra, mas men-cintai-mu ka-re-na Allah” Musa dengan sekuat tenaga mengatakan isi hati nya, yang ada dalam pikirannya saat ini, ingin membuat Sitara bahagia. 


“Mas, aku juga mencintai mas, bertahanlah, kita baru saja memulai perjalanan kisah kita, aku ingin mengukir banyak cerita bersamamu mas,” balas Sitra dengan suara bergetar. Ingin rasanya Sitara memeluk Musa tapi dia menahan rasa itu, karena dia tau hal itu akan menyakiti suaminya. 


Musa tersenyum getir. tiba-tiba nafas Musa tersengal dan membuat tubuhnya mengejang. “Dokter! Suami saya, tolong suami saya!” teriak Sitara panik, membuat paramedis itu berhamburan mendatangi Musa, Sitara yang memahami hal tersebut, mundur mengambil langkah mundur mencari tempat yang nyaman agar tidak mengganggu pekerjaan paramedis yang bertugas. 


Sitara sibuk merapal doa untuk kesembuhan suaminya, sekilas dia kembali teringat kebersamaan mereka semalam. Ya baru tadi malam mereka berdua menikmati madunya cinta yang halal, menyatu dalam keridhoan Illahi Robbi. Inilah kehendak Allah, dalam sekejap senyum berubah menjadi air mata ketakutan, kesedihan akan kehilangan orang yang baru saja menjadi imam dalam hidupnya. 


Sitara membeku melihat langsung suaminya yang sedang berjuang memohon kepada Allah sang penguasa kehidupan dan kematian, untuk diberikan kesempatan lebih lama lagi berada disamping Sitara. Sitara memohon kepada dokter untuk diijinkan menunggu di dalam ruangan. melihat kondisi Sitara yang sangat memprihatinkan, Dokter Pun memberikan ijinnya. 


❤️❤️❤️


Tolong dukungannya ya pemirsa, Like, komen, Vote dan hadiahnya di tunggu ya pemirsa, tengkyu 🌹